Otak Gila
Saya pikir ini pengalaman yang biasa saja bagi orang banyak, tapi cara saya merasakan mungkin yang agak sedikit enggak waras. Dulu, sewaktu masih tinggal di Padang, di pekarangan rumah lumayan luas terdapat pohon jambu yang bisa dikatakan lumayan besar. Karena kota Padang cukup panas, dedaunan dari pohon sering berjatuhan di perkarangan. Akibatnya, itu pekarangan harus sering disapu. Minimal 3 kali seminggu lah, siapapun itu.
Pernah suatu hari, sampah-sampah daun ini sangat numpuk.di depan rumah. Maklum, waktu itu orang-orang rumah seingat saya emang lagi sibuk-sibuknya dan pekarangan dibiarkan aja. Yang makin heboh dilihat oleh mata, rumput liar merajalela. Karena ribet mesti ngebakar daun-daun yang jatuh dan juga harus mencabut rumput-rumput, apalagi pekarangan rumah bisa dikatakan cukup luas, ide menarik muncul dari ibu saya. Semua sampah kami ratakan menyebar ke area rerumputan, kemudian dibakar. Karena siang lagi sibuk, malamnyalah kami bakar.
Mulai disinilah yang menurut saya kepala otak ini agak nyeleneh.
Ketika api mulai dihidupkan, saya mulai berdebar-debar. Perlahan-lahan, api mulai menyebar, karena sebelumnya minyak tanah sudah disebar ke seluruh sampah daun. Puncaknya, ketika api sudah menyebar secara keseluruhan. Di malam yang gelap dan ditemani api yang terang benderang di semua sudut bola mata, ada satu kata yang terpikirkan.
"Mantap"
"Mantap"
Dan ketika pagi datang, sewaktu melihat-lihat sisa pembakaran kemarin malam, saya seperti merasa "kehilangan".
-------
Saya udah lama dibilang gila kok ..
Saya udah lama dibilang gila kok ..
Komentar
Posting Komentar