Pidato Jokowi di Rakernas Nasional Demokrat

Setelah sekian lama, diupdate juga lah ini blog *fiuh-fiuh*. Saat ini Indonesia sedang dalam suasana menuju Pemilihan Presiden RI 2014-2019. Karena merasa kegelitik, saya ingin sedikit komentar dengan salah satu bagian proses menuju pesta demokrasi negeri ini.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebelum menceritakan isi postingan ini, saya ingin menegaskan saya bukanlah pendukung Jokowi (lebih tepatnya belum menentukan keputusan mau milih yang mana, ilmu dan pengalaman pribadi masih dangkal), dan juga bukan orang yang suka mengangkat isu SARA. Saya memakai judul dengan kata-kata "Pidato Jokowi" hanya untuk memancing orang-orang untuk membaca. Mengenai unsur SARA sendiri, saya terkadang memakai isu SARA hanya untuk orang-orang yang udah lumayan kenal dengan saya sebagai bahan candaan (jujur lho hahaha). Tapi benar-benar hanya sebatas itu.

Tapi info tentang Jokowi yang menyangkut masalah SARA yang dimuat berlebihan di dunia maya dan media, sumpah buat lemas. Sekali lagi, bukan karena saya pendukung Jokowi, yang bahkan sampai sekarang saya masih tidak terima beliau mundur dari Gubernur Jakarta. Tapi isu agama yang diangkat udah keterlaluan. Diumbar dengan cara penulisan yang tidak etis. Dan melihat cara masyarakat merespon, "astaga ....".

Kasus yang saya lihat ada 2 dan bersifat pilihan, "ini kampanye yang pintar memainkan orang atau masyarakat Indonesia sendiri yang terlalu bodoh?" Sumpah, kesal ngeliatnya dan banyak menyebar di facebook. Begitu mudahnya masyarakat dipermainkan pemikirannya. Kalau sebelum kampanye sudah begitu mudahnya dipermainkan, gimana ntar setelah pilpres? Sudah cukuplah 10 tahun dengan Presiden dari partai biru, masyarakat seperti hanya ngomong belakang, ngeluh di media sosial, tanpa ada inisiatif untuk bergerak. Jangankan untuk inisiatif, untuk berusaha mencari informasi yang bersifat "apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana" dengan benar saja, mereka gak mau.

Karena postingan saya berjudul Pidato Jokowi di Rakernas Nasdem, mari kita bicara sedikit tentang pidato beliau. Dalam Rakernas Nasdem tersebut disiarkan secara Live oleh MetroTV, Jokowi menyampaikan pidato. Sebagai info, jika "mungkin" ada yang tidak tahu, PDI-P berkoalisi dengan Nasdem. Itulah sebabnya Jokowi berpidato sebagai Calon Presiden di Rakernas Nasdem. Karena tayangannya Live dan Prabowo-Hatta sendiri sedikit kalah langkah karena belum menampilkan pidato yang ditayangkan TV, Jokowi tahu saat itu sedang menjadi pusat perhatian publik. Berikut adalah link youtube pidato Jokowi.

Dengarkan baik-baik, dan pengantar pidato beliau adalah Shalawat nabi. Telak. Menang telak. Momennya tepat, caranya juga tepat. Harus diacungin jempol komunikasi politiknya. Sekarang mari perhatikan masyarakat, seperti apa cara mereka merespon. Masih seperti orang bodoh kah? Atau saking bodohnya karena dikasih info ini langsung membelot bela Jokowi?

Sekali lagi, saya tidak untuk membuat postingan ini untuk mempengaruhi orang-orang untuk memilih Jokowi di pilpres, toh saya juga tidak suka dengan cara masyarakat memahami Prabowo, terutama memahami kasus 1998. Banyak yang harus diluruskan. Bukan fakta sejarahnya (karena saya bukan sejarawan), tapi cara berpikir masyarakat. Info nanggung-nanggung, langsung dianggap valid. Digembar-gemborkan sana sini.  Bagaimana caranya kita maju, jika kita saja bersikap sangat tidak intelek?
Biar sedikit berimbang dengan isi konten postingan saya, saya share link berikut, dari kompasiana dan youtube. 



Yang baca, ini ditonton gak?


Semoga kita benar-benar lebih cerdas menuju Pesta Besar Demokrasi Indonesia.


Komentar