"Gak Ada Laba-Labanya tuh Ma" Bocah Bandel

                Ini kejadian kira-kira 3 bulan yang lalu, tapi masih kepikiran oleh saya. Ceritanya waktu suatu malam, saya naik angkot Caheum-Ciroyom di Bandung dan ketika itu di dalamnya kondisi penumpang hampir penuh. Dan di antara penumpang itu, ada satu anak yang cukup buat saya kagum.

------
                Jadi, di sebelah saya, di bagian pojok kiri kanan angkot ada satu rombongan keluarga. Saya kira-kirain ini keluarga baru sekitar 4-6 tahun lah. Soalnya terdiri dari bapak, ibu, dan dua anak yang masih paling maksimal kira-kira berumur 2.5 tahun. Karena anak-anak mereka masih terlalu muda, jadi si bapak dan si ibu memangku anak dalam angkot. Si abang dipangku oleh si bapak, si adek yang kira-kira baru beberapa bulan dipangku si ibu. Jadi dengan melihat gambaran seperti itu, biasanya ibu atau bapak masih bersifat overprotektif atau agak gampang panikan. Bahkan, karena masih terlalu protektif, barang-barang lain yang mereka bawa dibiarkan diletakan di bawah dan jarang diperhatikan kondisinya.

                Sekarang mari kita kembali dengan anak yang buat saya kagum, seperti yang saya sebut di awal. Anak yang saya maksud adalah si abang, yang dipangku oleh si bapak. Seperti biasa anak kecil (apalagi laki-laki), terkadang agak suka seenaknya. Agak kurang mau nurut. Jadi ketika dipangku, si abang melepas sepatu sendal yang sedang dipakai dan dilempar ke lantai. Si bapak awalnya gak sadar, karena matanya menerawang ke luar jendela, alias melamun. Tapi si ibu yang duduk di seberang, melihat kelakuan si abang.
                *asumsi nama si abang adalah Fico, lupa urang euy nama aslina si abang hehe

                “Fico, kenapa dilepas sepatunya?” Si ibu sambil mengambil kembali sepatu si abang.
                Si abang gak ngejawab, hanya melihat sekilas si ibu dan melihat sepatu dipasang kembali ke kakinya. Tapi beberapa lama kemudian si abang melepas kembali, dan dibuang ke bawah.
                “Fico! Kenapa dilepas lagi?!” kata si ibu dengan agak kesal.
                Tapi si abang kembali gak ngejawab, hanya melihat si ibu sekilas dan sepatunya dipasang kembali. Tapi kali ini si abang agak melawan, ketika sepatu dipasang kembali oleh ibu. Karena ibu agak kerepotan memasang sepatu sambil memangku si adek yang sedang tidur, si bapak turut serta ngebantu. Dan sepatupun terpasang kembali, walau agak dipaksa.

                Sayangnya, sewaktu ibu dan bapak sedang tidak ngelihat, si abang melepas kembali sepatunya. Bandel emang hahaha
                “Fico!! Kenapa dilepas lagi?! Ntar kaki kamu diserang laba-laba, baru tau rasa kamu!” Si ibu, beneran kesal kali ini.
                “Ayo Fico, dipasang sepatunya ya.” Si bapak memasang kembali sepatu, mencoba agak sabar.
                Si abang bukannya melawan bapaknya, tetapi anehnya malah melihat langit-langit angkot. Sampai akhirnya dia melawan kembali dan ngomong sambil menunjuk ke langit angkot,
                “Gak ada laba-labanya. Tuh mah, tuh mah, gak ada laba-labanya. Gak ada kan? Tuuh maah”
                Hahahahahaha
                Sumpah, gak nyangka betul lah, cerdas. Gak mau dibodohi-bodohi oleh si ibu.
                Si bapak cuma tersenyum kecil dan berusaha memasang kembali sepatu si abang. Si ibu? Awalnya diam, bingung jawab apa. Tapi kalau diterusin bisa buat urusan jadi panjang dan gak jelas, si ibu memilih melihat tajam ke si abang, kalau sebenarnya ibunya sangat gak terima dengan kelakuan abang. Si abang pun agak takut kali ini. Hahahahah
                Saya? Gemes braay hahahaha
                Well, pelajarannya ambil sendiri ya. Mungkin sebelum ntar bekeluarga, ada baiknya untuk lebih sering-sering berlatih sabar. Hahaha

Oya, kalau bisa setelah ini dibaca selesai, link ini boleh dibaca. Dari web gehol zaman kini, hipwee. Kira-kira masih ada hubungannya, tentang pendidikan di Indonesia.
"Karena Kita Semua Pernah Menggambar Dua Gunung dengan Sawah dan Matahari: Bagaimana Sekolah Membunuh Bakat Kreatif Kita"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo