Mempelajari Ilmu Mencuri
Sadar bahwa ayahnya semakin tua, anak seorang pencuri berkata, "Ayah, ajarkanlah kepadaku kepandaianmu, sehingga kalau ayah berhenti bekerja saya dapat meneruskan tradisi keluarga."
Ayah itu tidak menjadwa, tetapi malam itu ia membawa anaknya ikut membobol rumah, Sesudah berada di dalam, ia membuka kamar mandi dan minta kepada anaknya untuk melihat apa yang ada di didalamnya. Segera sesudah anak itu masuk, ayah itu membanting dan mengunci pintu kamar mandi itu dengan suara keras sehingga seluruh rumah dibangunkan. Lalu ia sendiri menyelinap pergi dengan tenang.
Anak itu ketakutan di kamar mandi, marah dan bingung mencari cara untuk melarikan diri. Lalu ia mendapat akal. Ia memulai membuat suara seperti kucing. Karena itu seorang pelayan menyalakan lilin dan membuka pintu untuk mengeluarkan kucing itu. Segera sesudah pintu kamar mandi terbuka, anak itu meloncat keluar. Semua orang mengejarnya. Ketika ia melihat ada sumur di pinggir jalan, ia melemparkan batu besar ke dalamnya dan bersembunyi dalam kegelapan. Lalu ia lari pergi ketika para pengejar melihat ke dalam sumur karena mengira pencuri itu tercebut ke dalamnya.
Ketika anak itu sampai di rumah kembali, ia sudah lupa akan rasa marahnya karena sangat ingin menceritakan kisahnya. Akan tetapi ayahnya berkata, "Untuk apa menceritakan kepada saya? Engkau sekarang ada di sini. Itu cukup. Engkau sudah mewarisi kepandaianku."
***
"Doa Sang Katak 2", karangan Anthony De Mello
Ayah itu tidak menjadwa, tetapi malam itu ia membawa anaknya ikut membobol rumah, Sesudah berada di dalam, ia membuka kamar mandi dan minta kepada anaknya untuk melihat apa yang ada di didalamnya. Segera sesudah anak itu masuk, ayah itu membanting dan mengunci pintu kamar mandi itu dengan suara keras sehingga seluruh rumah dibangunkan. Lalu ia sendiri menyelinap pergi dengan tenang.
Anak itu ketakutan di kamar mandi, marah dan bingung mencari cara untuk melarikan diri. Lalu ia mendapat akal. Ia memulai membuat suara seperti kucing. Karena itu seorang pelayan menyalakan lilin dan membuka pintu untuk mengeluarkan kucing itu. Segera sesudah pintu kamar mandi terbuka, anak itu meloncat keluar. Semua orang mengejarnya. Ketika ia melihat ada sumur di pinggir jalan, ia melemparkan batu besar ke dalamnya dan bersembunyi dalam kegelapan. Lalu ia lari pergi ketika para pengejar melihat ke dalam sumur karena mengira pencuri itu tercebut ke dalamnya.
Ketika anak itu sampai di rumah kembali, ia sudah lupa akan rasa marahnya karena sangat ingin menceritakan kisahnya. Akan tetapi ayahnya berkata, "Untuk apa menceritakan kepada saya? Engkau sekarang ada di sini. Itu cukup. Engkau sudah mewarisi kepandaianku."
***
"Doa Sang Katak 2", karangan Anthony De Mello
Komentar
Posting Komentar