Positive Thinking, Is It a Must?

Akhir-akhir ini saya sering mencoba berpikir kritis tentang anggapan bahwa pemikiran harus selalu positif, jangan mengeluh.  Pada satu kondisi saya mungkin saya sepakat. Karena pemikiran positif menjaga seseorang untuk tetap bergerak. Walau ada hambatan, pemikiran ini bisa sangat membantu.
Tetapi sayangnya pada situasi kondisi lainnya, disini kita harus bertanya, pemikiran positif yang seperti apa? Kalau hanya berpikiran positif menurut pemahaman kaum orang banyak, apakah kalau berbeda pola pikir serta merta-merta akan disebut berpikir negatif?
Mari beranalogi tentang orang gila, atau mungkin disebut kelainan mental. Karena mempunyai pola pikir yang berbeda, orang gila sering terlihat terpinggirkan dalam hirarki sosial masyarakat. Karena mempunyai mentalitas yang berbeda, mereka menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda pula. Contoh, cari makan. Karena terpinggirkan dan sulit produktif menurut cara masyarakat umum, sudah biasa kita lihat mereka mencari makan di tempat makan.
Nah, here is the thing that I mean. Apakah hal tersebut serta merta disebut negatif? Karena dia tidak produktif dengan cara yang menurut orang banyak (at least kawasan urban), tapi di saat bersamaan perut dia lapar, apakah masih bisa dibilang itu negatif? Mungkin di pikiran orang yang dibilang mungkin normal, sangat negatif. Tapi menurut si orang gila ini, tentu tidak. Itu mungkin adalah hal terpositif yang bisa dia lakukan, dan setelah kenyang cukup tersenyum dengan orang yang lewat.
Dan itu baru satu hal, kenapa anggapan tentang harus selalu berpikir positif tidak bisa langsung ditelan mentah-mentah. Ada anggapan bahwa jangan selalu berpikir tentang masalah atau protes, tapi coba cari solusi. Ya istilah kerennya inovasi, atau bahkan kalau bisa invensi. Tetapi pertanyaannya adalah apa bagaimana bisa datangnya suatu solusi, ketika tidak tahu apa yang mau dicarikan solusi? Terus kalau tidak ada solusi, apakah manusia bisa berani untuk mengatakan mereka tidak berpikir positif?
Analogi lagi tentang orang gila. Andaikan dia berada di suatu komunitas dimana ekonomi semerawut, hubungan antar masyarakat memburuk, orang -orang elit politik bertengkar karena konflik kepentingan, dan fungsi lingkungan yang sudah menurun sehingga sudah sering kasih “kode” ke masyarakat. Tetapi ada satu orang, yang sebenarnya tidak mengerti situasi kondisi, dengan meyakinkan semuanya bakal aman. Sebut saja orang ini sangat berpengaruh. Dan semua orang mengangguk saja. Walau masalah itu timbul-muncul kembali, tetap semua orang mengangguk. Menurut mereka, itu sikap selalu positif, walau tak ada ruang publik yang konstruktif dan meyakinkan dalam menentukan langkah selanjutnya.
Pada saat bersamaan si orang gila ini, hanya tetap cari makan di tempat sampah, kemudian tersenyum setiap saat besoknya. Disaat orang-orang pusing semua, tetap saja dia begitu setiap hari. Dan tetap, itu hal terpositif yang bisa dilakukannya. Dia mungkin akan mengeluh ketika tidak ada lagi makanan di tempat sampah, atau bisa juga alasan yang bisa dia mengerti orang banyak. Nah salah satu solusi dia adalah cari tempat sampah lain.
Pertanyaannya adalah siapa yang lebih positif kalau seperti itu ceritanya? Masayarakat atau orang gila?
***
Saya mempunyai teman yang berkelainan mental. Namanya Nico, tinggal di kampung adat Wae Rebo, NTT. Pertama kali saya berkenalan dengan dia ketika saya pertama kali datang ke Wae Rebo dalam rangka community development yang diinisiasi teman saya dan saat itu arahnya melakukan survey, sekitar 4 tahun yang lalu. Ketika saya beberapa kali sedang mengumpulkan atau memproses data yang sudah didapat, Nico sering kali mendatangi dan melihat-lihat kerjaan saya. Dan kalau saya berusaha merespon dengan melihati atau menyapa dia, dia tersenyum atau tertawa cengengesan. Saya respon awal tentu saja tersenyum juga, tetapi tidak terlalu tertarik untuk mengajak ngobrol. Karena selain dia tidak hobi minum kopi dan merokok, obrolan pun terkadang tidak nyambung, bahkan walaupun sekedar ngobrol ngalor ngidul.
Beberapa hari dia tetap mendatengi saya, melihat-lihat, dan tertawa saja kalau saya lihat balik. Mungkin karena kurang kerjaan juga. Berbeda dengan orang berkelainan mental di daerah urban, keluarga Nico masih menjaga dia dengan memberi makan dan memandikan bahkan, walau tidak selalu. Ya walau akibatnya terkadang bau kurang sedang sedap, mungkin mandinya kurang bersih, tapi yang pasti adalah dia tidak perlu mencari makan di tempat sampah.
Beberapa tahun kemudian, ketika posisi saya sedang tidak di Waerebo, tiba-tiba Nico membacok punggung anak berusia di bawah 5 tahun, dengan golok. Syukurnya anak ini hanya perlu dirawat, tetapi jejak di punggungnya saya sentuh sangat terasa walau tidak buku baju.  Tidak ada satupun orang yang mengerti kenapa dia melakukan hal ini. Keluarga Nico pun ketika bercerita hanya mengatakan bahwa hanya mendapat mimpi buruk malam sebelumnya.
Si Nico, melihat-lihat kerjaan saya
Ketika datang kembali ke Waerebo pada tahun 2014, karena beberapa hari disana saya penasaran tidak bertemu Nico, saya pun berkunjung ke rumahnya. Ternyata dia sedang dipasung oleh keluarganya di bagian dalam rumah. Dan ketika bertemu saya, dia tetap tersenyum atau tertawa yang tak saya mengerti alasannya. Air mukanya sedikit berubah ketika keluarganya bercerita kepada saya dengan sedikit bersedih. Tetapi setelah itu, kembali tetap seperti biasa, tetapi kali ini dalam keadaan terpasung.
Mari berpikir kritis, Nico selalu berpikir positif atau bukan?
***
Sepertinya saya sedang memutar-mutar logika. Mungkin memang benar. Kadang tanpa sadar saya senang memutar balikkan logika yang sudah ada, bahkan logika saya sendiri, akibatnya kadang pusing sendiri. hahah
Tapi maksud saya seperti ini. Pada atom, terdapat muatan positif dan muatan negatif. Dalam keadaan normal, atom selalu dalam keadaan netral. Dalam arti kata jumlah negatif dan positif selalu sama. Kita tidak bisa mengabaikan muatan positif, karena dia yang menentukan sifat atau unsur kimianya. Begitupun atom atom negatif tidak serta merta diabaikan, karena elektron yang membentuk ikatan dengan ion lainnya adalah elektron atau dilepaskan ketika kelebihan muatan.
Jika berbeda jumlah, atom akan berbentuk ion. Ada dua pilihan ketika berbentuk ion, yaitu melepaskan muatan positif atau negatif, atau membentuk ikatan dalam molekul dengan ion lainnya.
Inilah maksud tulisan ini. Keseimbangan. Ketika pada kondisi sedang banyaknya hal yang sangat negatif, pentingnya untuk berpikir positif. Tetapi saat terlihat terlalu lancar, sebagai manusia harusnya lebih sadar, bahwa kondisi sebenarnya nya tidak seperti yang terlihat. Banyak fakta sejarah yang berbicara akan hal tersebut, bahkan menghancurkan peradaban yang paling termahsyur pada masanya sekalipun.
Atau kita bisa melihatnya seperti ini. Pikiran positif berguna untuk melihat kembali nilai-nilai yang sudah ada atau menjaganya. Tetapi pikiran negatif lah yang membuat kita untuk kritis dalam melihat keadaan. Ketika mungkin terlau berlebih, kita mungkin harus melepas beberapa hal yang membuat hal keadaan negatif. Atau pada suatu hal, keadan negatif itulah yang harus mengingatkan kita untuk melihat lagi hubungan antar manusia.
Karena pada negatif, sikap kritis kita terjaga. Bisa lebih melihat keadaan orang-orang yang termarjinalkan oleh peradaban. Revolusi Prancis, Revolusi Amerika, kegagalan kerajaan Mongol menguasai tanah Jawa, dan lain-lainnya adalah sejarah yang menceritakan pentingnya pemikiran negatif. Bahkan Nabi pun sebelum bersemedi di gua Hira, pikirannya selalu penuh dengan kegelisahan akibat kesewenang-wenangan pennguasa suku quraisy.
Memang normal setiap orang ingin selalu dalam keadaan positif. Tapi bagaimana jika hal itu yang membuat kita terbuai, sehingga tidak melakukan suatu pergerakan? Itupun jika situasi dan kondisinya bisa dihindari. Bagaimana jika tidak, seperti anak-anak pelacur di kawasan Dolly, yang tertekan ketika remajanya karena tidak mengetahui siapa bapaknya. Dari lahirpun dia tidak minta ingin dilahirkan di lahir pelacur.
Kang Emil yang sepertinya terbuai dengan kenyamanan
Saya tidak mengatakan bahwa dunia ini abu-abu, tetapi jika manusia terbiasa datang dengan memahami, maka disana baru terlihat mana yang hitam dan mana yang putih. Karena pemisahan moral yang salah dan benar adalah pasti. Tetapi jika tidak memahami konteks, manusia akan sering tertelan dalam standar ganda.
Seorang nenek mungkin memang melanggar hukum karena mengambil beberapa batang kayu (atau bahkan ranting) di hutan yang dilindungi. Tetapi jika itu adalah cara dia menjaga hidupnya dan juga tidak mengerti akan hukum, masihkah adil menempatkan beliau di penjara?
Saya ingin mengatakan, bahwa dunia ini adalah keseimbangan.
***
Ada organisasi atau negara, yang menerapkan hal ini, yaitu agen M0ss4d. Awal saya mengetahui tentang hal ini di film World War Z, dan dalam film ini mereka menyebutkan istilah The Tenth Man. Ketika saya telusuri tentang hal ini di Google, ternyata hampir semua bagian kepemerintahan sudah menerapkan tentang hal ini. Walau istilah sebenarnya tidak The Tenth Man, tetapi Intelligence Control Division.
Walau namanya berbeda, tetapi secara prinsip pada dasarnya sama. Singkatnya, jika dalam 10 orang, 9 orang berkata A, maka 1 orang harus berkata B, terlepas masalah baik dan buruk. Begitupun sebaliknya, ketika hampir semua berbicara B, harus ada 1 orang yang berbicara A.

Kalau manusia ingin membasmi sistem Zionis yang sepertinya tidak tersentuh oleh hukum internasional, setidaknya cobalah untuk memahami hal ini.

(*JIka yang membaca merasa saya terlalu vulgar bercerita tentang Nico, tolong bilang ya. Saya butuh pendapat, karena saya sendiri agak menimbang-nimbang.)

Komentar

Posting Komentar