Egaliterisme Luffy itu Absurd, Kapten!
Kira - kira sejak awal kuliah, saya sempat mulai mengurangi mengikuti baca-baca manga atau semacamnya. Ada beberapa hal penyebab, seperti belum terbiasa dengan kesibukan kuliah atau organisasi, beberapa anime yang terlalu banyak gampang ditebak alurnya dan kebanyak perang-perang yang sayangnya kurang dalam plot twistnya, atau juga karena mulai lebih sering membaca novel atau buku yang proses penulisannya sangat memikirkan metodologi pengumpulan data, sebelum mengarah ke kesimpulan berdasarkan data yang ditemukan penulis. Atau juga karena intrik politik dan sejarah yang terkadang lebih menarik untuk diikuti. Intinya, as a food for thought, anime atau manga sempat kehilangan pesonanya bagi saya pribadi, meskipun manga yang sudah saya ikuti bertahun-tahun semacam Naruto, Bleach, dan One Piece.
Sekitar akhir tingkat 3, saya mulai dikenalkan oleh teman dengan judul-judul manga yang lain. Seperti, Homonculus, yang menceritakan penilitian untuk eksplorasi psikologi manusia secara saintifik, tetapi berbenturan dengan pengalaman dan harapan orang yang dijadikan sebagai objek penilitian. Atau juga Giant Killing, manga tentang sepak bola yang tokoh utamanya kali ini adalah pelatih, tetapi tidak mengesampingkan sekitarnya, seperti pemain, persaingan kompetisi, tim nasional, manajemen dan bisnis klub, serta sejarah. Atau juga Planetes, yang berfokus tentang filosofi manusia ketika teknologi semakin maju dan eksplorasi alam semesta semakin memungkinkan. Dan yang masih sangat menarik bagi saya sampai sekarang meskipun sudah tamat adalah A Spirit of The Sun, yang berfokus pada hari-hari setelah negara Jepang terbelah dua akibat bencana besar gempa bumi dan tsunami di sekitar gunung Fuji, sehingga langkah-langkah politik internal dan eksternal, riset dan pembangunan infrastruktur yang berpacu dengan waktu akibat kelaparan dimana-mana, stabilitas ekonomi, serta socio-culture yang ambur radul akibat perubahan yang bergerak setiap saat sangat menantang untuk dibaca.
Tetapi, manga One Piece, yang dikarang oleh Eiichiro Oda, menarik saya kembali untuk membacanya. Memang pada awalnya, saya tetap merasa bahwa alur yang diuraikan terlalu mudah ditebak, dimana-mana pertarungan dimana-mana dengan jurus-jurus yang di luar nalar, dengan tokoh utama yang sedikit sulit dipahami karena terlihat bodoh. Sepertinya hal tersebut adalah case biasa di manga yang mempunyai penjualan cukup tinggi, meskipun saya sempat kehilangan minat. Kondisi pasar menuntutnya seperti itu.
Tetapi, ketika diikuti kembali, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya kembali. Hal ini juga berhubungan tingkat pemahaman saya akan sudut pandang lain. Pertama adalah tentang sejarah yang hilang. Sebagaimana digambarkan oleh Oda, sejarah yang hilang, atau lebih tepatnya "dipaksakan hilang", telah mengubah alur sejarah dan politik dunia. Serasa familiar bagi saya, apalagi kalau dari sekitar, saya mencoba berkata dari kejadian tahun 1965 di Indonesia.
Atau juga seperti relasi kekuasaan dan dunia bawah tanah, dimana-mana selama ini saya sering memahami seperti dunia yang begitu terpisah secara moral. Tetapi digambarkan, dalam kenyataan (walaupun dalam konteks ini tentang cerita di One Piece), justru seringkali tanpa diketahui dan disadari, mereka yang berada di masing-masing dunia tersebut, seringkali terhubung. Kalaupun tidak terhubung langsung, saya juga dapat kesan seperti hukum karma bekerja disini, dimana sangat mungkin, dunia bawah tanah muncul akibat proses kekuasaan, ataupun bahkan sebaliknya.
Hal ini yang membuat saya begitu menyukai karakter Kuzan Aokiji. Sebagai seseorang yang mempunyai kesan sebagai pemalas di Angkatan Laut, tetapi Aokiji bukanlah orang yang menggampangkan diri untuk meninggalkan tanggung jawab yang sudah dipilihnya. Apalagi, Angkatan Laut yang sangat mengedepankan Justice sebagai motor penggerak pasukan, dan Aokiji tidak ingin mengabaikan hal tersebut. Tetapi di tengah jalan, konsep yang Aokiji dapat selama berada di Angkatan sering berbenturan dengan fakta di lapangan, seperti ketika penyerbuan secara massive pulau Ohara, dimana pulau sangat terkenal dengan Tree of Knowledge. Puncak pergelutan pikiran Aokiji saya rasa adalah ketika dia tidak ambisius untuk menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Laut, tetapi tidak terima dengan Akainu, koleganya di Angkatan Laut, untuk dipilih. Aokiji tidak terima konsep keadilan diperintahkan oleh orang yang melihatnya hanya berdasarkan hitam dan putih. Sehingga keputusan pemilihan pemimpin dipilih dengan cara Aokiji bertarung dengan Akainu, dan yang menang akan jadi pemimpin. Aokiji kalah, dan Akainu terpilih.
Setelah pertarungan tersebut, Aokiji mengambil langkah lanjutan, dengan bergabung ke kelompok bajak laut yang terkenal karena berkembang sangat pesat, tetapi sangat licik, yaitu Kurohige. Sampai saya menulis artikel ini, tidak ada yang mengetahui secara pasti apa tujuan Aokiji bergabung dengan Kurohige. Terlalu banyak kemungkinan yang dipikirkan One Piece lover, dan sepertinya hal itu dibiarkan Oda. Tapi bagi saya pribadi, saya sangat yakin Aokiji sedang eksperimen langsung akan segala macam keraguan dia tentang Justice.
Ada hal lain yang menarik perhatian saya, yaitu tokoh utamanya sendiri, Monkey D. Luffy. Pandangan saya tentang tokoh utama yang bodoh yang punya self-grit to push more himself tidak berubah. Tetapi hal yang baru saya pahami beberapa tahun setelahnya, membuat saya tertarik untuk membaca One Piece kembali. Seenggaknya, berkaitan dengan konteks.
Dengan menjadi bodoh, kadang Luffy memang digambarkan tidak menimbang banyak situasi kondisi. Atau kalaupun mengukur keuntungan pribadi yang didapat, Luffy hanya berpikir makanan enak apa yang bakal dia peroleh. Akibat bodoh juga, dia akan gampang untuk mengambil keputusan yang dihindari oleh orang banyak. Dengan menjadi bodoh juga, dia sering dapat melihat sisi yang tidak terperhatikan.
Yang lebih menarik perhatian saya dengan kebodohannya adalah, dia bisa mendorong orang-orang yang bisa melihat situasi dan kondisi untuk menjaga Luffy agar tidak kelewat batas. Hal ini sangat antitesa dari konsep kepimimpinan yang selama ini saya dapatkan, yaitu dimana sekelompok kambing akan menjadi singa ketika dipimpin oleh seekor singa. Tetapi jika sekelompok singa dipimpin oleh kambing, seluruh singa akan menjadi kambing. Yang terjadi di dalam crew Topi Jerami adalah dengan karakter kepemimpinan Luffy, setiap orang bisa menjadi diri sendiri, tanpa melewati batas yang disampaikan oleh Luffy secara tidak langsung.
Bagi saya pribadi, kepemimpinan seperti itu bisa dilaksanakan dalam kelompok kecil, tetapi dalam skala besar, hal tersebut sangat sulit mengarah mustahil. Tetapi Oda menggambarkan di manga, hal itu memungkinkan. Sehingga, mengenai One Piece ini sering mengambilkan kesimpulan, dibanding jurus-jurusnya yang sering digambarkan sangat fiksi, seperti jurus mengeluarkan api, larva, atau petir dari berbagai macam, atau manipulasi cuaca, atau mengubah tubuh menjadi lentur seperti karet, bagi saya karakter leadership Luffy ini lebih absurd bagi saya.
Tapi absurditas ini sesungguhnya mendorong saya untuk dapat berharap dengan dunia yang lebih egaliter tanpa melupakan batas yang telah disepakati.
Tetapi, manga One Piece, yang dikarang oleh Eiichiro Oda, menarik saya kembali untuk membacanya. Memang pada awalnya, saya tetap merasa bahwa alur yang diuraikan terlalu mudah ditebak, dimana-mana pertarungan dimana-mana dengan jurus-jurus yang di luar nalar, dengan tokoh utama yang sedikit sulit dipahami karena terlihat bodoh. Sepertinya hal tersebut adalah case biasa di manga yang mempunyai penjualan cukup tinggi, meskipun saya sempat kehilangan minat. Kondisi pasar menuntutnya seperti itu.
Tetapi, ketika diikuti kembali, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya kembali. Hal ini juga berhubungan tingkat pemahaman saya akan sudut pandang lain. Pertama adalah tentang sejarah yang hilang. Sebagaimana digambarkan oleh Oda, sejarah yang hilang, atau lebih tepatnya "dipaksakan hilang", telah mengubah alur sejarah dan politik dunia. Serasa familiar bagi saya, apalagi kalau dari sekitar, saya mencoba berkata dari kejadian tahun 1965 di Indonesia.
Atau juga seperti relasi kekuasaan dan dunia bawah tanah, dimana-mana selama ini saya sering memahami seperti dunia yang begitu terpisah secara moral. Tetapi digambarkan, dalam kenyataan (walaupun dalam konteks ini tentang cerita di One Piece), justru seringkali tanpa diketahui dan disadari, mereka yang berada di masing-masing dunia tersebut, seringkali terhubung. Kalaupun tidak terhubung langsung, saya juga dapat kesan seperti hukum karma bekerja disini, dimana sangat mungkin, dunia bawah tanah muncul akibat proses kekuasaan, ataupun bahkan sebaliknya.
Hal ini yang membuat saya begitu menyukai karakter Kuzan Aokiji. Sebagai seseorang yang mempunyai kesan sebagai pemalas di Angkatan Laut, tetapi Aokiji bukanlah orang yang menggampangkan diri untuk meninggalkan tanggung jawab yang sudah dipilihnya. Apalagi, Angkatan Laut yang sangat mengedepankan Justice sebagai motor penggerak pasukan, dan Aokiji tidak ingin mengabaikan hal tersebut. Tetapi di tengah jalan, konsep yang Aokiji dapat selama berada di Angkatan sering berbenturan dengan fakta di lapangan, seperti ketika penyerbuan secara massive pulau Ohara, dimana pulau sangat terkenal dengan Tree of Knowledge. Puncak pergelutan pikiran Aokiji saya rasa adalah ketika dia tidak ambisius untuk menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Laut, tetapi tidak terima dengan Akainu, koleganya di Angkatan Laut, untuk dipilih. Aokiji tidak terima konsep keadilan diperintahkan oleh orang yang melihatnya hanya berdasarkan hitam dan putih. Sehingga keputusan pemilihan pemimpin dipilih dengan cara Aokiji bertarung dengan Akainu, dan yang menang akan jadi pemimpin. Aokiji kalah, dan Akainu terpilih.
Setelah pertarungan tersebut, Aokiji mengambil langkah lanjutan, dengan bergabung ke kelompok bajak laut yang terkenal karena berkembang sangat pesat, tetapi sangat licik, yaitu Kurohige. Sampai saya menulis artikel ini, tidak ada yang mengetahui secara pasti apa tujuan Aokiji bergabung dengan Kurohige. Terlalu banyak kemungkinan yang dipikirkan One Piece lover, dan sepertinya hal itu dibiarkan Oda. Tapi bagi saya pribadi, saya sangat yakin Aokiji sedang eksperimen langsung akan segala macam keraguan dia tentang Justice.
Ada hal lain yang menarik perhatian saya, yaitu tokoh utamanya sendiri, Monkey D. Luffy. Pandangan saya tentang tokoh utama yang bodoh yang punya self-grit to push more himself tidak berubah. Tetapi hal yang baru saya pahami beberapa tahun setelahnya, membuat saya tertarik untuk membaca One Piece kembali. Seenggaknya, berkaitan dengan konteks.
Dengan menjadi bodoh, kadang Luffy memang digambarkan tidak menimbang banyak situasi kondisi. Atau kalaupun mengukur keuntungan pribadi yang didapat, Luffy hanya berpikir makanan enak apa yang bakal dia peroleh. Akibat bodoh juga, dia akan gampang untuk mengambil keputusan yang dihindari oleh orang banyak. Dengan menjadi bodoh juga, dia sering dapat melihat sisi yang tidak terperhatikan.
Salah satu kebodohan Luffy
Yang lebih menarik perhatian saya dengan kebodohannya adalah, dia bisa mendorong orang-orang yang bisa melihat situasi dan kondisi untuk menjaga Luffy agar tidak kelewat batas. Hal ini sangat antitesa dari konsep kepimimpinan yang selama ini saya dapatkan, yaitu dimana sekelompok kambing akan menjadi singa ketika dipimpin oleh seekor singa. Tetapi jika sekelompok singa dipimpin oleh kambing, seluruh singa akan menjadi kambing. Yang terjadi di dalam crew Topi Jerami adalah dengan karakter kepemimpinan Luffy, setiap orang bisa menjadi diri sendiri, tanpa melewati batas yang disampaikan oleh Luffy secara tidak langsung.
Bagi saya pribadi, kepemimpinan seperti itu bisa dilaksanakan dalam kelompok kecil, tetapi dalam skala besar, hal tersebut sangat sulit mengarah mustahil. Tetapi Oda menggambarkan di manga, hal itu memungkinkan. Sehingga, mengenai One Piece ini sering mengambilkan kesimpulan, dibanding jurus-jurusnya yang sering digambarkan sangat fiksi, seperti jurus mengeluarkan api, larva, atau petir dari berbagai macam, atau manipulasi cuaca, atau mengubah tubuh menjadi lentur seperti karet, bagi saya karakter leadership Luffy ini lebih absurd bagi saya.
Tapi absurditas ini sesungguhnya mendorong saya untuk dapat berharap dengan dunia yang lebih egaliter tanpa melupakan batas yang telah disepakati.
Komentar
Posting Komentar