Sebuah Keputusan
Dalam hidup, akan ada banyak hal keputusan yang dilakukan. Dan dalam setiap keputusan tersebut, akan ada banyak efek positif dan negatif yang akan terjadi. Baik efek saat itu, maupun beberapa lama setelahnya.
Saya tentunya sudah mengetahui hal tersebut sejak lama. Apalagi sejak akhir SD, saya sudah tergila-gila baca buku sejarah, hingga sekarang. Saya tentunya sudah juga melakukan banyak keputusan. Baik keputusan pribadi, maupun juga untuk orang lain. Keputusan tersebut ada berbagai macam pula bentuknya. Ada yang seperti keputusan yang gampang dipahami, keputusan yang sulit diterima, atau berbagai keputusan yang mengarahkan saya menjadi orang yang sulit dipahami.
Baik atau buruknya keputusan-keputusan yang sudah lewat, saya jarang menyesalinya. Saya adalah orang yang sejak dulu terbiasa yakin dengan pandangan sendiri. Entah apa yang mendorong saya bersikap seperti itu sejak dulu, saya sebenarnya juga tidak terlalu paham.
Malam ini, di saat kepala sedang linglung karena ketiduran nonton bola dan terbangun dengan kondisi tidak ngerti arah pertandingan Wolves vs Everton, entah dasar dorongan apa saya membuka album foto ibu sejak kecil hingga dewasa yang berada di lemari sebelah tempat duduk. Terpikirkan lah benak beberapa efek samping dari beberapa keputusan.
Pendirian pada dasarnya tidak terlalu berubah. Tentu pernah ada masa-masanya sangat menyesalinya, tetapi itupun sepertinya karena memang masa sulit atau memang pikiran lagi tidak rileks. Tapi bagaimana ceritanya kita bisa sangat begitu mengabaikan hal-hal efek samping tersebut? Saya tidak mengatakan bahwa saya adalah orang yang begitu peduli dengan orang lain, apapun baik atau buruknya sifat orang-orang terkait. Tetapi saya hanya merasa apapun yang telah terjadi, saya tetaplah manusia normal.
Jika ada orang atau test intellegensi yang menyebutkan saya orang cerdas, jujurlah bahwa sesungguhnya, sering kali saya tidak menyukai fakta tersebut. Tetapi sayangnya, andaikan mengambil sikap keras tidak menyukai hal tersebut, tidak banyak hal yang bisa dilakukan. Mungkin saja jika pemahaman manusia tentang apa itu kecerdasan benar dan berlaku ke saya, saya kira itu sudah ketentuan Tuhan lewat alam yang diciptakan-Nya. Jadi, dengan pemahaman ini, saya pikir keputusan untuk tak pernah menyesali keputusan yang sudah lewat adalah keputusan yang sudah benar.
Tetapi, kembali ke pertanyaan sebelumnya, bisakah saya mengabaikan efek-efek samping yang sudah saya lakukan? Tidak bisa seluruhnya. Harus dipertegas lagi, pada dasarnya saya tetaplah manusia normal. Dan kali ini sepertinya perasaan saya yang berkata seperti itu. Walaupun saya begitu mengagumi konsep Yin-Yang. Walaupun saya agak terpengaruh dengan karakter Jocker di film "Batman : The Dark Knight". Tetapi tetap saja, mengabaikan perasaan hanya membunuh diri pribadi dari dalam.
Jadi, beginilah kesimpulannya : andaikan saya tidak menjelaskan keputusan-keputusan yang telah dilakukan, maafkan saya, tidak selalu itu berarti saya tidak peduli arti keberadaan sekitar. Tidak hanya menghabiskan waktu dan energi untuk menjelaskannya, tapi jawabannya sudah jelas. Saya tidak bisa menyesali kesalahan keputusan yang telah dilakukan. Hal maksimal yang bisa dilakukan saya berusaha mengganti efek samping di masa depan.
Oleh karena itu, sebagai manusia normal, saya hanya bisa meminta maaf.
Saya tentunya sudah mengetahui hal tersebut sejak lama. Apalagi sejak akhir SD, saya sudah tergila-gila baca buku sejarah, hingga sekarang. Saya tentunya sudah juga melakukan banyak keputusan. Baik keputusan pribadi, maupun juga untuk orang lain. Keputusan tersebut ada berbagai macam pula bentuknya. Ada yang seperti keputusan yang gampang dipahami, keputusan yang sulit diterima, atau berbagai keputusan yang mengarahkan saya menjadi orang yang sulit dipahami.
Baik atau buruknya keputusan-keputusan yang sudah lewat, saya jarang menyesalinya. Saya adalah orang yang sejak dulu terbiasa yakin dengan pandangan sendiri. Entah apa yang mendorong saya bersikap seperti itu sejak dulu, saya sebenarnya juga tidak terlalu paham.
Malam ini, di saat kepala sedang linglung karena ketiduran nonton bola dan terbangun dengan kondisi tidak ngerti arah pertandingan Wolves vs Everton, entah dasar dorongan apa saya membuka album foto ibu sejak kecil hingga dewasa yang berada di lemari sebelah tempat duduk. Terpikirkan lah benak beberapa efek samping dari beberapa keputusan.
Pendirian pada dasarnya tidak terlalu berubah. Tentu pernah ada masa-masanya sangat menyesalinya, tetapi itupun sepertinya karena memang masa sulit atau memang pikiran lagi tidak rileks. Tapi bagaimana ceritanya kita bisa sangat begitu mengabaikan hal-hal efek samping tersebut? Saya tidak mengatakan bahwa saya adalah orang yang begitu peduli dengan orang lain, apapun baik atau buruknya sifat orang-orang terkait. Tetapi saya hanya merasa apapun yang telah terjadi, saya tetaplah manusia normal.
Jika ada orang atau test intellegensi yang menyebutkan saya orang cerdas, jujurlah bahwa sesungguhnya, sering kali saya tidak menyukai fakta tersebut. Tetapi sayangnya, andaikan mengambil sikap keras tidak menyukai hal tersebut, tidak banyak hal yang bisa dilakukan. Mungkin saja jika pemahaman manusia tentang apa itu kecerdasan benar dan berlaku ke saya, saya kira itu sudah ketentuan Tuhan lewat alam yang diciptakan-Nya. Jadi, dengan pemahaman ini, saya pikir keputusan untuk tak pernah menyesali keputusan yang sudah lewat adalah keputusan yang sudah benar.
Tetapi, kembali ke pertanyaan sebelumnya, bisakah saya mengabaikan efek-efek samping yang sudah saya lakukan? Tidak bisa seluruhnya. Harus dipertegas lagi, pada dasarnya saya tetaplah manusia normal. Dan kali ini sepertinya perasaan saya yang berkata seperti itu. Walaupun saya begitu mengagumi konsep Yin-Yang. Walaupun saya agak terpengaruh dengan karakter Jocker di film "Batman : The Dark Knight". Tetapi tetap saja, mengabaikan perasaan hanya membunuh diri pribadi dari dalam.
Jadi, beginilah kesimpulannya : andaikan saya tidak menjelaskan keputusan-keputusan yang telah dilakukan, maafkan saya, tidak selalu itu berarti saya tidak peduli arti keberadaan sekitar. Tidak hanya menghabiskan waktu dan energi untuk menjelaskannya, tapi jawabannya sudah jelas. Saya tidak bisa menyesali kesalahan keputusan yang telah dilakukan. Hal maksimal yang bisa dilakukan saya berusaha mengganti efek samping di masa depan.
Oleh karena itu, sebagai manusia normal, saya hanya bisa meminta maaf.
Komentar
Posting Komentar