Basket Indonesia pun Serba Jakarta
Ada keresahan tersendiri sebelum final liga basket profesional Indonesia IBL tahun ini akan digelar kembali di akhir minggu ini. Bahwa ternyata, meskipun kualitas pelatih dan pemain lebih merata ke daerah lain, tidak hanya Jakarta, tetapi pada akhirnya, tim yang akan berhadapan di final tetaplah berasal dari Jakarta. Sejak Aspac bubar, sudah semacam keniscayaan final akan diisi oleh Satria Muda dan Pelita Jaya.
Pikiran ini menguak ketika di tengah pertandingan kedua semifinal antara Prawira melawan Satria Muda berlangsung di Bandung hari minggu lalu. Prawira Bandung yang diunggulkan dengan kualitas pemainnya lebih baik, skema permainan yang variatif , dan menjadi tuan rumah, sudah harus babak belur, jauh sebelum pertandingan berakhir. Pertanyaannya yang kebuka adalah, sejauh apa ini hanya persoalan teknis di lapangan.
Olahraga basket adalah salah satu cabang yang padat modal. Dasar argumen tersebut adalah dinilai dari hak sepatu yang lumayan tebal, bola yang lebih besar dan berkulit tebal, dan instalasi ring dan lapangan yang tidak murah. Sehingga, tidak mudah mendorong basket menjadi suatu budaya dalam kebermasyarakatan, terutama di Indonesia, dimana sepakbola, badminton, dan voli merupakan olahraga yang lebih populer sampai tingkat akar rumput. Tak salah akibatnya, basket kebanyakan dimainkan di Jakarta, baik secara lapangan, akademi, atau pembiayaan investasi tim hingga tingkat amatir.
Persoalannya, kesadaran ini sudah dipahami oleh banyak orang. Semangatnya yang menguak adalah bagaimana caranya hegemoni Jakarta ini berkurang si tataran kompetisi profesional tertinggi di Indonesia. Pertanyaannya, persoalan apa yang paling krusial untuk diajukan. Apakah sekedar modal tidak sekuat Jakarta? Fundamental yang lebih baik di akademi Jakarta? Infrastruktur yang lebih baik di Jakarta? Atau, jangan-jangan level kompetitif yang lebih baik di Jakarta?
Disinilah letak kefrustasian saya yang muncul, ketika Abraham Damar Grahita, pemain terbaik di Indonesia yang sedang bermain di Prawira dan wonderkid Yudha tidak bisa berbuat banyak dalam dua pertandingan melawan Satria Muda. Saya tidak tahu, apa yang menjadi prioritas persoalan. Lebih dari itu, secara personal, saya sudah bosan di tingkat negara ini, apapun harus serba Jakarta. Jiwa sentralistik ini pun terlihat di olahraga semacam basket yang bahkan tidak termasuk hitungan populer di Indonesia.
Memangnya daerah lain cuma sebagai penghibur dan meramaikan aja? Enggak kan?
Komentar
Posting Komentar