[Catatan] Pembangunan Ulang PKL di Dayang Sumbi


          Hari ini, 5 Februari 2013 mungkin bakal jadi hari paling bersejarah bagi setiap pedagang PKL Dayang Sumbi. Awan gelap dan disertai hujan lebat yang datang sejak siang hari tidak menghalangi semangat untuk tetap hidup sekelompok kecil masyarakat. Pada hari itu, mereka melakukan syukuran atas pembangunan ulang tempat jualan mereka di Dayang Sumbi. “Pembangunan Ulang”? Iya, karena tempat jualan mereka sebelumnya sudah digusur karena tempat tersebut tergolong zona merah menurut Perda Bandung. Dengan alasan mempertahankan hidup, mereka bangun ulang kembali yang sudah digusur dengan desain tempat jualan yang baru dibantu oleh mahasiswa FSRD ITB.
           Menarik. Semacam keberanian perlawanan terhadap yang lebih mempunyai kuasa dengan alasan yang sangat manusia, kebutuhan mempertahankan hidup. Bahkan para pedagang dengan lantang mengklaim daerah Dayang Sumbi tempat meraka jualan selama ini bukan “Zona Merah”, tapi “Zona Rakyat”. Selain itu mereka sendiri membuat badan pengurus PKL Dayang Sumbi. Hmm

Ada beberapa catatan pribadi Saya tentang kasus PKL Dayang Sumbi ini.
1. Anak FSRD memang beda dengan anak ITB pada umumnya.
        Mungkin udah pada tahu, kalau apa yang dipikirkan anak FSRD biasanya suka ngelenceng dengan apa yang dipikirkan anak teknik. Maklum saja, apa yang dipelajari anak teknik selama kuliah berbeda dengan apa yang dipelajari anak FSRD yang lebih menitik beratkan otak kanan. Bahkan dalam dinamika kampus, hal-hal yang dilakukan anak-anak FSRD sering suka lain sendiri.
Tidak salah, malah bagus kalau menurut Saya. Menjaga keseimbangan kampus. Mau hidup normal-normal terlalu teratur dengan peraturan? Saya ogah. Kebijakan kampus yang sudah enggak merakyat lagi tapi bersifat industri ini perlu FSRD yang punya pandangan berbeda. Enggak hanya mahasiswanya, dosen-dosennya juga begitu.
         Dan inilah yang terlihat pada pembangunan kembali PKL Dayang Sumbi. Dari sekian banyak anak teknik di kampus, berapa orangkah yang setidaknya sedikit memperhatikan atau ngobrol-ngobrol dengan PKL? Enggak banyak. Terus gimana dengan anak FSRD? Mereka memberikan desain kepada PKL. Desainnya bahkan enggak sembarangan, bagus secara kualitas di mata dan di uang para PKL.  Desainnya menggunakan bahan bambu.
2. “Hal yang paling menakutkan dari umur yang bertambah, pengalaman hidup yang akan membenarkan sesuatu yang seharusnya salah.”
         Siapa yang kira-kira dimaksud dalam kutipan di atas? Pihak kampus? PKL? Atau Pemerintah? Semuanya menurut saya. Alasan??
Kampus ITB : Dengan alasan kebersihan dan kerapian, mereka dengan seenaknya menggusur PKL. Kenapa seenaknya? Karena mereka tidak ada diskusi sebelumnya dengan para PKL dan tidak memberikan solusi. Ketika PKL ingin membuat forum dengan kampus dan pemerintah mengenai kejelasan, mereka selalu menolak untuk datang. Pihak kampus memang pernah melakukan diskusi 2 kali dengan PKL, tapi topik yang mereka bawa hanya yang menurut mereka benar, tanpa diberikan kesempatan kepada PKL untuk mengutarakan apa yang terjadi pada mereka.
Pemerintah : Tidak jauh beda dengan pihak kampus ITB, bahkan mungkin lebih parah. Selain berperan langsung dalam penggusuran, mereka tidak ada menyelesaikan kasus pungutan liar kepada PKL yang mengaku sebagai Satpol PP.
PKL : Dengan alasan mempertahankan kehidupan, juga bukan hal yang tepat untuk melanggar peraturan dan merusak keindahan. Siang hari di kawasan tersebut, sudah merupakan hal biasa sampah berserakan dimana-mana. PKL sudah jelas adalah pihak yang salah.
3. Saya masih ada waktu untuk membantu PKL Dayang Sumbi, dan juga PKL bagian sekitar kampus.
           Saya adalah bagian Satgas Penataan PKL ITB di kampus ini, dan saya merasa gagal karena merasa kecolongan PKL digusur duluan. Saya merasa tidak terlalu terlibat. Saya enggak mau menyalahkan kesibukan saya, tapi otak saya yang saya sadari tidak bisa fokus ikut menangani masalah ini. Kerja saya selama ini hanya mengajak ngobrol beberapa orang PKL dan memberikan pandangan kepada anggota Satgas yang lain.
Tapi karena PKL yang di bagian Dayang Sumbi telah dibangun lagi dengan ancaman yang lebih besar, dan PKL di bagian daerah lainnya juga mesti diawasi perkembangannya, mudah-mudahan Saya selalu siap untuk menolong. InsyaAllah. Mudah-mudah Gusti Allah merestui.

           Akhir kata,  masalah ini hanya bisa diselesaikan dengan komunikasi dan diskusi, jangan ada yang bersifat sepihak. Sekian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo