Cara Belajar

Ketika tulisan ini dituliskan, tanggal menunjukkan pada 16 Juni 2014. Sesuai jadwal FIFA, tanggal ini adalah kisaran tanggal dimana merebaknya virus World Cup. Dan gw gak mau ketinggalan untuk gak ikutan demam. haha. Tapi tulisan ini bukan bercerita tentang World Cup, tapi mau cerita sedikit dengan cara belajar gw selama ini. Tentang World Cup maah, Italia maah bakal juara itu ntar. Asek

Kalau dipikir2, proses belajar gw banyak dimulai karna memahami seluk beluk sepakbola. Sepakbola bukan sesimpel 22 orang ngerebutin 1 bola, kemudian masukin ke gawang, dan "gol". Untuk mencapai tahap yang disebut dengan "gol", butuh proses yang harus dilalui. Ya terserah pelatih dan playmakernya mau proses seperti apa. Dan jangan lupakan, ada orang-orang yang tidak kelihatan di TV, tapi mungkin orang2 tersebut yang paling berpengaruh untuk mencapai kondisi "gol". dan belum lagi dengan fungsi suporter.
Cerita paling seru dari sepakbola mungkin dari sejarah rivalitas Barcelona-Real Madrid. Di masa lalu bahkan ada kasus pembunuhan Presiden Barcelona oleh penguasa Diktator Spanyol waktu tahun 1940an. Sewaktu Johan Cruyff sewaktu pindah ke Barcelona dari Ajax juga ikut-ikutan buat statement panas. Cerita detailnya lihat di link ini.
http://en.wikipedia.org/wiki/El_Cl%C3%A1sico
http://www.squidoo.com/the-history-of-animosity-between-barcelona-and-real-madrid-
http://opraywinter.blogspot.com/2013/07/sejarah-awal-rivalitas-real-madrid-vs.html

Ah balik ke bahasan awal. Tiap manusia punya cara belajar yang beda-beda. Karena (mungkin), misi tiap manusia ketika di dunia gak ada yang sama. Kalau kata sang penemu atom, Albert Eistein, 
“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”


sumber = http://www.bradnash.com/blog/judge-a-fish-on-its-ability-to-climb-a-tree-and-it-will-believe-it-is-stupid-einstein-quote/

Awalnya gw juga gak nyangka dengan cara belajar ini. Tapi ntah kenapa gw merasa asik aja. Gw memahami bahwa bagaimana Real Madrid sengaja membeli-beli pemain mahal bukan hanya untuk kualitas di permainan doang. Tapi itu juga perlu kepentingan ekonomi mereka. Ya selain untuk mengganti investasi awal mereka juga dari beli pemain. Atau klub favorit gw, Juventus, yang sering melakukan penghematan sana sini. Tapi gw paham bahwa dengan krisis ekonomi yang terjadi di Eropa, klub-klub eropa yang sekarang sudah seperti industri ekonomi (gak hanya sebuah klub bola), harus mengikuti keadaan yang terjadi. Ditambah lagi dengan pamor Serie-A yang emang sedang menurun. Mereka tidak bisa berinvestasi terlalu besar, dengan resiko yang terlalu besar. Taruhannya terlalu sulit. Harus punya suatu pengorbanan yang matang untuk berinvestasi. Dan Juventus daripada terlalu banyak resiko untuk investasi ke pemain, lebih baik investasi ke infrastruktur mereka. Salah satu keberhasilan jangka pendek mereka adalah dalam waktu hanya 3 tahun, Juventus Stadium mendapatkan perhatian baik dari UEFA, dan Final Europa League diadakan di stadion ini tahun 2014. Kebijakan yang matang bukan?

Kembali ke bahasan. Apa yang terjadi di gw, hanyalah salah satu kasus. Salah satu kasus dalam proses belajar. Sebelumnya gw cuma menangguk-angguk dengan kata-kata Albert Einstein, tapi akhirnya gw bisa merasakan. Dan gw pikir semua manusia pun seperti itu. Pentingnya bagi para guru untuk memahami setiap individu dalam proses belajar muridnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo