Berpadu Damai dalam Hagia Sophia
Saya baru saja menyelesaikan salah satu novel Dan Brown, Inferno. Walaupun novel ini fiksi, tapi bagi penggemar buku-buku dari Dan Brown tentu sangat tahu, bahwa ia sering menggunakan settingan tempat, waktu, dan terutama beberapa bagian cerita yang sebenarnya cukup nyata. Contohnya adalah karya-karya seni dan sejarah yang dijadikan latar cerita yang sering dianalisis oleh Robert Langdon (tokoh utama), yang merupakan profesor seni di Universitas Harvard.
Biasanya, karya-karya seni dan sejarah yang dibahas sering yang berhubungan dengan perkembangan negara-negara dunia ke 1, bahkan jauh sebelum negara – negara tersebut maju secara ekonomi seperti saat ini. Tapi kali ini ketika membaca Inferno, bagian yang cukup menarik bagi saya adalah ketika Dan Brown membahas karya-karya seni di Istanbul. Istanbul, yang dahulu kalanya lebih dikenal bernama Konstatinopel, selama berabad-abad kota itu menjadi episentrum tiga kekaisaran besar ---- Bizantium, Romawi, dan Ottoman. Akibatnya, seni dan sejarah kota Istanbul yang ditinggalkan kepada generasi penerus bagaikan dunia yang terbelah, --- religius, sekuler ; kuno, modern ; Timur, Barat.
Salah satunya adalah Museum Hagia Sophia. Museum ini dahulunya dibangun sebagai basilika dibawah kekuasaan Bizantium, hingga pada tahun 1453 Ottoman menaklukkan Konstatinopel melalui dan mengubah fungsi Hagia Sophia sebagai mesjid. Pada tahun 1931 bangunan ini ditutup oleh pemerintah, dan dibuka lagi pada tahun 1935 sebagai museum. Yang menarik dari Hagia Sophia adalah karena perpindahan fungsi bangunan yang mengikuti kebutuhan spiritual penguasa, bangunan ini mempunyai banyak karya seni yang berhubungan dengan dua agama Samawi, Kristen dan Islam.
Tetapi yang lebih buat saya terkagum adalah jika foto mimbar di atas dilihat lebih jauh lagi, akan terlihat desain altar utama Hagia Sophia berupa mosaik besar Sang Perawan dan Anaknya yang diapit oleh dua lingkaran raksasa berhiasan kaligrafi Muhammad dan Allah. Menurut Robert Langdon, sang profesor seni fiksi dari Universitas Harvard ciptaan Dan Brown, mengatakan bahwa meskipun Kristen dan Islam sama-sama logosentris, tetapi mereka berbeda dalam memaknai Firman. Dalam tradisi Kristen, Firman menjadi manusia dalam Injil Yohanes: ‘Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.’ Karena itulah, menggambarkan Firman dalam bentuk manusia bisa diterima. Dalam tradisi Islam, Firman tidak menjadi manusia, sehingga harus tetap berwujud firman. Dalam sebagian besar kasus, sosok-sosok suci dalam Islam lebih digambarkan dalam seni kaligrafi. Singkatnya, Kristen menggemari wajah; Muslim menggemari kata.
Sejarah Singkat Hagia Sophia
Hagia Sophia
(1, 2 atas) Interior Hagia Sophia (1 bawah) Ruang galeri (2 bawah) Mimbar dengan lukisan Sang Perawan dengan Anaknya di atasnya http://wanderstories.com/wp-content/samples/Istanbul/Istanbul_top10_sample.html
Tetapi yang lebih buat saya terkagum adalah jika foto mimbar di atas dilihat lebih jauh lagi, akan terlihat desain altar utama Hagia Sophia berupa mosaik besar Sang Perawan dan Anaknya yang diapit oleh dua lingkaran raksasa berhiasan kaligrafi Muhammad dan Allah. Menurut Robert Langdon, sang profesor seni fiksi dari Universitas Harvard ciptaan Dan Brown, mengatakan bahwa meskipun Kristen dan Islam sama-sama logosentris, tetapi mereka berbeda dalam memaknai Firman. Dalam tradisi Kristen, Firman menjadi manusia dalam Injil Yohanes: ‘Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.’ Karena itulah, menggambarkan Firman dalam bentuk manusia bisa diterima. Dalam tradisi Islam, Firman tidak menjadi manusia, sehingga harus tetap berwujud firman. Dalam sebagian besar kasus, sosok-sosok suci dalam Islam lebih digambarkan dalam seni kaligrafi. Singkatnya, Kristen menggemari wajah; Muslim menggemari kata.
Mosaik Sang Perawan dan Anaknya yang diapit kaligrafi Allah dan Nabi Muhammad https://natashamarionphotography.wordpress.com/2013/08/12/destination-turkey-hagia-sophia/
Sejarah Singkat Hagia Sophia
Hagia Sophia adalah salah satu peninggalan sejarah terbaik yang masih terjaga dari kekaisaran Bizantium. Basilika ini dibangun antara tahun 532 dan 537, dan berfungsi sebagai Katedral Ortodoks Yunani hingga pada tahun 1453, dan didekasikan sebagai betuk dari Wisdom of God, Sang sabda, orang kedua dari Tritunggal Kudus, dimana pesta perayaannya dilakukan pada tanggal 25 Desember, sebagai bentuk peringatan lahirnya jelmaan Sang Sabda dalam Kristus. Bangunan ini dibangun dibawah perintah penguasa kekaisaran Bizantium, Justinian 1, dan didesain oleh fisikawan, Isidore, dan arsitektur, Anthemius. Ketika Hagia Sophia selesai dibangun, Kaisar Justinian melangkah mundur dan dengan bangga memprolakmirkan, “Sulaiman, aku telah mengalahkanmu!” [1]
Bahan bangunan didatangkan dari berbagai negara seperti Syria dan Mesir untuk membuat bangunan benar-benar sesuai harapan dan megah. Selain itu, bahan bangunan juga dirancang sedemikian rupa sehingga bisa menghasilkan bangunan sangat kuat dan kokoh. Untuk dindingnya, batu bata penyangga bangunan dibuat dari tanah liat yang dibakar dengan teknik pembakaran tertentu sehingga batu batanya lebih solid. Tanah liat, semen dan pasir untuk merekatkan batubata juga menggunakan bahan yang membuat bangunan tersebut kuat dan tahan gempa.[2]
Pembangunan Awal Hagia Sophia http://www.kompasiana.com/septinpa/di-balik-kemegahan-hagia-sophia_552e2a2e6ea8348f128b4579
Namun sayang, gempa bumi yang melanda Turki tahun 553 dan 557. Gempa bumi itu menyebabkan bangunan itu rusak parah. Bahkan kubah yang megah yang berdiameter 31 meter hancur. Isidorus, keponakan dari Isidor, membantu membangun kembali dome yang telah rusak. Di bawah rancangan Isidorus, dome ditinggikan lagi setinggi 6,5 meter. Fondasinya kemudian dibenahi lagi, sehingga bangunan lebih kuat. Kolom-kolom penyangganya menggunakan marmer, sehingga membuat bangunan menjadi kuat. Hingga akhirnya Hagia Sophia dibuka kembali sebagai gereja untuk Kristen Ortodoks di akhir tahun 562.[2]
Renovasi
oleh Isidorus http://www.kompasiana.com/septinpa/di-balik-kemegahan-hagia-sophia_552e2a2e6ea8348f128b4579
Namun, gempa bumi berkali-kali mengguncang Turki. Gempa bumi kedua kalinya pada tahun 869 membuat dome Hagia Sophia retak. Kemudian atas permintaan Kaisar Basil I direnovasi. Malangnya, pada tahun 989, gempa melanda Turki lagi. Kali ini, kubah rusak lagi. Selanjutnya pada masa Kaisar Basil, dibawah arsitek Trdat kubah kembali dibenahi untuk kesekian kalinya. Gempa yang terjadi tahun 1344 dan 1346 juga merusak. Meski kemudian dibenahi oleh arsitek Atras dan Peralta, sejak saat itu, gereja ditutup.[2]
Antara tahun 1204 hingga 1261, Konstatinopel mengalami perubahan fungsi sebagai Katedral Katolik Roma dibawah kekuasaan Kekaisaran Romawi. Baldwin 1 diangkat sebagai penguasa pada tanggal 16 Mei 1204 di Hagia Sophia, dengan upacara mengikuti budaya pengangkatan Bizantium. Enrico Dandolo, Doge dari Venezia, yang memimpin penyerangan kota oleh pasukan salib pada tahun 1204, dikuburkan di dalam gereja. Tetapi, restorasi yang dipimpin oleh kakak-adik Gaspare dan Giuseppe Fossati pada tahun 1847-1849 menimbulkan perdebatan tentang autentikasi dari kuburan Doge Enrico; lebih terlihat sebagai simbol memorial daripada situs kuburan. [1]
Pada tanggal 29 Mei 1453, Konstantinopel ditaklukkan oleh kekaisaran Ottoman dibawah pimpinan Sultan Mehmed II. Ketika bersama anak buahnya memasuki gereja, Mehmed II memerintahkan untuk mengubah fungsi Hagia Sophia sebagai mesjid, dan lebih dikenal dengan Aya Sofia. Salah satu ulama kemudian naik mimbar dan mengucapkan syahadat.
Berbagai modifikasi terhadap bangunan segera dilakukan agar sesuai dengan corak dan gaya bangunan mesjid, seperti membuat mihrab. Tidak hanya itu, bangunannya pun diperkokoh. Pada masa Sultan Selim II di akhir abad ke-16, dengan dibantu arsitek Sinan, bagian luar Hagia Sophia dibangun struktur untuk penyangga agar lebih kuat menopang kubah. Kemudian juga menambahkan menara di sebelah barat dan di tenggara bangunan. Selanjutnya, dua menara lainnya ditambahkan pada masa Murad III dan Mehmed III. Perubahan fungsi Hagia Sophia sebagai mesjid berlangsung selama 500 tahun, dengan patung, salib, dan lukisan peninggalan dari Bizantium telah dicopot atau ditutupi cat.[1][2]
Pada tahun 1935, Mustafa Kemal Atatürk, Presiden pertama dan pendiri Republik Turki, mengubah status Hagia Sophia menjadi museum dan melakukan proyek "Pembongkaran Hagia Sophia". Beberapa bagian dinding dan langit-langit dikerok dari cat-cat kaligrafi hingga ditemukan kembali lukisan-lukisan sakral Kristen. Sejak saat itu, Hagia Sophia dijadikan salah satu objek wisata terkenal oleh pemerintah Turki di Istambul. Meskipun begitu, pemerintah Turki tetap memberikan ruang kecil untuk staff museum Kristian dan Muslim untuk melakukan sembahyang.[2]
Dan Brown Berharap Lewat Novelnya
Dan Brown Berharap Lewat Novelnya
Kembali ke novel Inferno karangan Dan Brown, ada penggalan dialog yang cukup menarik ketika tokoh dalam cerita memasuki Hagia Sophia.
“Demi Jesus,” kata Bruder
“Ya!” ujar Mirsat penuh semangat. “Dan juga Allah dan Muhammad!”
Langdon terkekeh saat pemandu mereka mengarahkan pandangan Bruder ke altar utama, tempat mosaik besar Yesus diapit oleh dua lingkaran raksasa bertulisan Muhammad dan Allah dengan kaligrafi huruf Arab yang cantik.
“Museum ini,” Mirsat menjelaskan, “sebagai upaya untuk mengingatkan pengunjung akan keanerakagaman penggunaan tempat sakral ini, memamerkan ikonografi Kristen, dari masa ketika Hagia Sophia berfungsi Hagia Sophia sebagai basilika, dan ikonografi Islam, dari masa ketika bangunan ini menjadi mesjid.” Dia menyunggingkan senyuman bangga. “Walaupun terdapat friksi antar-agama di dunia nyata, menurut kami simbol-simbol ini tampak bagus saat disandingkan. Saya tahu bahwa Anda sependapat, Profesor.”
Langdon mengangguk sepenuh hati.
Referensi :
1. Wikipedia. “Hagia Sophia”. 8 September 2015. https://en.wikipedia.org/wiki/Hagia_Sophia#Narthex_and_portals
2. Astuti, Septin Puji. “Di Balik Kemegahan Hagia Sophia”. 8 September 2015. http://www.kompasiana.com/septinpa/di-balik-kemegahan-hagia-sophia_552e2a2e6ea8348f128b4579
![]() |
Hagia Sophia di malam hari https://karim74.wordpress.com/2009/06/27/islamic-architecture-around-the-world-2/hagia-sophia-in-istanbul-turkey-night/ |
Referensi :
1. Wikipedia. “Hagia Sophia”. 8 September 2015. https://en.wikipedia.org/wiki/Hagia_Sophia#Narthex_and_portals
2. Astuti, Septin Puji. “Di Balik Kemegahan Hagia Sophia”. 8 September 2015. http://www.kompasiana.com/septinpa/di-balik-kemegahan-hagia-sophia_552e2a2e6ea8348f128b4579
Komentar
Posting Komentar