Barasuara Itu Pendengarnya Saya, Soalnya Cocok


Barasuara - Api dan Lentera

Saya baru tau ini band baru beberapa minggu kemarin. Tapi ntah kenapa ini band langsung nyantol, hingga saya dengerin berulang-ulang. Super asik. Mungkin musik, pembawaannya, dan pendengarnya cocok kali ya?
Omong-omong sebenarnya saya bukan orang yang baru bisa klop hanya pada satu jenis genre musik tertentu. Kalau lagunya asik dan pas banget, saya suka aja pokoknya. Apalagi di zaman dimana batas-batas semakin menipis (dalam apapun, thanks to technology), banyak musisi yang kadang bingung ketika ditanya apa jenis genrenya. Nah jika musisinya sering bingung, masa pendengar-pendengar adalah orang yang tidak punya fleksibilitas terhadap seni?
Tapi mungkin saya punya hal tertentu kenapa suka banget dengan Barasuara. Pertama, liriknya yang cukup pendek, tapi tidak bertele-tele. Liriknya saya perhatikan menyuarakan orang-orang untuk berani mengambil sikap di zama yang makin kabur (again, thanks to technology). Dan ini ditopang dengan jenis genre yang rock. Cocok banget.
Kedua, masih berkaitan dengan lirik, semua lirik yang ditulis berbahasa Indonesia. Sebuah pengambilan sikap yang terhitung berani, apalagi untuk band di jalur indie. Untuk memperjelas maksud saya, bolehlah digooggling awal karir Payung Teduh yang bercerita merasa sulit mendapatkan tempat.
Ketiga, saya mencoba mencari tau sedikit tentang band ini. Band yang dimotori Iga Massardi yang merupakan vokalis band ini, bercerita ingin memulai band dimana semua pemikiran dan pengalamannya bisa diungkapkan lewat lagu. Dan oleh karena itu dia ingin memulai dari awal band dan ingin menjadi vokalis. Karena walaupun suaranya biasa-biasa saja, tetapi sebagus apapun suara penyanyi lain, Iga yakin penyanyi tersebut sulit bisa menggambarkan secara total apa yang diinginkan dari lagunya. Well, I think it was well said. Kerasa betul feelingnya. Dan menginspirasi saya untuk tidak takut bernyanyi (lah?).
Terakhir, ada alasan lain kenapa ini band bagus, dan saya pikir ini sangat personal, walaupun berdasarkan kondisi sekitar saat ini. Dentuman drum yang keras, permainan gitar dan bass yang menggerakkan adrenaline, suara vokalis utama yang biasa tapi paham betul apa yang disampaikan, dan 2 vokalis cewek bersuara kinclong yang berusaha menurunkan adrenaline pada waktu tertentu, serta dipadukan dengan lirik yang dalem tapi gak bertele-tele, kayaknya kombinasi yang sangat pas untuk saya (makanya di awal saya bilang, saya adalah pendengarnya yang cocok dengan Barasuara cari).
Tak hanya terima kasih kepada teknologi, tetapi gencarnya perdagangan bebas dan pemahaman ekonomi makro yang tidak diimbangi pemahaman sektoral/partial, perperangan dimana-mana (yang banyak bergerak karena faktor agama), dan infrastruktur yang terlalu gencar dalam segala lini kehidupan, membentuk zaman dimana orang sebut sebagai globalisasi. Tapi, bagi banyak orang (dan termasuk saya), zaman ini bisa juga disebut zaman penuh kekaburan. Salah satu hal yang dapat mendukung premis saya adalah banyak orang mengatakan zaman sudah liberal, demokrasi hampir penjuru dunia, tetapi faktanya tidak selalu begitu. Tanpa kita sadari yang bersuara dan bisa bergerak dengan bebas kebanyakan cenderung mereka yang mempunyai kapital di pihak mereka. Kapitalnya macam-macam, ada yang bersifat material, politik, ataupun status sosial. Sehingga yang kurang beruntung, hanya sikap kritis dan kreatif yang bisa bertahan. Demokrasipun hanya sering dilihat dalam pemilihan umum atau berkomentar tak tentu arah di media sosial (seringnya ngebully orang atau klub bola). Yang beruntung? Kelihatannya mereka liberal (dan mereka berkata dengan lantang dan bangga), tapi sebenarnya bisa lebih fasis daripada negara fasis atau negara komunis.
Bisa dibilang kabur kan?
Kemudian hadirlah band bernama Barasuara, sekilas akan terlihat atau terdengar “Bersuara”. Selain dentumannya yang meledak-meledak, liriknya juga menggambarkan apa yang saya bilang sebelumnya. Berikut beberapa contoh penggalan lirik lagu Barasuara di album Taifun
Api dan Lentera
“....Lepaskan rantai yang membelenggu
Nyalakan api dan lenteramu
Sampaikan mereka bara dan suara
Berlalu, lalu kini kau menunggu
Serap seram di pundakmu
Lambat laun kan menari, kan berlari ...”

Nyala Suara
“... Baramu padam, baramu padam,
Lara menyala tanpa suara,
Bara dalam sekam, 
Kala merdeka ada suara
Riak melebur, peluh membaur  ...”

Hagia
“Sempurna yang kau puja dan ayat – ayat yang kau baca
Tak kurasa berbeda, kita bebas untuk percaya
Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami

Bahas Bahasa (saya ingin masukin full)
“O! Itu tak kau lihat tak kau ragu
Peluh dan peluru hujam memburu
Bahasamu bahas bahasanya
Lihat kau bicara dengan siapa
Lidah kian berlari tanpa henti
Tanpa disadari tak ada arti
Bahasamu bahas bahasanya
Lihat kau bicara dengan siapa
Makna – makna dalam aksara
Makna mana yang kita bela
Berlabuh lelahku
Di kelambu jiwamu”

Kalau pembaca blog ini baca berulang lirik lagunya, sambil dengarin dentuman Barasuara, kalaupun selera kalian berbeda dengan saya, seenggaknya kalian ngerti kenapa saya bilang : Cocok!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo