Pasar Bebas, Riset Teknologi, dan Kondisi Pangan Indonesia

         Pada bulan Desember 2015 kemarin, Indonesia memasuki perdagangan bebas dengan seluruh negara ASEAN. Secara definisi, perdagangan bebas adalah kebijakan di mana pemerintah tidak melakukan diskriminasi terhadap impor atau ekspor (Wikipedia Indonesia, 2015). Sehingga, perdagangan yang lebih dikenal sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), merupakan kesepakatan antara seluruh negara ASEAN untuk menerapkan perdagangan yang tidak terlalu terikat dalam aturan birokrasi negara masing-masing anggota. Sebelum MEA, penerapan perdagangan bebas ini sudah diterapkan oleh beberapa negara di benua Amerika Utara (NAFTA : North American Free Trade Agreement) dan beberapa negara di benua Eropa dalam AFTA (European Free Trade Association).

Kesepakatan ini dilakukan pada tahun 2003 di Bali, dengan seluruh negara ASEAN sebagai anggota. Kesepakatan ini bertujuan meningkatkan daya saing ASEAN serta bisa menyaingi Tiongkok dan India untuk menarik investasi asing. Modal asing dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan warga ASEAN (National Geographic Indonesia, 2014).
Sumber gambar : http://youngislamicleaders.org/asean-economic-community-2015-are-we-ready/


Jika dianalisa secara simpel, hal yang akan berpengaruh dalam perdagangan bebas adalah penyebaran produk atau jasa. Jika produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan mengalami surplus secara kuantitas dan mempunyai nilai tambah yang cukup kuat di perdagangan internasional, tentunya bagi seseorang yang berposisi sebagai marketer akan mempunyai ruang pasar yang lebih luas lewat perdagangan bebas, tanpa harus dihadang aturan birokrasi negara lain yang terlalu ketat. Bagi negara yang bersangkutan sebagai produsen, pemasukan bagi negara yang bersangkutan secara tidak langsung akan meningkat. Karena pergerakan produk atau jasa menunjukkan suatu prospek yang cukup menjanjikan, para investor akan tergiur untuk mengucurkan uangnya untuk menjadi modal suatu usaha. Hal ini bakal sangat sejalan jika suatu negara sedang berusaha memenuhi beberapa kebutuhannya, dan di saat yang sama ada negara lain yang bisa menyediakan kebutuhan tersebut melalui mekanisme perdagangan.

Hal lain yang akan berpengaruh karena perdagangan bebas adalah pergerakan tenaga kerja di antara negara-negara yang terlibat. Meskipun saya tidak akan membahasnya dalam tulisan ini, mengenai tenaga kerja cukup krusial untuk diperhatikan, apalagi jika mengacu pandangan beberapa peneliti sosial dan statistik kependudukan bahwa pada tahun 2025 akan terjadi overpopulasi di bumi, sehingga perpindahan penduduk antar negara akan semakin sering terjadi untuk mencari kehidupan yang lebih baik, tidak hanya karena faktor mencari pekerjaan (Banjarmasin Post, 2015). Sekilas, keuntungan yang cukup baik bagi Jakarta yang mempunyai jumlah penduduk berlebih, tetapi tidak mempunyai lapangan pekerjaan yang mencukupi dan lingkungan yang kurang layak untuk dihuni.

Tetapi, dibalik keuntungan yang telah diutarakan, ada banyak persoalan yang bisa terjadi. Analogi mengenai perdagangan bebas, bisa dilihat sebagai alam liar. Di alam liar, kebutuhan biologis yang berbeda-beda dan persebaran makanan yang lebih terpusat di hutan, menyebabkan hewan yang mempunyai kebutuhan energi yang lebih besar akan berada di puncak piramida makanan. Sehingga, dapat dimaklumi jika singa dinilai sebagai penguasa hutan. Dalam perdagangan bebas, negara yang terlibat akan datang menandatangani kesepakatan dengan membawa kepentingan pribadi yang berbeda-beda. Kepentingan yang berbeda-beda ini bisa menghasilkan keuntungan yang seperti diutarakan di atas, jika setiap pihak bisa memenuhi kebutuhannya secara maksimal, jika negara yang bersangkutan punya keahlian di suatu bidang, atau bisa disebut sebagai ketahanan negara. Untuk gambaran lebih jelas, perdagangan antara Senegal dengan Uni Eropa bisa dijadikan sebagai contoh.

Ketika Senegal mengambil kebijakan untuk membuka pasarnya, harga produksi tomat harus turun selama 1994 sampai 2001. Negara itu memproduksi sekitar 73.000 ton konsentrat tomat pada tahun 1990. Pada 1996/7, ketika impor dari Uni Eropa masuk, produksi menurun menjadi 20.000. Ekspor konsentrat tomat ke Senegal meningkat dari 62 ton pada tahun 1994 menjadi 5.348 ton pada tahun 1996 karena peningkatan akses ke pasar Senegal (meningkat sebesar 8625,81%). Sejak itu, industri pengolahan tomat Senegal menjadi stagnan, dengan penurunan harga konsentrat tomat dan kurangnya kredit dan sumber daya investasi yang tersedia untuk pengolah.

Di sisi lain, para petani Uni Eropa, memiliki akses yang cukup mudah untuk mendapatkan kredit dan tenaga kerja yang berkualitas dibandingkan dengan rekan-rekan sejawatnya di Senegal, dan mereka mampu menghasilkan tomat lebih murah untuk industri pengolahan Eropa. Bahkan, pada tahun 1997 saja, Uni Eropa membayar US$ 300 juta di subsidi ekspor untuk prosesor tomat (Debatewise). Dapat dilihat bahwa keuntungan dari perdagangan bebas tidak akan tercapai jika ketahanan dari suatu negara tidak dikembangkan secara maksimal.


Selain kebijakan dari pemerintah yang harus dievaluasi, hal lain yang harus dievaluasi mengenai ketahanan suatu negara adalah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat guna. Dalam studi kasus Senegal, saat konsentrat tomat yang dimiliki tidak dikembangkan secara kualitas, negara-negara Eropa yang meletakkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai patokan pengambilan kebijakan dapat meningkatkan kualitas konsentrat tomat, sekaligus juga dapat menekan harga. Tentunya hal ini yang harus dihindari dalam memasuki MEA. Apalagi, cerita lama pengembangan daerah yang sangat tidak merata di Indonesia bisa saja akan semakin memperparah ketahanan nasional.


Oleh karena itu, perlu untuk melihat lebih jauh pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia dan dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Tenggara. Sehingga, dapat dievaluasi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai ketahanan nasional Republik Indonesia, tidak hanya pada tataran badan riset dan perguruan tinggi, tetapi juga sampai tataran akar rumput. Berkaitan dengan MEA, maka negara yang digunakan sebagai pembanding adalah Thailand dan Vietnam. Hal ini disebabkan secara sosial dan kultur, Thailand dan Vietnam mempunyai budaya yang cukup kuat mengakar dalam kehidupan sehari-hari, sama halnya dengan Indonesia. Selain itu, produk unggulan dari kedua negara juga hasil dari pertanian dan perkebunan.



Indonesia, Vietnam, dan Thailand sama-sama bertumpu kepada pertanian sebagai komoditas utama. (Sumber gambar : http://blog.umy.ac.id/anisacahyani2015/2015/10/30/generasi-muda-perubah-nasib-pertanian-indonesia/)


Data yang akan digunakan berasal dari web Bank Dunia, yang dimulai dari tahun 1998 sampai data terakhir yang ditampilkan. Tahun 1998 diambil sebagai patokan perkembangan karena pada tahun 1998 terjadi reformasi di Indonesia. Tentunya tak bisa diabaikan sejauh apa pengaruh reformasi berpengaruh dalam perkembangan teknologi dan ketahanan di Indonesia. Sehingga, alur yang akan digunakan adalah sebagai berikut : 
  1. Membandingkan pengeluaran riset dan pengembangan dari ketiga negara.
  2. Membandingkan efek dari riset dan teknologi pada produk-produk yang dihasilkan oleh ketiga negara. Karena banyaknya jenis produk, perkembangan yang akan diperhatikan adalah perkembangan panen pertanian dan perkebunan. Hal ini dipilih karena ketiga negara masih mengandalkan hasil pertanian dan perkebunan sebagai produk unggulan. 
  3. Membandingkan peningkatan persentase dari agrikultur terhadap GDP (Growth Domestic Product) dari ketiga negara. Hal ini karena pertanian dan perkebunan tergolong dalam agrikultur.
  4. Membandingkan jumlah ekspor barang dan jasa dari ketiga negara.
  5. Peningkatan GDP dari ketiga negara.


Perkembangan pengeluaran untuk riset dan pengembangan

Tahun
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
Indonesia


0.07
0.05





Thailand

0.26
0.25
0.26
0.24
0.26
0.26
0.23
0.25
Vietnam




0.18




2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015



0.08



0.08



0.21

0.25

0.39









0.19





Tabel 1

Tabel di atas merupakan besaran persen pengeluaran untuk riset dan pengembangan terhadap GDP negara. Meskipun data yang tersedia di web data.worldbank.org tidak lengkap, dapat dilihat Thailand mempunyai besaran yang cukup besar untuk mengeluarkan pembiayaan riset setiap tahunnya, dibandingkan Vietnam dan Indonesia. Keseriusan Thailand dalam riset dan pengembangan, terlihat dalam rentang tahun 2009-2011 ketika mengambil kebijakan peningkatan pengeluaran lebih dari 0.1%.

Selain itu, dapat dilihat juga di tabel, dalam rentang waktu 17 tahun, pengeluaran Indonesia untuk riset juga cukup kecil jika dibandingkan dengan Vietnam.

Perkembangan hasil pertanian dan perkebunan

Grafik 1
Grafik di atas perkembangan panen pertanian dan perkebunan dari ketiga negara, dengan dihitung dalam dollar internasional. Dapat dilihat bahwa ketiga negara mempunyai jumlah produk yang terus meningkat di setiap tahun dan hampir sama besar perkembangannya. Walaupun begitu, di Thailand sempat mengalami penurunan jumlah selama beberapa tahun.

Perkembangan agrikultur terhadap GDP negara

Grafik 2
Grafik di atas adalah besaran persen pengaruh agrikultur dari ketiga negara terhadap GDP. Dapat dilihat, Vietnam sangat bergantung kepada agrikultur sebagai pemasukan untuk negara. Begitupun Indonesia, walau tidak sebesar Vietnam. Tetapi, meskipun Thailand tidak  mempunyai jumlah besaran persen yang sebesar Vietnam dan Indonesia, tetapi mulai tahun 2010 terjadi peningkatan  pengaruh agrikultur terhadap GDP Thailand.


Perkembangan jumlah ekspor barang dan jasa

Grafik 3

Grafik di atas adalah perkembangan besaran persen jumlah ekspor dari setiap negara pada setiap tahunnya terhadap GDP. Vietnam yang pada tahun 1998 sempat di bawah Indonesia, saat ini pengaruh ekspor negara tersebut telah jauh melebihi Thailand. Sedangkan Indonesia terus mengalami penurunan sejak Presiden Soeharto diturunkan. Walaupun sempat mengalami sedikit kenaikan di beberapa tahun, tetapi tidak berefek jangka panjang seperti Vietnam.





Perkembangan kenaikan GDP

Grafik 4

Grafik di atas adalah besaran persen kenaikan GDP pada setiap tahunnya. Dapat dilihat sejak tahun 2000, besaran kenaikan GDP Indonesia cenderung stabil, tidak seperti Thailand. Sedangkan Vietnam juga cukup stabil dan lebih besar dibandingkan Indonesia, tetapi sempat mengalami penurunan lebih rendah daripada Indonesia pada rentang 2008-2012. Tetapi sejak itu tingkat kenaikan GDP Vietnam kembali naik, dan melebihi Indonesia pada tahun 2014.



Apa yang bida dilihat dari data diatas?

Pada tabel 1, grafik 1, dan grafik 2 dapat dilihat pengaruh tingkat pengeluaran riset dan pengembangan dari Thailand. Ketika meningkatkan pengeluaran untuk riset dan pengembangan pada rentang tahun 2009 hingga 2011 lebih dari 0.1%, hasil pertanian juga berkembang. Bahkan, meskipun besaran agrikultur terhadap GDP negara tersebut tidak sebesar Indonesia dan Vietnam, peningkatan tetap terjadi pada grafik 2. Walaupun pada grafik 3 dan grafik 4 perkembangan ekspor Thailand dan tingkat kenaikan GDP tidak mengalami progress yang menggembirakan, tetapi pengaruh riset dan pengembangan tetap tidak bisa diabaikan. Progres yang kurang menggembirakan lebih disebabkan karena krisis politik yang terjadi di Thailand antara tahun 2008 hingga 2010 dan 2013 hingga 2014 (Wikipedia, 2015). Terbukti ekspor barang dan jasa kembali sedikit naik pada tahun 2011, meskipun pada grafik 4, kenaikan GDP mengalami fluktuansi yang tidak stabil.

Krisi Politik di Thailand pada tahun 2013 (Sumber gambar : http://newsinfo.inquirer.net/543059/thai-capital-braces-for-protests)


Selain itu, Vietnam juga mengalami keuntungan dari pengeluaran riset dan pengembangan yang lebih besar daripada Indonesia. Karena terlihat di hampir seluruh grafik yang ditampilkan, Vietnam mengalami kemajuan yang lebih baik daripada Indonesia. Bahkan, walaupun pengeluaran untuk riset dan pengembangan tidak sebesar Thailand, beberapa bagian dari grafik 1 dan 3 menunjukan progres yang lebih baik daripada Thailand. Tentunya grafik ini bisa menggambarkan hal berbeda jika Thailand tidak mengalami krisis politik.

Untuk Indonesia, meskipun pada tabel 1 riset dan pengembangan tidak terlalu diperhatikan dan pada grafik 3 tingkat ekspor negara semakin menurun, tidak semasif Vietnam dan Thailand, tetapi tingkat kenaikan GDP Indonesia relatif stabil setiap tahun, terhitung sejak zaman reformasi. Ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan hal ini terjadi :
1.     Indonesia mempunyai kawasan yang sangat subur dan kaya. Hal ini telah ditulis sejak dahulu kala mengenai sejarah zaman dulu dalam prasasti-prasasti dan buku-buku, hingga penelitian zaman modern (Atlantis Lemuria Indonesia, 2010). Khusus untuk pulau Jawa, berada di sekitar Ring of Fire memberikan keuntungan mempunyai tanah yang sangat subur. Sehingga sangat besar kemungkinan riset dan pengembangan tidak terlalu diperhatikan dengan keuntungan yang telah didapatkan.


Gunung Bromo, Jawa Timur (Sumber gambar,: http://footage.framepool.com/en/shot/767560462-mount-bromo-bromo-tengger-semeru-national-park-volcano-vent-volcano-island)


2.     Konsumsi dalam negeri yang cukup tinggi. Kondisi geografis Indonesia yang sangat unik dan negara yang mempunyai jumlah penduduk sangat besar, membuat tingkat konsumsi yang semakin meningkat, sebagaimana yang terlihat pada grafik yang ditampilkan. Pada grafik 1 hasil panen dari perkebunan dan pertanian tidak berbeda jauh dengan Thailand dan Vietnam, tetapi pada grafik 3 tingkat ekspor negara semakin menurun. Hal ini disebabkan karena hasil dari produksi dijual untuk memenuhi kebutuhan domestik terlebih dahulu (tidak hanya pertanian dan perkebunan). Selain itu, otonomi daerah yang semakin berkembang juga menuntut tingkat konsumsi yang semakin besar juga. Sehingga sangat besar kemunkinan bahwa pasar dalam negeri lebih terbuka lebar daripada pasar luar negeri.

3.     Kualitas produk Indonesia yang kurang bisa bersaing dengan produk luar negeri. Ini adalah kemungkinan lain dari penyebab nomor 2. Karena produk yang dihasilkan tidak bisa bersaing dengan produk luar negeri, akibatnya pemasaran lebih dialihkan ke dalam negeri.


4.     Kebijakan politik luar negeri dan dalam negeri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  (SBY) minim dari goyangan. Tidak seperti krisis politik di Thailand, SBY menjaga politik Indonesia sangat kondusif, terutama dengan kebijakan politik luar negeri A Million Friends and Zero Enemies.



Xi seeks to boost economic ties on visit to South-east Asia
Susilo Bambang Yudhoyono bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping (sumber gambar : http://www.todayonline.com/chinaindia/china/xi-seeks-boost-economic-ties-visit-south-east-asia)

Jika melihat pada penyebab yang telah diuraikan di atas, tentunya Indonesia pada posisi yang sangat beruntung. Tetapi ini akan menjadi buah simalakama jika kembali melihat apa yang terjadi pada Senegal, seperti yang telah dibicarakan pada bagian awal. Ketika kondisi politik Thailand telah stabil, tidak tertutup kemungkinan sangat mudah bagi Thailand untuk berkembang secara leluasa di Indonesia lewat MEA. Apalagi Thailand mampu bertahan dengan riset dan pengembangannya meskipun pergoyangan politik internal sangat mengganggu. Begitu juga Vietnam, yang kondisi kebijakan politiknya relatif lebih stabil, sama halnya dengan Indonesia di bawah pimpinan SBY. Tentunya ketahanan nasional Indonesia akan terganggu oleh MEA.


Apa yang bisa dilakukan?

Ketahanan nasional akan terbentuk jika rakyat suatu negara dapat berkembang tanpa harus terganggu oleh gangguan eksternal. Seperti yang telah digambarkan di grafik, riset dan pengembangan sangat mempengaruhi dalam menjaga ketahanan nasional Thailand dan Vietnam. Bergantung kepada keuntungan yang telah disediakan tidak hanya akan memunculkan senjata makan tuan, tetapi juga memacu karakter manusia yang tidak diharapkan.

Berikut solusi yang bisa dijalankan :
1.     Mengarahkan riset dan pengembangan untuk mengembangkan teknologi yang tepat guna bagi Indonesia. Kondisi Indonesia yang berbeda dengan negara lain, tentunya membentuk tantangan yang berbeda pula. Sehingga, teknologi yang dibutuhkan juga akan sangat berbeda dengan negara lain. Dan yang paling penting, bagaimana teknologi yang dihasilkan tidak hanya berguna kalangan ekonomi makro, tetapi juga pada tataran akar rumput atau ekonomi mikro. Karena ketahanan nasional tidak akan terbentuk, jika hanya beberapa pihak saja yang bisa bertahan atau kesenjangan sosial semakin melebar.

2.     Mendukung riset dan pengembangan dalam negeri. Tidak hanya dari segi pendanaan, tapi juga dari regulasi yang diterapkan. Tidak hanya regulasi yang tidak mendukung, tetapi regulasi yang banyak tumpang tindih akan mengganggu riset dan pengembangan.
Riset yang tepat guna dan didukung oleh semua pihak merupakan bentuk sikap yang krusial. (sumber gambar : http://www.antaranews.com/berita/527614/mengatasi-kebuntuan-riset-pangan-indonesia)


3.     Memberdayakan seluruh masyarakat untuk produktif, tidak hanya dalam riset dan pengembangan, tetapi juga dalam penerapan. Ibarat sebuah tim sepakbola, pemain yang bermain di lapangan adalah yang menjalankan strategi dari pelatih dan merasakan langsung pertandingan. Sehingga, sangat sulit untuk merancang sistem dan menjalankan program riset tanpa peran langsung dari masyarakat secara luas.

Jadi ...


Ketahanan nasional tidak akan terbentuk jika rakyat dan pemimpin dalam suatu negara tidak bersatu untuk bekerja bersama-sama. Inovasi teknologi yang dihasilkan lewat riset dan pengembangan tidak akan berjalan, jika tidak ada kesadaran dari setiap pihak untuk bekerja lebih baik daripada sebelumnya. Kemampuan Thailand yang bisa bertahan meskipun terganggu oleh kondisi internal politik dan Vietnam yang berkembang pesat, menunjukkan pentingnya inovasi teknologi tepat guna lewat riset dan pengembangan. Tidak hanya mengenai persoalan ekonomi, tetapi inovasi teknologi tepat guna yang dihasilkan juga menunjukkan kesadaran untuk kehidupan yang lebih baik, tidak hanya bergantung pada keuntungan yang telah ada.

----

Referensi



Atlantis Lemuria Indonesia. (2010, Februari 26). Kejayaan Nusantara Kuno, Bukti Bahwa Pulau-pulau Indonesia yang sangat Kaya Raya sejak masa Peradaban Kuno. Retrieved Desember 17, 2015, from Atlantis Lemuria Indonesia: http://atlantis-lemuria-indonesia.blogspot.co.id/2010/02/kejayaan-nusantara-kuno-bukti-bahwa.html

Banjarmasin Post. (2015, April 8). 2025, Populasi Manusia Mencapai 8 Miliar. Retrieved Desember 2015, 2015, from Banjarmasin Post: http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/04/08/2025-populasi-manusia-mencapai-8-miliar

Debatewise. (n.d.). Poorer countries should abandon free trade agreements. Retrieved Desember 16, 2015, from Debatewise: http://debatewise.org/debates/1053-poorer-countries-should-abandon-free-trade-agreements/
National Geographic Indonesia. (2014, Desember 11). Pahami Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Retrieved Desember 16, 2015, from National Geographic Indonesia: http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/12/pahami-masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015
Wikipedia. (2015, Desember 17). 2008–10 Thai political crisis. Retrieved Desember 17, 2015, from Wikipedia, The Free Encyclopedia: https://en.wikipedia.org/wiki/2008%E2%80%9310_Thai_political_crisis
Wikipedia Indonesia. (2015, Desember 16). Perdagangan Bebas. Retrieved Desember 16, 2015, from Wikipedia Indonesia: https://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_bebas



*Ini merupakan tugas saya dalam salah satu mata kuliah di kampus. Saya pikir daripada file tugas ini disimpan terus di hardisk sebagai dokumen, lebih baik saya posting di blog. Demi blog yang diupdate suka berdebu karena saya suka males langsung menulis apa yang sedang dipikirkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo