We're Waiting The Moment to Arise, Indonesia
Hari ini ketika sore hari yang cukup cerah, entah kenapa saya sedang menikmati lagu The Beatles, judulnya Blackbird.
Menurut cerita yang beredar, Paul McCartney, pencipta lagu, terinpirasi ketika bertemu dua perempuan kulit hitam yang mengalami diskriminasi di Arkansas pada sekitar akhir tahun 60an, atau dikenal sebagai "Little Rock Crisis". Pada zaman itu memang Amerika memang masih mengalami kasus rasisme kulit hitam yang cukup masif, meskipun Abraham Lincoln pada jauh tahun sebelumnya sudah berhasil membuat Amandemen 13. Kasus ini berhenti setelah ada intervensi dari Presiden Amerika pada saat itu, Dwight Eisenhower. Berdasarkan inpirasi tersebut, McCartney berusaha menuangkan maksud tersebut di lagunya, terutama bagian lirik.
Makna kata "Blackbird" yang digambarkan pada lagu ini adalah tentu bisa disimbolkan kepada sekelompok warga yang mengalami diskriminasi di Arkansas, walau tentunya saya yakin McCartney ingin menggambarkan seluruh warga kulit gelap. Sedangkan "broken wing" adalah sebagai simbol dari sikap diskriminasi tersebut. Yang menjadi sorotan adalah "You were only waiting for this moment to arise" yang terletak sebagai penutup lagu. Ini menunjukan kepada sikap McCartney untuk mendukung sikap dua perempuan tersebut bersama temannya (atau lebih dikenal Little Rock Nine) untuk melawan terhadap sejumlah peraturan yang diskriminatif.
Lagu ini sangat melegenda, entah karna faktor The Beatles yang memang jadi idola banyak orang, atau memang karena lagunya yang memang bagus (atau mungkin karena keduanya), saya pribadi tidak begitu paham. Tapi dalam perkembangannya, lagu ini sering digunakan dalam acara kematian. Bahkan banyak almarhum sendiri yang ingin lagu ini dimainkan ketika kematiannya. Dugaan saya, agar lewat lagu ini semua orang justru bisa lebih lebih baik ketika terjadi sesuatu kemalangan, seperti McCartney yang ingin kedua perempuan tersebut justru lebih semangat memperjuangkan haknya sebagai manusia.
Tapi berhubung masih dalam suasana kemerdekaan dan hari ini Tantowi-Lilyana baru pulang dari Olimpiade Rio, saya ingin berbicara sedikit tentang hal ini, ya mungkin . Karena pada saat yang sama saya pribadi seorang nasionalis, tapi tidak ingin nasionalis yang "buta". Mungkin bisa kali ya kesimpulannya sedikit cocoklogi dengan lagu ini.
****
Sore ini, tanggal 23 Agustus, Tantowi-Lilyana, atau biasa disebut Owi-Butet, baru saja pulang dari Olimpiade Rio. Semua orang banyak yang bergembira akan kedatangan mereka, karena mereka peraih medali emas satu-satunya untuk Indonesia. Semakin spesial karena mereka meraih medali tersebut ketika hari kemerdekaan Indonesia. Bahkan acara arak-arakan dikabarkan akan berlangsung 2 hari untuk mereka. Saat ini saya sedang menulis, mereka sedang diundang ke acara Ini Talkshow.
Pertanyaan saya adalah, "haruskah?"
Ada beberapa pendapat kenapa harus (atau mungkin bahasa lainnya "ada baiknya") atau tidak. Bagi yang mengatakan harus, hal ini agar setiap orang tetap mempertahankan nasionalismenya disaat gempuran globalisasi yang terjadi. Apalagi beberapa orang merasa saat ini sedang bangkit kembali paham komunisme atau islam ekstrimis di Indonesia, atau beberapa daerah yang ingin melepaskan dirinya. Dengan kehadiran Owi-Butet, mengembalikan semangat setiap orang tersebut. Dengan logika tersebut, tidak salah banyak yang menyebut olahraga adalah bentuk lain dari perang senjata.
Tetapi bagi yang tidak setuju adalah kejelasan tujuan acara ini. Benarkah hanya untuk menjaga semangat orang Indonesia? Karena pada saat yang sama, banyak politikus yang "numpang panggung" dengan Tantowi-Lilyana, padahal sebelumnya tidak terlihat membantu. Bahkan olimpiade sebelumnya tidak ada arak-arakan ketika atlet Indonesia meraih emas. Apalagi jika memperhitungkan kondisi fisik Owi-Butet.
Sesungguhnya ada banyak alasan lainnya yang diutarakan, terutama yang digambarkan lewat media atau yang berceloteh di sosial media. Tapi bagi saya pribadi, alasan di atas sudah menggambarkan sebagian tentang polemik ini. Polemik yang menurut saya tidak berhenti ketika arak-arakan Owi-Butet selesai.
Saya pribadi hanya berpendapat bahwa ada baiknya arak-arakan ini tetap dilakukan, tetapi dengan teknis yang lebih rapi dan tepat sasaran jika tujuannya untuk menjaga semangat nasionalisme. Hal ini selain mengontrol orang-orang yang mencari muka, juga untuk tidak hanya di sekitar Jawa saja arak-arakan. Berbicara nasionalisme, berarti kita bericara tentang Indonesia yang begitu luas. Dan jangan lupa juga untuk memperhitungkan fisik pahlawan olahraga, sangat tidak manusiawi mereka langsung sibuk setelah pulang. Tetapi saya lebih ingin berbicara tentang polemik yang tidak bakal kelar, meskipun arak-arakan ini sudah selesai, dan mengapa saya berkata bahwa saya tidak ingin menjadi nasionalis buta.
****
Memang, saat ini dengan gempuran zaman yang menurut banyak orang makin maju, terjadi pertukaran informasi yang terlalu cepat. Pertukaran informasi yang terlalu cepat sangat memperngaruhi proses setiap manusia untuk memahaminya. Sehingga tentang baik dan buruk suatu hal, polemik sangat mungkin terjadi. Yaa minimal debat rumpi ibu-ibu yang mengisi waktu sore tentang sinetron Uttaran lah. Atau versi beratnya tentang Korea Utara yang membangun senjata nuklir, konflik Laut China Selatan, atau debat calon Presiden Amerika. Yang bahkan dalam konteks Amerika, polemik tidak lagi antara haluan "kiri" dan "kanan", tetapi lebih ke orang yang "terbuka" yang diwakilkan oleh Hillary Clinton dan "tertutup" yang diwakilkan oleh Donald Trump. Tetapi disana juga yang bikin polemik, karena pembedaan antara "terbuka" dan "tertutup" tidak bisa dibedakan seperti hitam dan putih,
Dalam konteks Indonesia, sebagai orang berkewarganegaraan negara ini, saya melihatnya lebih semerawut. Karena ide besar akan Indonesia masih banyak yang mempertanyakan, karena terlalu besar, terlalu berbeda, terlalu banyak pulau, dan terlalu banyak hal lainnya. Apalagi diperparah pembangunan yang tidak merata, yang sayangnya menurut Ivanovich Agusta dalam salah satu bukunya, ketimpangan ini sudah warisan VOC sejak 1820. Hal yang mungkin salah satu faktor penyebab seorang Bung Karno berkata bahwa perjalanan Indonesia jauh lebih berat dibandingkan ketika beliau bertarung melawan penjajah.
Banyak sejarah yang menceritakan tentang pemberontakan terhadap pemerintahan pusat akibat ketidakpuasan pembangunan. Ada yang berhasil diredam, ada yang tidak. Bahkan tindakan peredaman harus melalui dengan sikap represif oleh pihak militer. Ketika Timor Leste memilih untuk keluar pun tidak jauh dari masalah ini, selain ada persoalan HAM. Papua Barat saat ini juga sedang pada tahap yang lebih aktif dari sebelumnya dengan keinginan untuk menjadi negara merdeka. Hanya media Indonesia yang cenderung menutup-nutupi pergerakan mereka dari perhatian masyarakat populis Indonesia, padahal gerakan Papua Merdeka sudah pada tahap menarik perhatian Internasional.
Saya beberapa kali berdiskusi dengan salah seorang purnawirawan (sayangnya sudah almarhum), yang dalam pengalaman hidupnya memilih untuk keluar dari TNI dan hidup sederhana. Dalam satu waktu beliau mengatakan bahwa saya tidak memahami pembukaan UUD seperti beliau memahaminya. Awalnya terdengar sedikit sombong bagi saya. Tapi saya tidak terlalu memikirkan bahwa hal tersebut adalah suatu kesombongan, karena pada saat yang sama kami mempunyai tujuan yang sama, tetapi saya memahami ada perbedaan pengalaman yang begitu besar antara saya dengan beliau yang sudah sepuh. Dan sebelum kematian beliau pun menitip pesan untuk sering belajar memahami pembukaan UUD tersebut dari berbagai sudut pandang dan menitipkan buku karangan beliau yang berjudul "Bangsaku". Oya, ngomong-ngomong nama Bapak itu Roch Basuki Mangoenprojo. Sudah menerbitkan beberapa buku, sayangnya bukan jenis buku yang sangat laku di pasaran saat ini.
Tetapi meskipun saya mengakui tidak segitu paham pembukaan UUD, dari ucapan beliau, ada banyak hal yang terkadang dari negara ini membuat saya pesimis. Alasan teknis di lapangan mungkin seperti yang saya sebut di paragraf sebelumnya, semerawut. Tetapi, dalam pandangan saya, banyak orang yang tidak begitu (bahkan parahnya tidak mau) memahami kenapa kita bernegara.
Dalam konteks Owi-Butet, dengan berpikir bahwa banyak hal yang bisa membuat pesimis, tentunya datang dengan memberikan suatu optimisme. Terutama jika berbicara bahwa krisis identitas yang terjadi menurut penilitian beberapa para psikolog atau antropolog, ikut terombang ambing dengan zaman yang bergerak fluktuatif terlalu cepat (saya memandang akan hal ini sesuai dengan salah satu ayat Al-Qur'an bahwa akan datang suatu zaman yang penuh berkabut, atau tidak jelas).
Sampai paragraf ini, kenapa polemik tentang nasionalisme tidak bakal kelar dan kenapa saya tidak ingin menjadi nasionalisme buta, mungkin sedikit terjawab. Tetapi dengan kehadiran Owi-Butet, cukupkah untuk memberikan rasa optimisme yang dibutuhkan? Atau jangan-jangan mereka hanya mewakilkan Indonesia tengah dan barat, sedangkan yang timur merasa tidak? Apalagi yang di pedalaman, yang jaringan listrik aja susah?
Atau sebenarnya pertanyaan di atas hanya memang sebuah pertanyaan, yang tak akan mempunyai jawabannya sepenuhnya terjawab?
****
Dalam beberapa minggu terakhir saya sedang mengikuti acara Ring of Fire di Kompas TV. Acara ini mengdokumentasikan seorang bapak yang bernama Youk Tanzil yang berkeliling Indonesia bersama anak-anaknya dan beberapa crew. Menurut Youk Tanzil, Indonesia ini terlalu luas dan dia merasa ingin mengenalkan negara ini kepada anak-anaknya. Bahkan ketika dalam perjalanan selat Sape, dia sendiri pribadi juga mengakui masih penasaran dengan Indonesia, dan perlu pemahama lebih baik lagi tentang negara ini, Jadi ingin merasa terus belajar lewat travelling, sekaligus mengajarkan anak-anaknya.
Konsep acara ini cukup menarik (apalagi berkeliling dengan naik motor broh), sehingga saya sedikit tertarik untuk riset sedikit tentang Youk Tanzil. Beliau adalah pengusaha, saat ini seorang Presdir di Indonesia Lintas Net, perusahaan yang bergerak untuk mengembangkan software untuk komunikasi internet. Menurut beberapa penuturan lewat google, kegiatan untuk bertravelling atau menjelajahi alam merupakan hobi favorit beliau. Apalagi jika berhubungan dengan Archipelago Indonesia.
Dalam salah tulisan, Youk Tanzil selalu membawa sebuah bait puisi dari Edgard A Guest berikut dalam dompetnya.
Don't QuitWhen things go wrong as they sometimes will,When the road you're trudging seems all up hill,When the funds are low and the debts are highAnd you want to smile, but you have to sigh,When care is pressing you down a bit,Rest if you must, but don't you quit.Life is queer with its twists and turns,As every one of us sometimes learns,And many a failure turns aboutWhen he might have won had he stuck it out;Don't give up though the pace seems slow--You may succeed with another blow,Success is failure turned inside out--The silver tint of the clouds of doubt,And you never can tell how close you are,It may be near when it seems so far;So stick to the fight when you're hardest hit--It's when things seem worst that you must not quit.
Menurut tulisan tersebut, Youk Tanzil selalu berusaha berpegang kepada puisi ini. Jika memang ternyata Youk Tanzil adalah seorang yang sangat cinta tanah air, saya melihat puisi ini juga berlaku ketika memahami kondisi Indonesia.
****
Logika dari puisi ini serupa dengan lagu Blackbird di atas. Bahwa di balik keadaan yang tidak berpihak, terdapat kondisi yang bisa membalikan keadaan, seperti kondisi diskrimatif di Arkansas bisa memunculkan sikap tangguh untuk menjaga indentitas diri sebagai orang berkulit gelap, Hasilnya? Presiden Amerika saat itu turun tangan. Atau seperti beberapa pendiri bangsa Indonesia yang beberapa kali mengalami pengasingan, tetapi justru malah memahami lebih tentang Indonesia dari pedalaman.dan makin memperkuat perlawanan atas penjajahan dari daerah terpencil.
Saya pikir kita harus tetap meletakan harapan tentang Indonesia. Ya walaupun saya sangat ingin konsep dan teknis arak-arakan Owi-Butet lebih diperdalam atau banyak hal yang terkadang masih belum kelihatan benang merah, tetapi penting artinya untuk selalu menetapkan harapan. Walaupun saya dan banyak orang tidak memahami pembukaan UUD, saya yakin Pak Roch Basuki sebagai nasionalis sejati tidak sepakat untuk bersikap pesimis. Karena seperti lirik lagu Blackbird, "You were only waiting this moment to arise", akan ada momen berharga yang sayang dilewatkan jika pada saat bersamaan harapan itu tidak pada tempatnya. Terutama ketika burung hitam itu telah terbang.
Harapan untuk kedaulatan diri, bangsa, dan negara (bahkan dunia sesuai pembukaan UUD).
Dirgahayu yang ke 71 Indonesia!
Komentar
Posting Komentar