Kemajuan?
Dikutip dari buku Ring of Fire karangan Lawrence Blair,
“Suku Bugis, yang dahulu navigator lautan paling akbar, dipandu oleh pola ombak dan petunjuk berupa rumput laut dan kotoran burung, kini telah kehilangan sedemikian banyak kepercayaan terhadap pengetahuan lama mereka sehingga mereka kini hanya berani berlayar dekat-dekat pesisir, dengan pemikiran bahwa seandainya kapal mereka tenggelam, setidaknya mereka bisa sampai ke pantai hidup-hidup. Saya jadi teringat kisah tentang para pelaut Eropa zaman dahulu, ketika kapten mereka melarang awak kapalnya belajar berenang, sehingga mereka lebih mungkin tenggelam bersama kapal daripada meninggalkan pos mereka dan berjuang mencapai pantai.
(Kapal) Sinar Surya hanya membawa sebuah kompas kuno yang minyaknya sedemikian keruh saking tuanya sehingga kami nyaris tak bisa membaca penunjuk arah angin. Saya ragu kompas itu pernah menunjukkan arah dengan benar, dan bahkan kompas tangan kecil kami masih lebih akurat. Satu-satunya peta yang ada lebih bersifat simbolik daripada bermanfaat. Bertanggal 1910, peta itu membentang dari Singapura sampai Australia Utara, sehingga banyak pulau dalam rute kami -apalagi tempat-tempat berbahayanya- bahkan tidak tercantum. Orang-orang bugis terperosok di antara dua ilmu, melupakan yang lama sebelum menguasai yang baru.”
—-
Try to consider this. Mari berpikir kritis.
Ketika ada suatu tantangan yang dihadapi, entah dalam individual, komunitas, ataupun negara, bagaimanakah proses dalam mencari solusinya? Dahulu kala Bugis terkenal sebagai pelaut super tangguh. Saking tangguhnya, warga eropa yang begitu tergila-gila dengan rempah-rempah di dunia timur, tetapi harus mengambil langsung ke tempatnya akibat kejatuhan Konstatinopel ke Turki Ottoman, harus sering menelan ludah ketika harus melewati perairan Nusantara.
Pada akhirnya, memang warga Eropa bisa berhasil mengalahkan mereka, walau tidak sering kali tentunya pada awalnya. Dan tentu saja kondisi ini memaksa pelaut Bugis meningkatkan kemampuannya dalam melaut. Tetapi sesuai dengan kutipan di atas, kemampuan improvisasi mereka menjadi bermasalah ketika ada peradaban lain yang datang yang seolah-seolah lebih baik dari kebudayaan mereka. Ketidakmampuan mengakulturasikan budaya dari si pemenang perang dengan pemahaman mereka -atau istilah zaman kini kearifan lokal- menjadi bumerang dalam ke proses bermasyarakat mereka, menjadi bumerang. Dan akibatnya ke depan, kepulauan rempah-rempah lebih banyak bercerita tentang pertarungan bangsa lain memperebutkan “komoditi panas” pada masanya.
Dapat dilihat pada saat ini pulau Lontar banyak berisi nisan dari para pelaut Belanda, Prancis, Portugis, Spanyol, dan Inggris. Ohya, bangsa Cina, Melayu, dan Arab juga tentunya.
—-
Dear Indonesia, mau sampai kapan seperti ini? Mau sampai kapan pesta pora dari kemajuan yang lebih banyak ilusional?
Sistem ekonomi yang tidak merakyat, yang setiap saat hanya berlandaskan angka-angka keuntungan, itupun hanya sebagian pihak. Inovasi teknologi yang tidak tepat sasaran, yang hanya bisa bergantung dengan material mahal dan tidak tepat guna. Perancangan bangunan yang tidak ramah lingkungan, sampai AMDAL pun yang masih harus banyak diperbaiki masih saja dilanggar. Pertanian dan perkebunan yang tidak memperhatikan aspek budaya masyarakat setempat dan penggunaan kapital uang dan pupuk kimia tidak terkontrol. Pertambangan yang tidak hanya mengabaikan hak-hak masyarakat sekitar, tetapi menggerus budayanya, serta dipaksa harus bisa menjadi buruhnya. Pariwisata yang hanya bercerita tentang ilusi kenyamanan, tetapi tidak mau berkenalan dengan kenyamanan dari peradaban yang berbeda.
Ohya, politik yang hanya bercerita tentang daerah pusat dan bersifat pragmatis, mengabaikan kondisi geografis dan budaya yang berbeda, yang belum tentu sudah seluruhnya diteliti oleh ilmuwan luar. Pendidikan yang hanya bercerita tentang selalu harus mengejar negara maju, tanpa adanya belajar akan kerendahan hati kepada di sekitarnya. Itupun diperparah dengan penyederhanaan penilaian hanya dalam bentuk angka ujian. Budaya berpikir bahwa suatu tempat atau provinsi selalu terlihat lebih baik dan selalu menguntungkan. Sehingga kalau tidak mendapat bagian di provinsi tersebut, tempatnya saat ini harus berkembang seperti itu. Bahkan lebih parahnya, harus serta merta mirip negara yang katanya “maju”. Makan tuh contoh negara maju, pilpres saja debatnya teramat tidak penting untuk didengar.
Mau sampai kapan kita tidak datang untuk memahami terlebih dahulu, tapi hanya bersikap bak pahlawan kesiangan?
Komentar
Posting Komentar