Juventus Mulai Menemukan Batu

Terhitung pada tanggal 25 Februari 2020, berada di peringkat satu Serie A, ternyata tidak membuat banyak fans Juventus nyaman. Dimulai dari awal tahun melihat rival mengontrak Antonio Conte dan Giuseppe Marotta sebagai bagian mereka, hampir dijualnya Paulo Dybala, tidak adanya reinforcement di lini tengah, gagal dijualnya beberapa pemain yang menjadi beban klub, kurang menariknya Maurizio Sarri bagi fans, dipertanyakannya Buffon yang kembali ke Juve di umurnya sudah 42, dan tidak berkembangnya pemain akademi. Kontroversi antara Marrotta dengan Andrea Agnelli sempat juga menguak. Kemudian lanjut di musim ketika Chiellini dan Douglas Costa mengalami cedera serius, tidak meyakinkannya performa tim yang banyak memenangkan pertandingan dengan skor tipis, kurang harmonisnya lini tengah dan depan, kekalahan telak dari Lazio di piala Super Italia, tidak berkembangnya Aaron Ramsey dan Federico Bernardeschi, dan dijualnya Emre Can. Hingga pekan ke 25, Juventus hanya berbeda dua poin dengan Lazio dan empat pin dengan Inter Milan, hal yang sangat berbeda dengan 8 musim sebelumnya. Ada banyak alasan dan akibat lain tentunya, dan setiap orang tentu punya pandangan berbeda terhadap poin-poin tersebut.

Di Coppa Italia pun sudah mengalami hambatan sejak tahun lalu. Kekalahan dari tim yang begitu kental dengan ciri khas underdog, Atalanta, membuat perjalanan terhenti di quarter final. Di musim ini pun, penalti dari Cristiano Ronaldo yang kontroversial sedikit menyelematkan Juventus dari AC Milan di leg pertama semifinal.

Satu-satunya yang sepertinya lancar bagi Juventus adalah perkembangan tim di European Champions League. Kuasa meyakinkan atas Atletico Madrid, Bayern Leverkusen, dan Lokomotiv Moscow di fase grup sedikit memberikan harapan kepada para fans yang sudah menunggu dengan harap piala UCL datang lagi ke kota Turin. Ditambah dengan takdir akan bertemu Lyon di babak 16 besar, yang secara di atas kertas bisa dilewati oleh Juventus, harapan itu secara bertambah sedikit demi sedikit. Tetapi, secara garis besar, selain Atletico Madrid, Juventus belum bertemu dengan tim besar Eropa lainnya, seperti Liverpool, Manchester City, Real Madrid, atau Bayern Munich. Jadi pengalaman mengatakan, dengan dua kekalahan di final UCL di dalam sepuluh tahun terakhir, ekspektasi itu tetap harus dikontrol.

Tapi, ada beberapa hal yang bisa jadi perhatian. Pertama adalah kemungkinan besar Juventus lebih memfokuskan diri ke UCL, lebih banyak daripada musim sebelumnya. Tidak hanya karena rasa penasaran dan telinga yang gatal oleh pendukung Inter Milan, tetapi juga ada sedikit kebosanan dengan kurangnya ada perubahan dalam persaingan. Berkuasa total di Italia, tapi sering terhambat di kompetisi eropa. Tidak hanya di UCL, Juventus juga mengalami hal yang sama di European League ketika masih dibawah Antonio Conte. Selain itu, pembelian Cristiano Ronaldo oleh Andrea Agnelli memberi bukti bahwa manajemen juga mencoba mengambil shortcut solution untuk mencapai rasa penasaran tersebut.

Kedua, tim-tim Italia pun sepertinya sudah sangat bosan dengan dominasi Juventus. Tidak hanya Conte yang terang-terangan akan hal tersebut, ketika melakukan konferensi pers di Inter Milan, tapi determinasi dan strategi yang dipilih oleh tim-tim setiap melawan Juventus cukup menandakan hal tersebut. Miralem Pjanic yang sering menjadi jenderal dalam mengatur pola pertandingan, sering mengalami kewalahan akhir-akhir ini, terlepas dari temannya di lini tengah tidak terlalu mendukung. Selain itu, meskipun Cristiano Ronaldo kembali menemukan performanya di musim ini, tetapi setiap tim lawan selalu mempersiapkan skema terstruktur untuk menghentikan manusia mesin ini. Tidak mengherankan jika gol CR7 pun sebenarnya banyak dari kotak penalti. Pola permainan Juventus pun musim ini lebih gampang ditebak oleh tim lawan.

Ketiga, ritme tim yang masih belum mendapatkan performa stabilnya di musim ini. Tidak hanya karena di musim ini Juventus melakukan pergantian pelatih, yang punya ciri khas Sarri Ball, Cristiano Ronaldo, Pjanic, dan Chiellini pun sebenarnya terlalu dominan di dalam tim. Sehingga beberapa pemain cukup tertutup performanya dibanding beberapa pemain ini, salah satu alasan yang saya rasa mendorong motivasi Emre Can untuk dijual ke Borussia Dortmund. Dybala sekalipun meskipun sudah mendapatkan ritmenya dengan Cristiano Ronaldo, tetapi masih perlu proses untuk mencapai potensi terbaiknya, terutama karena harus sering mengalah ke tim untuk mengambil posisi lebih dalam, dalam membantu build-up tim.

Jadi, sejauh mata saya memandang saat ini, ini hanya proses yang harus dilewati Juventus. Kadang-kadang, batu itu sering muncul tanpa diketahui. Tidak perlu terlalu khawatir.

Komentar