[Resensi Buku] Yang Dipikirkan tentang Rudy Habibie
Dikarang oleh Gina S. Noer, buku ini saya beli ketika sedang mengambil banyak waktu lowong untuk memulihkan diri setelah melewati tahun 2019 yang cukup berliku, Dalam proses tersebut, saya mencoba mencari buku yang mencoba mengingatkan hal yang menarik bagi saya tetapi lama tidak diperhatikan atau terlupakan. Salah satunya adalah buku Rudy : Kisah Masa Muda Sang Visioner.
Alasan lain saya membeli buku ini adalah karena beliau baru saja meninggal pada waktu itu. Ada suatu prinsip yang saya pegang, bahwa saya tidak akan membeli resensi buku seseorang ketika yang bersangkut belum meninggal, terlepas apakah orang tersebut orang yang saya panuti atau enggak. Kebetulan, Habibie merupakan salah satu figur yang jadi role model saya dalam tumbuh kembang. Setelah meninggal, saya langsung memasukkan buku biografi beliau dalam wishlist. Buku baru saya beli sekitar awal Januari, di momen untuk refresh pikiran.
Ringkasan Buku
Buku ini dimulai dengan bercerita masa kecil Habibie di Pare - Pare. Lahir disana, tanggal 25 Juni 1936, Rudy tumbuh sebagai seseorang yang punya banyak pertanyaan mengenai sekitar dan hobi membaca buku, tetapi cukup gugup dalam berinteraksi sosial. Diceritakan juga tentang latar belakang keluarga bapaknya yang bernama Alwi Habibie yang merupakan seorang lulusan ilmu pertanian dan ibunya yang bernama Tuti Marini yang awalnya ibu rumah tangga dan guru bagi anak-anak di sekitar rumah. Tumbuh kembang Habibie dibantu oleh Tuti, terutama mengenai kedisiplinan, karakter, dan pergaulan sosial, sedangkan Alwi lebih banyak membantu mengenai pengembangan ilmu pengetahuan. Lewat Alwi juga, Habibie belajar untuk jangan membenci pesawat terbang, meskipun awal perkenalan beliau dengan moda transportasi udara tersebut ketika zaman perang.
Singkat cerita lewat penuturan buku ini, setelah Alwi meninggal secara mendadak ketika sholat berjemaah, Tuti berjanji untuk membawa semua anaknya untuk sekolah tinggi. Untuk merealisasikan hal tersebut, dia menjual semua tanah perkebunan di Pare-Pare dan pindah ke Bandung, untuk menyusul Habibie yang sudah duluan di Jawa untuk melanjutkan sekolah. Di Bandung, Tuti banyak merintis bisnis, di anataranya usaha kosan dan hotel. Habibie sendiri melanjutkan pendidikan di fakultas teknik Universitas Indonesia (sekarang ITB) setelah lulus SMA. Pengalaman masa ospek Habibie diceritakan pada bagian ini, yang membentuk pemahamannya di masa depan bahwa ospek tidak terlalu berguna. Tetapi pengalaman kuliah tersebut tidak sampai setahun, karena Habibie memutuskan mengikuti temannya, Lim Keng Kie, untuk kuliah di Jerman, demi mimpinya membangun industri penerbangan di Indonesia. Sebuah keputusan yang awalnya dipertanyakan, karena selain ujiannya cukup sulit, tetapi program beasiswa sudah ditutup.
Selama di Jerman, Habibie merasakan tanggung jawab yang sangat tinggi ketika kuliah. Selain ambisi pribadi membangun industri penerbangan, tetapi kuliahnya dibiayai ibunya, tidak dengan beasiswa seperti teman-temannya. Teman-temannya banyak yang mengambil beasiswa karena mengejar pembangunan Indonesia yang baru saja merdeka. Bahkan teman-temannya banyak yang berkuliah sebagai hutang budi pemerintah kepada mahasiswa yang menangguhkan kuliahnya untuk sementara, karena membantu perang kemerdekaan. Dengan perbedaan keadaan seperti ini dan biaya kiliah yang cukup mahal di Jerman, Habibie menargetkan untuk lulus kuliah secepatnya, agar tidak membebankan ibunya.
Tetapi dalam keberjalanan waktu, Habibie mulai merasa tidak ada kesinkronan antara mahasiswa yang sedang menuntut ilmu dengan apa yang akan dilakukan ke depannya di Indonesia. Hal ini mendorong Habibie untuk mengikuti PPI dan berperan aktif dalam Seminar Pembangunan I dan II. Dan dalam organisasi ini juga, perhatian Habibie yang tidak terlalu mencoba memperdulikan situasi politik mulai mengenai batunya. Terutama golongan yang dekat dengan Soekarno dan membutuhkan banyak dukungan mahasiswa untuk mempertahankan kekuasaan di Indonesia.
Sikap yang agak mengabaikan situasi dan kondisi politik ini juga mengenai batunya ketika membantu riset profesor, yang direncanakan sebagai disertasinya untuk lulus kuliah S3. Karena sikap politik Indonesia saat itu yang berseberangan dengan NATO, riset yang sedang Habibie kerjakan ditarik di depan matanya. Dengan alasan kerahasiaan, Habibie tidak bisa melanjutkan riset tersebut dan harus mencari topik lain untuk dikerjakan sebagai syarat kelulusan S3.
Buku ini juga menjelaskan hubungan asmara Habibie dimulai dekat dengan senior selama kuliah, berhubungan dengan Ilona, warga Jerman keturunan Polandia, sebelum dijodohkan oleh Tuti dengan Ainun. Dan juga sebagian kecil pengalaman tidak mengenakan yang harus dilewati oleh teman dekat Habibie, Lim Keng Kie, meskipun lewat beliau fakultas penerbangan ITB dirintis, tetapi kondisi politik yang tidak menguntungkan dan membahayakan, membuat tidak bisa membantu banyak Habibie ke depannya.
***
Menurut saya, buku ini cukup memberikan gambaran kepada orang-orang apa yang dilewati oleh Habibie selama masa kecil hingga melewati masa mudanya. Pemahaman dan pengalaman yang dilewati oleh Habibie digambarkan lewat buku ini. Sayangnya dalam buku ini, dalam selera saya, pemilihan kata atau alur pembawaan yang digunakan terlalu cringe. Terutama dalam proses-proses sulit yang dilewati oleh Habibie. Tidak bisa disalahkan juga, karena mungkin ada dua faktor. Pertama Habibie sendiri yang ketika bercerita lebih banyak bernostalgia. Dan kedua target audience ingin dikejar oleh Gina S. Noor. Ketika saya mengetahui bahwa penulis buku juga pernah menjadi penulis skenario beberapa film seperti Ayat-ayat Cinta dan Habibie Ainun, dimana sangat menonjolkan intimasi hubungan antar tokoh, saya memaklumi gaya bahasa buku ini bukan selera saya.
Selain itu, hal yang sebenarnya penasaran bagi saya adalah, kurangnya eksplorasi hubungan Habibie dengan Soekarno dan Soeharto. Terutama dengan Soeharto, yang awalnya dari hubungan baik perkenalan di Sulawesi, dan bagaimana efeknya dalam membantu mengembangkan iptek di Indonesia, sebelum hubungan tersebut kandas setelah Timor Leste lepas dari Indonesia.
Tapi sejauh ini, walau bagi saya cringe, tetapi juga karena saya seorang yang punya latar belakang engineer, visi dan motivasi hidup Habibie mengenai perkembangan iptek di Indonesia cukup tergambarkan prosesnya lewat buku ini. Hal itu sudah cukup baik bagi saya.
My rate for this book is 3 from 5.
Komentar
Posting Komentar