Kembali ke Tanah Flores
Setelah sekitar hampir 6 tahun, akhirnya diri saya menjejakkan kaki lagi di salah satu pulau di kepulauan Sunda. Dan dalam 6 tahun tersebut, perubahan begitu terasa. Setelah sekitar lebih dari satu hari di Labuan Bajo, ada baiknya saya merefleksikan ulang apa yang saya lewati, dibenturkan dengan pengalaman dahulu dan apa yang dipahami. Black coffee dari kafe La Bajo, di sekitar Kampung Ujung menjadi teman.
Sebelum menuju kafe La Bajo, saya menyewa sepeda listrik dari NOA Bike dan berkeliling sekitar Kampung Ujung hingga sedikit agak jauh ke selatan, dimana pemandangan penginapan dan toko tidak lagi terlihat. Menariknya, jalur trotoar dan bahkan sepeda cukup tersedia disana, tidak hanya di daerah padat turis. Saya pun makan di tempat makan siang ayam kampung terasi di tempat yang tidak ada turis sama sekali, hanya penduduk sekitar. Sebuah poin plus dari pembangunan besar-besaran ini, dimana tidak terkosentrasi ke satu tempat atau pihak saja yang diuntungkan. (Anyway, untuk yang berkunjung ke Labuan Bajo, layanan penyewaan sepeda dari NOA Bike boleh dicoba. Walau mungkin harga penyewaan tidak terlalu murah, tapi untuk lini bisnis yang sedang merintis lewat pilot project di Labuan Bajo dan Surabaya, anggaplah sebagai insentif awal untuk mendorong bisnis transportasi yang lebih bersih di daerah pariwisata, hingga nantinya ada proses menuju lebih murah).
Salah satu pemicu terbesarnya adalah pemanfaatan potensi pariwisata di Indonesia. Sebagai bagian wisata prioritas yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, bahkan dengan rencana wisata premiumnya di kemudian hari, pembangunan memang sangat terasa digalakkan disini. Dorongan ini makin diperkencang di tahun 2020 dan 2021, untuk mengejar target menjadi bagian konferensi dunia G20 (walau dengar-dengar kabar terakhir, kemungkinan lokasi konferensi akan dipindahkan di Bali). Pengembangan kawasan Marina beserta hotel bintang 5 yang cukup megah menjadi penampakan simbolik dari niat pemerintah pusat dan flores untuk mendorong konsep wisata premium.
Pro kontra pembangunan memang begitu jamak di Labuan Bajo, bahkan sudah sejak persiapan Sail Komodo 2013. Sejak saat itu, di kalangan pengembang dan pebisnis mulai melihat potensi nyata dari pariwisata di Flores. Sorotan keras dari khalayak nasional muncul di sekitar tahun ini, dimana foto komodo sedang menghadang truk berat yang membawa bahan bangunan konstruksi pembangunan di Pulau Rinca.
Saya tentu mengapriasi tentang pembangunan trotoar dan jalur sepeda, karena menjadi potensi mendorong budaya transport lebih ramah lingkungan. Tidak hanya bagi pengunjung, tapi juga warga sekitar. Tetapi, potensi ketidakadilan sosial, baik bagi warga di Flores atau bagi pengunjung pariwisata, perlu diperhatikan dan dievaluasi.
Belum pemaknaan filosofi dari pariwisata sendiri, juga perlu didiskusikan lebih jauh juga. Bagaimanapun, konsumen datang kesuatu tempat untuk merasakan alam dan budaya yang berbeda, bukan dengan budaya yang dari tempat asal. Dari sanalah, pariwisata juga punya makna edukasi. Kembalinya saya ke tanah Flores, sedikit banyak ingin mengobservasi, sekaligus memikirkan dalam benak sejauh apa judgement saya tentang pariwisata perlu dievaluasi.
Komentar
Posting Komentar