Berpikir Jauh (Sedikit) tentang Mati Lampu

Karena disinggung oleh teman saya di dunia twitter @iMarhamahfa dan juga mention akun @infosumbar mengenai kejadian mati lampu yang sering terjadi di akhir-akhir ini di Padang, saya akan mencoba untuk membagi apa yang terlintas dalam pikiran saya.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebelumnya, baca dulu rujukan link ini http://jalaluddin-rumi-p.blog.ugm.ac.id/2012/12/08/distorsi-distribusi-energi-listrik-indonesia/
Dapat dilihat dalam link tersebut, perkembangan distribusi energi listrik di Indonesia teramat tidak merata. Terdapat penumpukan aliran daya di pulau Jawa, tetapi tidak pada pulau-pulau lainnya. Hal tersebut sesuai dengan yang warga Sumbar rasakan. Begitu juga dengan posisi saya yang saat ini berada di kota Medan, juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Sekedar info, saking kesalnya masyarakat karena sering mati lampu sewaktu bulan Ramadhan, udah beberapa kali terjadi demo masyarakat ke PLN. Yang paling santer, terjadi malam kemarin (29 Juli 2013). http://www.metrosiantar.com/2013/listrik-kerap-padam-secara-sporadis-usai-tarawih-warga-demo-kantor-pln/

Sebelum saya membahas lebih jauh, ada satu hal yang mesti kita pahami bersama terlebih dahulu.
“Sumber mengikuti beban, bukan sebaliknya”.

Jangan samakan kondisi zaman sekarang dengan kondisi ketika penemuan bola lampu oleh Thomas Alva Edison. Saat Thomas Alva Edison berusaha menemukan bola lampu yang efisien (karena sesungguhnya sudah ada yang menemukan bohlam sebelumnya), Edison tentunya sudah harus memiliki sumber listrik yang bisa digunakan setiap saat ketika melakukan eksperimen. Dan sumber yang digunakan bukanlah dari pembangkit, tetapi dari baterai hasil penemuan Alessandro Volta. Dan hal tersebut tidak bisa dilakukan untuk saat ini. Bagaimana mungkin pembangkit sudah sangat tersedia dengan daya paling minimal sekitar satuan kW (biasanya PLTA), tetapi beban belum tersedia? Yang ada malah akan terjadi mubazir, dan itu akan sangat merugikan secara finansial.

Dan harap diingat, penerangan ketika malam hari tidak sepenuhnya bisa dibilang sebagai beban yang mempunyai alasan yang sangat tepat sehingga penting untuk dipenuhi. Hal ini disebabkan penerangan malam hari hanyalah bonus dari daya yang pada siang hari digunakan untuk bekerja. Oleh sebab itulah kenapa kita dapat melihat mengapa pembangunan infrastrukur listrik lebih banyak dominan di pulau Jawa.

Dalam rancangan pembangunan Indonesia saat ini, jika kita membandingkan antara pulau Jawa dan pulau Sumatera, sektor Industri dan Jasa lebih dikembangkan di pulau Jawa, sedangkan di pulau Sumatera lebih dikembangkan mengenai sektor pertanian. Hal ini pun dipertegas dalam rancangan MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) untuk jangka tahun 2011-2025. Dan dari pembagian potensi wilayah ini dapat dilihat bahwa kebutuhan energi listrik lebih dibutuhkan di pulau Jawa. Hal yang sama juga menjadikan alasan kenapa saat ini untuk menjaga ketahanan energi listrik tidak terlalu diprioritaskan secara pendanaan. Inilah yang sering menyebabkan mati lampu.
* Mengenai pembagian potensi pengembangan ekonomi Indonesia selengkapnya dapat dilihat di http://kawasan.bappenas.go.id/images/MP3EI%20Versi%20Indo.pdf

Apa yang dapat kita dilakukan?
Karena ini postingan ada karena akun twitter saya dimention oleh teman saya dan juga mengetag akun @infoSumbar mengenai kasus mati lampu yang terjadi akhir-akhir ini, saya akan membatasi bahasan apa saja yang dapat kita lakukan.

- Mari menghemat listrik.
Ini langkah sederhana tapi sangat penting yang harus kita lakukan. Berapa banyak orang yang mengeluh karena mati lampu tetapi sesungguhnya mereka melakukan kesia-siaan untuk hal-hal yang tidak berguna? Andaikan saja mereka mau menghemat lampu 2 buah saja atau TV yang tidak ditonton, mereka dapat menghemat pengeluaran untuk pembayaran dan menghemat energi. Tentunya, ini akan menjadi investasi energi yang bagus untuk kehidupan masa depan.

- Stimulus perkembangan pembangunan ekonomi dan infrastruktur energi terbarukan di daerah-daerah. (Ini langsung berhubungan dengan mimin @InfoSumbar.)
Menurut Ciputra, seorang pengusaha ternama di Indonesia, suatu negara dapat dikatakan maju jika mempunyai enterpreneur sebanyak 2 persen dari total penduduknya. Kondisinya saat ini, menurut data dari Kadin, jumlah enterpreneur Indonesia hanyalah 0.18 persen. Selain itu, meskipun proyeksi pembangunan ekonomi Indonesia lebih menitikberatkan pembangunan infrastruktur listrik yang lebih dibutuhkan di pulau Jawa, tapi listrik tetap dibutuhkan di pulau-pulau lainnya. Masih zaman menggiling padi secara manual kayak orang tempoe doeloe? Enggak kan? Di pulau Jawa, saking membutuhkan energi listrik, beberapa sektor industri tidak hanya mengandalkan PLN, tetapi juga membangun PLTMH. Bahkan PLTMH itu sendiri di bangun atas inisiasi masyarakat setempat.
Oleh sebab itu, saya terharap berharap kepada akun @infoSumbar untuk menstimulus para followernya untuk berani menjadi seorang enterpreneur dengan menyajikan info-info menarik tentang potensi Sumbar. Mungkin sebagai salah satu opsi yang dapat saya sarankan adalah mimin @infoSumbar dapat bekerja sama dengan akun @IBD45 (Indonesia Bangun Desa). Selain itu, saya juga berharap akun ini menyebarkan info tentang energi terbarukan (salah contohnya dengan menyajikan lomba-lomba menarik mengenai pengembangan energi terbarukan).

Sekian saja, yang baik harap diterima dan yang buruk jangan langsung ditinggalkan, berikanlah kritik. Mari sama-sama belajar buat Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang lebih sustainable. :)



Salam,

Fuad Afif Herya

Komentar

  1. acok2 se ngeblog ad.
    mozaicofmo.wordpress.com

    BalasHapus
  2. Terima kasih sudah menstimulus akun twitter @IBD45 dengan @infosumbar. Suatu saat kami berharap bisa memberikan sumbangsih untuk ranah minang ini :)

    kunjungi www.indonesiabangundesa.org dan subscribe emailnya untuk informasi terbaru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke, sama2. Semoga lancar dan sukses kerjasamanya :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo