Inspirasi Tahun 2016 dari Leicester City FC
Kalau tidak salah, di tulisan sebelumnya di blog ini saya pernah mengatakan klub favorit saya adalah Juventus. Rasanya meskipun tulang saya warnanya putih, tapi kalau udah ngedukung La Vecchia Signora darah saya berubah warna menjadi hitam. Khusus tahun ini, Juventus baru saja melalui musim yang cukup menarik untuk diperhatikan dan jadi bahan obrolan, meskipun klub ini dihentikan Bayern Muenchen untuk menjadi juara Liga Champions.
Tapi, berpikir secara rasional, bagi saya ada cerita yang lebih menarik daripada klub pujaan ini, yaitu Leicester City. Berkat Chelsea yang menahan seri Tottenham di waktu penentuan, Leicester mencapai sejarah dengan menjadi juara Premier League musim 2015/2016. Kecuali pendukung Tottenham yang masih kesal, yang tertarik dengan apa yang terjadi klub ini tidak hanya saya. Gambar dibawah sebagai bukti. Yang retweet postingan akun ofisial twitter Leicester mencapai 360 ribu! Seumur-umur saya bermain twitter, belum pernah rasanya melihat yang retweet postingan mencapai segitu banyak. Bahkan saya yakin yang retweet bakal semakin bertambah.
Jauh sebelum musim 2015/2016 dimulai, peluang Leicester untuk menjuarai BPL sangat tergolong kecil. Menurut orang-orang yang hobi bermain judi, peluang untuk juara di rumah bursa sekitar 1/5000, atau 0.02%. Perhitungan yang sebetulnya cukup bisa dipegang bagi para penikmat bola, karena bagi pejudi sejati, segala kemungkinan harus diperhitungkan sangat harus dipertimbangkan dengan matang (Kalau kalah, rugi besar bro!). Perhitungan yang rasanya sangat masuk akal, karena pada musim sebelumnya Leicester bahkan sempat dalam beberapa pekan berada di posisi paling buncit.
Belum lagi kalau melihat rival klub besar yang begitu ngotot untuk memperkuat skuadnya dengan dengan kekuatan finansial yang cukup kuat. Tottenham, rival terdekat, selain mempertahankan Eriksen dan Harry Kane, mendatangkan pemuda berbakat Delle Alli dan pujaan Korea Selatan Son Heung Min. Manchester City mendatangkan Kevin de Bruyne dan Raheem Sterling. Liverpool mendatangkan jagoan baru dari Brazil, Roberto Firminho. Manchester United juga tidak diam dengan turut serta mendatangkan bek andalan dari Italia, Matteo Darmian dan menghalau tangan Real Madrid untuk merekrut kiper terbaik mereka, David De Gea. Chelsea, juara bertahan, lebih memilih memperkuat pemain cadangan sebagai persiapan menghadapi Liga Champion. Mungkin hanya Arsenal yang bagi saya tidak melihatkan suatu ambisi selama satu dekade. Bukan hanya jarang membeli pemain baru berkualitas, tapi juga tidak mempertahankan pemain yang menjadi inti klub. Pelatih mereka, Arsene Wenger, menurut saya orang yang sangat jenius dan motivator handal. Tapi sayangnya karena beliau sudah tua, mungkin sudah sering cepat merasa lelah.
So, how could Leicester win BPL this year?
Kondisi skuad lama dan skuad baru
Diambil dari wikipedia, berikut ini adalah skuad Leicester City FC ketika mereka hampir terdegradasi pada musim 2014/2015.
Jujur saja, saya hanya mengetahui Kasper Schemeichel, karena anak dari legenda Denmark, Peter Schemeicel, yang berakibat jadi beban bagi Kasper untuk berkembang. Kemudian Marc Albrighton, karena sebelumnya berada di Aston Villa, klub favorit saya di BPL (bertahun-tahun berkembang dengan sangat bikin saya kesal, hingga degradasi pada musim ini). Selain itu, Esteban Cambiasso yang pindah dari klub rival abadi Juventus, Inter Milan. Dan Mark Schwarzer, kalau bukan pernah jadi cadangan di klub besar dan berwarga negara Australia, mungkin saya gak bakal pernah tahu. Selebihnya? Entahlah. Termasuk Jamie Vardy, Danny Drinkwater, Wes Morgan, dan Bahkan Riyad Mahrez sekalipun, peraih PFA tahun ini. Tidak ada yang saya kenal.
Harus diakui ketidaktahuan saya karena lebih mengikuti serie A, dibandingkan BPL. Tapi jika pembaca bertemu dengan saya dijalan dan bertanya beberapa orang pemain cadangan Manchester City atau Chelsea dan bagaimana keahlian setiap nama yang saya sebutkan, saya yakin bisa menjawab.
Selanjutnya mari kita lihat skuad juara BPL musim 2015/2016.
Manajemen Klub
Tapi, berpikir secara rasional, bagi saya ada cerita yang lebih menarik daripada klub pujaan ini, yaitu Leicester City. Berkat Chelsea yang menahan seri Tottenham di waktu penentuan, Leicester mencapai sejarah dengan menjadi juara Premier League musim 2015/2016. Kecuali pendukung Tottenham yang masih kesal, yang tertarik dengan apa yang terjadi klub ini tidak hanya saya. Gambar dibawah sebagai bukti. Yang retweet postingan akun ofisial twitter Leicester mencapai 360 ribu! Seumur-umur saya bermain twitter, belum pernah rasanya melihat yang retweet postingan mencapai segitu banyak. Bahkan saya yakin yang retweet bakal semakin bertambah.
Saya tidak sendirian yang turut senang dengan prestasi Leicester City |
Jauh sebelum musim 2015/2016 dimulai, peluang Leicester untuk menjuarai BPL sangat tergolong kecil. Menurut orang-orang yang hobi bermain judi, peluang untuk juara di rumah bursa sekitar 1/5000, atau 0.02%. Perhitungan yang sebetulnya cukup bisa dipegang bagi para penikmat bola, karena bagi pejudi sejati, segala kemungkinan harus diperhitungkan sangat harus dipertimbangkan dengan matang (Kalau kalah, rugi besar bro!). Perhitungan yang rasanya sangat masuk akal, karena pada musim sebelumnya Leicester bahkan sempat dalam beberapa pekan berada di posisi paling buncit.
Belum lagi kalau melihat rival klub besar yang begitu ngotot untuk memperkuat skuadnya dengan dengan kekuatan finansial yang cukup kuat. Tottenham, rival terdekat, selain mempertahankan Eriksen dan Harry Kane, mendatangkan pemuda berbakat Delle Alli dan pujaan Korea Selatan Son Heung Min. Manchester City mendatangkan Kevin de Bruyne dan Raheem Sterling. Liverpool mendatangkan jagoan baru dari Brazil, Roberto Firminho. Manchester United juga tidak diam dengan turut serta mendatangkan bek andalan dari Italia, Matteo Darmian dan menghalau tangan Real Madrid untuk merekrut kiper terbaik mereka, David De Gea. Chelsea, juara bertahan, lebih memilih memperkuat pemain cadangan sebagai persiapan menghadapi Liga Champion. Mungkin hanya Arsenal yang bagi saya tidak melihatkan suatu ambisi selama satu dekade. Bukan hanya jarang membeli pemain baru berkualitas, tapi juga tidak mempertahankan pemain yang menjadi inti klub. Pelatih mereka, Arsene Wenger, menurut saya orang yang sangat jenius dan motivator handal. Tapi sayangnya karena beliau sudah tua, mungkin sudah sering cepat merasa lelah.
So, how could Leicester win BPL this year?
Kondisi skuad lama dan skuad baru
Diambil dari wikipedia, berikut ini adalah skuad Leicester City FC ketika mereka hampir terdegradasi pada musim 2014/2015.
Jujur saja, saya hanya mengetahui Kasper Schemeichel, karena anak dari legenda Denmark, Peter Schemeicel, yang berakibat jadi beban bagi Kasper untuk berkembang. Kemudian Marc Albrighton, karena sebelumnya berada di Aston Villa, klub favorit saya di BPL (bertahun-tahun berkembang dengan sangat bikin saya kesal, hingga degradasi pada musim ini). Selain itu, Esteban Cambiasso yang pindah dari klub rival abadi Juventus, Inter Milan. Dan Mark Schwarzer, kalau bukan pernah jadi cadangan di klub besar dan berwarga negara Australia, mungkin saya gak bakal pernah tahu. Selebihnya? Entahlah. Termasuk Jamie Vardy, Danny Drinkwater, Wes Morgan, dan Bahkan Riyad Mahrez sekalipun, peraih PFA tahun ini. Tidak ada yang saya kenal.
Harus diakui ketidaktahuan saya karena lebih mengikuti serie A, dibandingkan BPL. Tapi jika pembaca bertemu dengan saya dijalan dan bertanya beberapa orang pemain cadangan Manchester City atau Chelsea dan bagaimana keahlian setiap nama yang saya sebutkan, saya yakin bisa menjawab.
Selanjutnya mari kita lihat skuad juara BPL musim 2015/2016.
Jika di awal musim ada peramal yang berkata kepada saya bahwa Riyad Mahrez akan menjadi peraih PFA dan Jamie Vardy calon kuat top skor, saya pasti heran. Mungkin hanya pendukung sejati Leicester yang yakin. Bahkan itu respon saya mengenai skuad lama yang dipertahankan.
Dari pemain baru yang datang atau pemain muda yang dipromosikan ke skuad utama, hanya Gokhan Inler yang saya tahu. Selain mantan pemain utama Napoli, Inler merupakan kapten dari tim nasional Swiss. Lucunya, Inler lebih sering menjadi cadangan, karena kalah bersaing dari pemain yang bahkan bagi Didier Deschamps, pelatih timnas Prancis, tidak akan memanggilnya jika Leicester tidak melewati musim yang fantastis. Namanya Ngolo Kante. Who is he?
Pelatih Baru Musim 2015/2016: Claudio Ranieri
Pelatih yang menangani Leicester musim sebelumnya adalah Nigel Pearson. Meskipun banyak yang tidak tahu dan hampir membuat LCFC degradasi musim lalu, Nigel Pearson adalah pelatih yang membawa klub ini naik kasta dari divisi Championship pada musim 2013/2014 dengan menjuarainya. Walaupun Ranieri mempunyai pengalaman yang lebih banyak, banyak pendukung Leicester yang tidak yakin dengan penggantiannya. Pengalaman terakhir sebagai pelatih timnas Yunani yang amburadul sebagai alasan banyak orang. Apalagi Ranieri juga pernah melatih Juventus, yang pada musim kedua melatih juga sangat kacau balau. Walau harus diakui, kondisi Juventus waktu Ranieri melatih memang sangat tidak stabil, karena banyak terjadi rekontruksi di dalam internal Juventus.
Bahkan legenda Leicester City tidak yakin dengan Claudio Ranieri |
Melihat uraian skuad Leicester dan pelatih di atas, saya termasuk yang tidak yakin dengan kesuksesan klub pada awal musim 2015/2016.
Pemimpin dari Leicester adalah Vichai Srivaddhanaprabha, pengusaha dari Thailand. Awalnya pada tahun 2010 Vichai hanya bagian sponshorship Leicester, dari perusahaan King Power. Tetapi pada tahun 2011, Vichai mulai mengambil alih kepimpinan.
Tidak ada yang istimewa dari dari penampakan fisik atau akademi ketika dibawah kepimpinan Vichai. Hanya ambisi Vichai yang berkata bahwa dalam beberapa tahun setelah Leicester naik kelas ke BPL, klub ini masuk dalam termasuk papan atas klub Inggris. Tapi langkah strategis yang dilakukan oleh Vichai belum saya temukan. Sejauh pengamatan saya, mereka hanya mendatangkan Biksu dari Thailand untuk melakukan program meditasi kepada para pemain dan staf klub. Hanya itu.
Sudah saya akui, saya belum menemukan langkah strategis yang ingin dilakukan Vichai lewat mbah google. Tetapi, dalam proses kerja media, alasan kenapa suatu isu tidak ada adalah antara memang tidak ada atau bukan suatu isu yang menarik untuk dibaca oleh khalayak umum. Mudah-mudahan setelah Leicester juara, wartawan Inggris yang terkenal ngotot bisa menemukan fakta-fakta menarik dari rencana Vichai mengenai Leicester City FC.
****
Jika melihat uraian di atas, dapat dilihat bahwa Leicester bukanlah klub yang tergolong siap untuk menjadi juara BPL 2015/2016. Bahkan, jika dibandingkan dengan skuad lain, bahkan setelah juara pada musim ini, saya masih melihat beberapa pemain andalan mereka masih kalah dibandingkan pemain klub lain, sekalipun Riyad Mahrez. Bagi saya Kevin De Bruyne atau Juan Mata masih lebih baik secara skill dibandingkan Mahrez. Begitu juga Jamie Vardy yang kalah jumlah gol dari Harry Kane dan Ngolo Kante jika dibandingkan Nemanja Matic. Bahkan kapten mereka, Wes Morgan, saya masih melihat aura kepemimpinan Vincent Kompany lebih baik.
Begitu juga dari segi pelatih dan manajemen. Masih banyak pelatih yang punya deretan prestasi lebih mentereng dari Ranieri. Dari segi finansial dan manajemen, Leicester belum saya lihat sebagai tim yang kuat untuk bersaing (setidaknya sampai saya menemukan laporan menarik yang bisa menjelaskan). Sekali lagi, tak salah bursa pasar meletakkan Leicester di 1/5000.
Tapi ada beberapa hal yang suit dibuktikan, tapi bisa dirasakan dan diperhatikan. Pertama, pengalaman Ranieri berbicara. Setelah Juventus kembali promosi ke Serie A setelah terkena kasus Calciopoli, Ranieri ditunjuk menjadi pelatih. Prestasi yang bisa dibilang cukup baik, karena Juventus langsung berada di peringkat 2, di bawah Inter Milan yang masih sangat berkuasa. Sayangnya, manajemen Juventus tetap memecat Raneri pada musim kedua, karena janji Ranieri untuk menjadi juara liga tidak tercapai di musim selanjutnya.
Pada musim ini, Ranieri saya lihat bisa bersikap lebih bijak. Ketika ditanyai wartawan tentang peluang menjadi juara, melihat kondisi klub yang berkembang secara anomali dan ganasnya media Inggris, Ranieri selalu berusaha untuk menjaga spekulasi yang berkembang. Walaupun sudah jauh-jauh pekan Leicester sudah dipastikan masuk Liga Champion, Ranieri selalu berkata untuk tidak menargetkan juara.
Kedua, kepercayaan dari pemimpin klub kepada staf untuk menjalankan tugas. Selama Leicester menjalani musim, kita tak pernah melihat berita miring mengenai intervensi Vichai ke jajaran staf. Hal yang jauh berbeda dengan Roman Abramovich di Chelsea atau Selvio Berlusconi di AC Milan. Dibandingkan Chelsea, mungkin AC Milan lebih menyedihkan kondisinya. Intervensi yang berlebihan menyebabkan perkembangan klub yang ngawur, walau mengeluarkan biaya transfer yang lebih besar dibandingkan Leicester City.
Ketiga, tidak ada satupun yang bersifat "Aku" dalam tim. Sangat terlihat ketika Jamie Vardy harus dikartu merah setelah melawan West Ham dan harus disuupensi 2 pertandingan. Berita mengenai rencana Leicester untuk melakukan banding menguap untuk Vardy begitu saja. Kepercayaan kepada Leonardo Ulloa untuk menggantikan Vardy benar-benar kuat, hingga bisa mencetak 2 gol. Bahkan ketika melawan MU, Ulloa tetap dipercayakan dan tidak banyak obrolan konferensi pers tentang Jamie Vardy. Hal yang cukup mengangumkan.
Selain itu, mungkin sedikit yang sadar dengan Andy King. Pemain ini sejak akademi bermain untuk Leicester hingga sekarang. Bahkan Andy King sudah tergolong pemain yang sering tampil untuk Leicester dan calon kuat legenda klub. Tetapi kedatangan Ngolo Kante di awal musim, menggeser posisi Andy, tidak hanya mengalahkan Gokhan Inler. Fakta yang sangat jelas untuk menunjukkan bahwa tidak ada "Aku" dalam tim.
****
Kembali ke judul. Tidak salah jika menyebut Leicester adalah inspirasi untuk tahun ini. Tidak hanya di sepakbola, dimana klub-klub kecil yang sering tidak berdaya secara finansial dan pemain-pemain terbaik mereka diangkut ke klub besar, tetapi semangat ini bisa diaplikasikan ke segala sisi umat manusia saat ini.
Tidak hanya di sepakbola, dimana kapitalisme begitu berkuasa. Demokrasi yang diharapkan bisa menjadi corong bagi banyak orang untuk bersuara atau bersikap, menjadi sulit ketika orang yang mengontrol suatu bidang terkait menggunakan power yang digunakan hanya untuk kepentingan pribadi. Sudah hal biasa melihat banyak orang putus asa. Kekerasan atas nama pembangunan atau ekonomi sudah sangat sering. Atau kontrol opini publik untuk melancarkan suatu kebijakan yang diharapkan sudah biasa, terutama lewat media.
Leicester, dengan ketidakberdayaannya, mampu menaklukkan BPL yang sudah sangat dikenal dengan kuasa modalnya. Harusnya ini jadi inspirasi bagi kita. Bahwa masih ada 1 dalam 5000.
Selain itu, mungkin sedikit yang sadar dengan Andy King. Pemain ini sejak akademi bermain untuk Leicester hingga sekarang. Bahkan Andy King sudah tergolong pemain yang sering tampil untuk Leicester dan calon kuat legenda klub. Tetapi kedatangan Ngolo Kante di awal musim, menggeser posisi Andy, tidak hanya mengalahkan Gokhan Inler. Fakta yang sangat jelas untuk menunjukkan bahwa tidak ada "Aku" dalam tim.
****
Kembali ke judul. Tidak salah jika menyebut Leicester adalah inspirasi untuk tahun ini. Tidak hanya di sepakbola, dimana klub-klub kecil yang sering tidak berdaya secara finansial dan pemain-pemain terbaik mereka diangkut ke klub besar, tetapi semangat ini bisa diaplikasikan ke segala sisi umat manusia saat ini.
Tidak hanya di sepakbola, dimana kapitalisme begitu berkuasa. Demokrasi yang diharapkan bisa menjadi corong bagi banyak orang untuk bersuara atau bersikap, menjadi sulit ketika orang yang mengontrol suatu bidang terkait menggunakan power yang digunakan hanya untuk kepentingan pribadi. Sudah hal biasa melihat banyak orang putus asa. Kekerasan atas nama pembangunan atau ekonomi sudah sangat sering. Atau kontrol opini publik untuk melancarkan suatu kebijakan yang diharapkan sudah biasa, terutama lewat media.
Leicester, dengan ketidakberdayaannya, mampu menaklukkan BPL yang sudah sangat dikenal dengan kuasa modalnya. Harusnya ini jadi inspirasi bagi kita. Bahwa masih ada 1 dalam 5000.
"Dilly-Ding, Dilly-Dong!!" Claudio Ranieri
Komentar
Posting Komentar