Mendidik ala Konfusius

Sehari kemarin, tepatnya tanggal 2 Mei Indonesia merayakan hari pendidikan nasional, atau disingkat Hardiknas. Berhubung saya baru saja membaca buku "Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik: Kunci Sukses Para Manajer dan Pemimpin" karangan Michael C. Tang, saya melihat ada cerita menarik yang ingin dibagikan mengenai cara Konfusius mendidik muridnya.

****

Seorang Guru Teladan

Saat masih muda, Konfusius mendapatkan pekerjaannya yang pertama sebagai penjaga lumbung seorang bangsawan setempat. Setelah beberapa saat, ia ditunjuk sebagai pengawas di Departemen Pertanahan dan Panen, kemudian menjadi pengawas di berbagai kantor pemerintahan di Negara Lu. ia mulai mengajar ketika berusia hampir tiga puluh tahun di waktu senggangnya. Konfusius tidak hanya mengajar pengetahuan dan keahlian. Ia mengajar cara mengasah pikiran dan memperoleh integritas. Pada waktu itu, pendidikan hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan. tetapi, Konfusius tidak mengikuti monopoli pendidikan tersebut. Ia percaya bahwa pendidikan seharusnya tidak dibatasi oleh perbedaan kelas, dan bahwa setiap orang, apa pun latar belakangnya, berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Ia mengumumkan bahwa ia akan menerima setiap orang yang ingin belajar. Ia hampir tidak pernah menyebut soal uang, dan menerima murid-murid dengan tidak memandang berapa banyak mereka membayarnya.

Konfusius sedang mengajar (sumber :http://www.telegraph.co.uk/sponsored/china-watch/culture/11864287/china-teachers-day-education-facts.html)

Yan Hui, seorang pemuda dari keluarga miskin merasa tidak mampu membayar uang sekolah. Tetapi ia mendengar Konfusius berkata, "Aku tidak akan menolak siapa pun, meskipun ia hanya mampu membayar dengan sepuluh potong daging kering sebagai uang sekolah." Tak lama kemudian, ia menjadi murid Konfusius.

Murid-murid Konfusius, tua dan muda, kaya dan miskin, berkumpul di sekitarnya. Ia mempunyai lebih dari tiga ribu murid. Tujuh puluh dia orang di antara mereka adalah teman baik yang juga menjadi muridnya. Yang paling terkenal adalah Zilu, seorang yang sangat bersemangat, tanpa basa basi dan berani; Zigong yang pandai, diplomatis, tampan, dan stabil; Ran Qiu yang kompeten, penuh perhitungan, dan berani berdebat mengenai prinsip; Zeng Shen yang terkenal karena pengabdiannya; dan Yan Hui, murid kesayangan Konfusius yang berasal dari keluarga miskin, tetapi rajin, dapat diandalkan, dan pendiam. Konfusius menyampaikan pelajarannya dalam bentuk diskusi. Murid-muridnya didorong untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya secara bebas dan mandiri. Ia menyesuaikan metode pengajarannya pada tiap individu.

Suatu ketika Zilu bertanya apakah ia harus segera mempraktikan apa yang telah dipelajarinya, Konfusius malah menyuruhnya untuk berkonsultasi dengan ayah dan saudara laki-lakinya sebelum bertindak. Tetapi ketika Ran Qiu menanyakan hal pertanyaan yang sama, Konfusius menyuruhnya untuk segera melaksanakan apa yang telah dipelajarinya. Salah seorang muridnya menjadi bingung dengan perbedaan jawaban atas pertanyaan yang sama. Konfusius menjelaskan, "Ran Qiu cenderung ragu-ragu, maka aku memaksanya. Sedangkan Zilu sangat antusias, maka aku mencoba meredamnya sedikit." Konfusius memaksa murid-muridnya berpikir untuk diri mereka sendiri.

"Jika aku menjelaskan satu sudut dari suatu topik, saya mengharapkan ia dapat memahami ketiga sudut lainnya sendiri. Jika ia tidak dapat melakukannya, aku akan menyuruhnya pergi."

Ia memberi tahu murid-muridnya,"Yang paling mulia adalah orang yang lahir dari kebijaksanaan. berikutnya orang yang menjadi bijaksana melalui belajar. Berikutnya lagi adalah mereka yang baru mau belajar setelah mengalami kesulitan hidup. Yang paling buruk adalah mereka yang tidak mau mencoba belajar."

"Kau harus belajar seakan-akan kau akan dapat menguasai apa yang telah kau pelajari, dan memegang seakan-akan kau takut kehilangannya." Tetapi,"belajar tanpa berpikir adalah usaha yang sia-sia; dan berpikri tanpa belajar adalah berbahaya."

Konfusius sangat menyukai orang muda. "Orang muda," katanya, "harus diperlakukan dengan hormat. Bagaimana kau bisa tahu bahwa mereka tidak akan menjadi sama dengan kau pada suatu hari.? Orang yang telah mencapai usia empat atau lima puluh tahun tanpa menghasilkan apa-apa tidak patut dihormati."

Reputasinya sebagai guru dan cendekiawan tersiar dengan cepatnya. Bahkan, pegawai pemerintahan mengirimkan anak-anak mereka untuk belajar kepadanya.


****

Jika Konfusius melihat sistem pendidikan yang berkembang sejak perang dunia II usai, mungkin beliau akan protes kali ya. Jika disesuaikan dengan konteks cerita di atas, gambar di bawah adalah yang terjadi pada saat ini.

sumber: http://www.memedroid.com/gallery/327936


Tidak hanya kritik untuk sistem pendidikan saat ini. Yok kita semua berubah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Resensi Buku] Sekilas tentang Ali Moertopo