CR7 dan Juventus, Terjebak Ambisi UCL
Something has been lost from Juventus for almost 4 years.
Sepertinya kembalinya Allegri ke bangku cadangan sebagai pelatih belum berarti banyak untuk mengubah keadaan. Musim masih panjang, tetapi momen untuk kontemplasi dan melihat keseluruhan sudah memaksa. Faktor-faktor seperti blunder pemain, strategi di lapangan yang tidak bekerja dengan baik, arus kas klub yang sedang terganggu, pemain muda yang tidak berkembang serta keluarnya Cristiano Ronaldo di awal musim baru, tidak berarti banyak jika titik manifestasi kacaunya sebuah tim bisa dengan mudah terlihat di lapangan : there was no soul in the pitch.
Ronaldo, yang sudah sangat dikenal dengan kerja kerasnya dalam mengejar target, mempunyai kesamaan ambisi Juventus dalam meraih gelar UCL. Jumlah kontribusi Ronaldo yang hadir setiap minggu terlihat seperti harapan akan tercapainya ambisi tersebut, dengan rata-rata 30 gol dan 10 assist setiap musim. Tetapi sepertinya ada beberapa poin yang terlihat diabaikan, sehingga kontribusi ini datang bersamaan dengan pengorbanan.
Ketiga, gaji yang dikeluarkan untuk Ronaldo terlalu besar. Meskipun Juventus adalah klub yang mempunyai financial power yang kuat di Italia, tetapi secara general, cash flow keuangan klub Italia sangat sulit untuk membiayai pemain seperti Ronaldo. Pandemi COVID 19 menunjukkan fakta itu dengan gamblang. Tidak banyak biaya tersedia untuk membeli pemain baru, mengembangkan pemain muda, atau kebutuhan lainnya. Kehadiran Ronaldo juga ternyata tidak menambah brand value Juventus secara siginifikan, bahkan mengalami stagnantasi di musim keduanya.
---
Sebelum pertandingan melawan Napoli, Juventus hanya meraih satu poin dari dua pertandingan awal di musim 20/21, dan mencetak tiga gol. Dua buah gol cepat yang disamakan di kemudian waktu oleh Udinese di pertandingan pertama, dan kekalahan satu gol tak berbalas melawan tim promosi, Empoli. Dan di penghujung minggu lalu, tambahan satu gol dari Alvaro Morata, tidak bermakna banyak. Selain karena tidak melalui proses yang direncanakan dan melalui blunder Kostas Manolas, tetapi ada dua gol bersarang di gawang Juventus karena kecerobohan Wojciech Szczesny dan Moise Kean. Another loss.
![]() |
| Gol Koulibaly penanda kekalahan Juventus kedua di musim ini. Foto : EPA-EFE/CIRO FUSCO |
---
Setahun sebelum kedatangan Cristiano Ronaldo ke Juventus, Juventus sedang sangat berjaya di Italia. Jumlah Scudetto yang sudah diraih bertahun-tahun secara berturut belum terlihat akan berhenti. Di tanah Eropa sendiri, nama Juventus sendiri masih memberi daya getar ke setiap calon lawannya. Sayangnya, belum ada tambahan trofi Champions League ke lemari prestasi. Jika dipikirkan secara pragmatis, disinilah persoalan mulai terjadi dan menemukan bentuk. Kegagalan di dua final Champions League di saat Juventus masih sangat berkuasa di Italia, mendorong obsesi. Dan obsesi ini disimbolkan dengan mendatangkan CR7 dari Real Madrid.
Ada banyak alasan yang menjadi pembenaran bagi obsesi ini. Contoh pertama adalah jayanya Juventus di Italia tidak berarti banyak bagi penambahan brand value. Indikator ini penting kiranya bagi Andrea Agnelli, presiden Juventus, dan segenap manajemen klub, sebagai salah satu ukuran dalam menilai kesuksesan bisnis tim sepakbola di zaman modern. Arus kas pun tidak mengalami peningkatan signifikan, yang selanjutnya secara tidak langsung menjadi alasan bagi Agnelli untuk menekan UEFA dalam membagikan keuntungan hak siar menjadi lebih adil dan menjadi bahan untuk menyindir kucuran uang dari pengusaha tanah Arab ke beberapa klub di Eropa yang terlihat tak terbatas.
| Brand value Juventus masih kalah dibandingkan Arsenal yang sudah bertahun-tahun tidak masuk UCL (sumber : statista.com) |
Ronaldo, yang sudah sangat dikenal dengan kerja kerasnya dalam mengejar target, mempunyai kesamaan ambisi Juventus dalam meraih gelar UCL. Jumlah kontribusi Ronaldo yang hadir setiap minggu terlihat seperti harapan akan tercapainya ambisi tersebut, dengan rata-rata 30 gol dan 10 assist setiap musim. Tetapi sepertinya ada beberapa poin yang terlihat diabaikan, sehingga kontribusi ini datang bersamaan dengan pengorbanan.
Pertama, ekspektasi yang dihadirkan terlalu besar, disaat pada saat yang bersamaan umur Ronaldo yang sudah bertambak tidak bisa bohong. Ronaldo yang sekarang tidaklah sekuat dan secepat dahulu, meskipun masih menjadi yang terbaik di antara pemain profesional. Dampaknya adalah, mekanisme taktik dan pola gerak tim di lapangan secara keseluruhan harus sebisa mungkin memberikan bantuan yang dibutuhkan Ronaldo. Dampak domino yang mudah dilihat dari prioritas seperti ini adalah, peran Paulo Dybala harus sangat berkurang. Selain posisi dan pola geraknya yang sedikit semakin lebih jauh dari depan gawang, agar bisa membantu alur bola dari bawah dan juga tidak berdempetan dengan Ronaldo (begitupun dengan Morata, Chiesa, atau Kulusevski), menyuplai Ronaldo juga bagian dari prioritasnya. Hak penalti dan tendangan bebas pun diambil oleh Ronaldo. Sial, cedera yang berulang kali memperparah potensi Dybala.
Membicarakan potensi pemain, ini tidak hanya tentang Dybala. Dampak kedua adalah, karena terlalu bergantung kepada Ronaldo dalam memecah kebuntuan, pemain tidak terbiasa mempunyai daya gedor lebih ketika situasi benar-benar berjalan sesuai yang diharapkan. Situasi ini sangat terlihat ketika Ronaldo tidak bermain atau tidak dalam kondisi prima. Satu-satunya pemain yang berhasil keluar dalam kebuntuan adalah Rabiot dan Chiesa. Itupun, sejauh pengamatan saya, mereka harus berani mengkonfrontasi Ronaldo terlebih dahulu.
Ketiga, gaji yang dikeluarkan untuk Ronaldo terlalu besar. Meskipun Juventus adalah klub yang mempunyai financial power yang kuat di Italia, tetapi secara general, cash flow keuangan klub Italia sangat sulit untuk membiayai pemain seperti Ronaldo. Pandemi COVID 19 menunjukkan fakta itu dengan gamblang. Tidak banyak biaya tersedia untuk membeli pemain baru, mengembangkan pemain muda, atau kebutuhan lainnya. Kehadiran Ronaldo juga ternyata tidak menambah brand value Juventus secara siginifikan, bahkan mengalami stagnantasi di musim keduanya.
| Brand value Juventus dari 2011 hingga 2020 |
Ketika situasi semakin sulit, terutama ketika Juventus terancam gagal lolos Champions League di musim lalu, dimana titik kritis muncul dan akumulasi banyak persoalan, munculah poin keempat: tim benar-benar kehilangan keseimbangan. Ronaldo tidak bisa diandalkan setiap saat, tidak ada rencana cadangan yang bisa sangat diandalkan, tekanan dan ekspektasi media dan pendukung terlalu besar, serta langkah manajemen yang kalang kabut. Saking kalang kabutnya, pada awal 2021, mereka turut aktif dalam mendorong European Super League, dalam menangkal problematika proyeksi finansial klub. Perkara semakin rumit ketika Ronaldo dan agennya, Jorge Mendez, beberapa kali memposisikan diri mereka lebih besar daripada tim. Kepindahannya ke Manchester United di penghujung bursa transfer adalah konteks di poin ini. Bukankah ketika musim baru semakin dekat dan belum ada klub yang serius meminangnya, seharusnya dirinya menahan diri untuk pindah dari klub?
Karena sepertinya pertimbangan tersebut tidak dalam konsiderasi Cristiano Ronaldo, maka tidak ada yang aneh juga dengan cara buruk Juventus dalam memulai musim baru. Skema teknis dan mental di lapangan harus dibangun ulang. Dan lebih dari itu, kenyataan memaksa ambisi meraih trofi UCL harus dijauhkan dari pikiran terlebih dahulu.
---
Kemenangan 3-0 atas Malmo di UCL di tengah minggu ini merupakan berita baik untuk mengembalikan moral. Tidak hanya kemenangan, tetapi gawang juga dijaga keperawanannya dari kebobolan. Ini langkah baik untuk mengembalikan hawa ruang ganti menjadi kondusif. Selanjutnya akan menghadapi AC Milan, yang sejak musim lalu mulai menemukan titik pijaknya untuk bangkit menjadi tim besar di Italia dan Eropa.
Sudah seharusnya Juventus fokus untuk hari ini. Nanti dululah urusan gelar atau semacamnya, apalagi trofi Champions League. Akar di rumput sudah sangat goyah.

Komentar
Posting Komentar