Kram Kaki yang Sudah Berkelanjutan
Dengan mempunyai cedera kambuhan saja, sebenarnya sudah tidak enak. Derita saya pribadi, cedera yang paling sering kambuh adalah otot paha belakang saya, terutama ketika gerakan mendadak jatuh ke lantai (wajib hukumnya bagi seorang kiper futsal seperti saya) atau adu lompat. Otot belakang paha, yang di dunia medis atau fitness disebut sebagai glute, sering mengalami kekakuan. Analoginya, seperti seorang pemain bertahan yang sedang berhadapan dengan Messi atau Robben. Semua orang sudah tahu seperti apa gaya menggiring bola mereka, tetapi tetap aja bakal digocek sama mereka. Tetap saja otot paha belakang kembali cedera. Sepertinya, pemanasan yang sudah dengan baik sekalipun, hanya akan mengurangi kemungkinan cedera kambuhan muncul beberapa persen.
Sialnya, beberapa minggu terakhir, setiap bermain bermain basket atau lari, kaki saya dengan mudahnya kram, bahkan hanya dalam kurun waktu sekitar 20 menit. Kali ini, bagian yang sering terasa sakit atau berat adalah dari pertengahan tulang kering dan betis hingga sekitar tumit. Untuk mengakalinya, saya sering membawa Counterpain ke lapangan atau membeli minuman dingin untuk mengkompres kaki.
Sometimes it works, tetapi sesungguhnya, tetap saja tidak nyaman untuk hari-hari ke depannya. Apalagi, saya adalah orang yang senang berjalan kaki. Kebutuhan untuk melihat sekitar dengan lebih lambat atau sekitar mendengar variasi musik baru atau sekedar kontemplasi menjadi motivasi saya ketika berjalan kaki. Tetapi dengan adanya rasa aman ini, kaki menjadi gampang lelah dan akan mencari angkutan umum jika sedang diburu waktu atau janji di kemudian waktu. Dan akibatnya juga, saya menjadi semakin jarang lari untuk menjaga metabolisme tubuh.
Hal yang mengkhawatirkan adalah jika ini bisa berdampak ke engkel, lutut, dan terutama memperparah paha belakang. Dilihat di cermin, tapak kaki saya mulai cenderung berbentuk flat. Ini sudah tidak bagus, karena pijakan kaki saya menjadi lebih tidak stabil. Jika dipaksakan, engkel saya yang sudah berulang kali cedera, bisa jadi juga akan mengalami masalah, karena tugasnya seperti engsel. Dan jika tak ditangani lebih jauh, bisa saja berdampak ke lutut, yang beberapa tahun lalu sempat sangat bermasalah ketika naik gunung Argopuro.
Menonton video vlog Windy Mayang, seorang fisioterapis yang sepertinya sedang naik daun di antara kalangan artis atau atlet, mengungkapkan tentang Plantar Fasciitis yang kemungkinan terjadi. Salah satu indikatornya sendiri hampir mirip yang sedang dialami, sering kram. Kram ini sangat mungkin disebabkan kekakuan tungkai dan telapak bawah kaki. Seperti terlihat dalam link video yang disertakan, dari persoalan di tumit, menjalar ke atas hingga lutut. Dan jika lutut tidak stabil, tentu saja otot paha belakang menjadi harus lebih mengkompensasi persoalan agar tetap stabil. Dan tentu, saya akan semakin sering mengeluh cedera hamstring. Alur berpikir seperti ini berasa seperti eureka, layaknya Archimedes.
| Si bapak terlihat sangat tersiksa oleh jari Windy |
Karena kram sudah mulai sangat berkelanjutan dan setelah menonton video tersebut , mengontak terapis pijat adalah langkah yang saya lakukan. Persoalan ini sudah terlalu sulit untuk ditangani sendiri, sehingga membutuhkan bantuan. Terutama untuk memijat dari tumit hingga ke atas punggung bawah. Dan kali ini, yang biasanya saya tertidur ketika dipijat, kali ini ada perasaan tersiksa yang menetap.
Hari ini, saya berencana tidak melakukan olahraga, atau hanya sekedar workout atau stretching. Karena saya ingin berasa lebih segar besok hari bermain basket kembali. Membiarkan tubuh untuk membangun ulang sel dan jaringannya, sebelum digunakan lagi untuk kegiatan yang berat dan berkelanjutan.
Komentar
Posting Komentar