Postingan

[Copas Tulisan] Buffon's Letter to His Younger Self

Dear 17-year-old Gianluigi, I write this letter to you tonight as a 41-year-old man who has experienced many, many things in life, and has made some mistakes. I have some good news and some bad news for you. The truth is that I am really here to speak to you about your soul. Yes, your soul. You do have one, believe it or not. Let’s begin with the bad news. You’re 17 years old. You’re about to become a real footballer, like in your dreams. You think that you know everything. But the truth is, my friend, you don’t know shit. In just a few days, you will get the chance to start your first Serie A match for Parma, and you don’t know enough to be scared. You should be in bed, drinking warm milk. But what are you going to do? You’re going to go to the nightclub with your good friend from the Primavera. You’re just going to have one beer, right? But then you exaggerate a bit. You play the movie character. The strongman. This is how you usually cope with this pressure that you don’t even k...

Mengupdate Kabar Dunia di 28 November

Hampir semua sosial media saya saat ini sedang di deaktivasi. Rencananya Instagram, Twitter, dan Facebook, tidak akan dibuka selama sebulan. Kenyataannya, ternyata sudah lebih dari yang direncanakan dan saya belum ada mengambil keputusan untuk mengaktivasinya lagi. Sempat terpikirkan tentunya untuk membuka lagi, karena kesibukan dan pilihan-pilihan berbagai pertimbangan, pikiran itu bisa dilewati. Tentunya datang dengan pengorbanan. Berita-berita terbaru, baik lokal dan internasional, beserta narasi-narasi yang mengiringinya, disengaja atau tidak, tidak bisa saya update  secepat sebelumnya. Begitu juga kabar dari gerak atau narasi yang bersifat impulsif dan bersifat otonom. Kali ini, saya harus membuka langsung dari website media yang dituju, atau terkadang membuka link kiriman dari grup telegram atau whatsapp (yang tentunya sangat rentan terpengaruh  echo chamber ) . Well , keberjalanan waktu, tidak masalah. Pilihan hidup selalu berkaitan dengan prioritas. Dan saya yang terbi...

Mengatakan "I Don't Know"

Pada Maret 2020, Matthew Backus dan Andrew T. Little menulis jurnal yang berjudul "I Don't Know". Penelitian mereka membahas bagaimana seorang pengambil kebijakan publik politikus mengambil pilihan dalam dunia yang penuh kompleksitas dan ketidakpastian. Dalam proses tersebut, pengambil keputusan akan bertanya kepada para ahli mengenai pandangan mereka. Tentu sekilas hal yang normal untuk dilakukan, dan memang seharusnya terjadi. Tetapi tidak ketika seorang ahli sangat peduli dengan reputasi akan kompetensinya. Dalam posisi tersebut, para ahli akan sulit untuk mengakui tentang hal-hal yang tidak mereka ketahui atau belum dipahami. Bisa diperkirakan, ketika mereka terjebak oleh, katakanlah ego pribadi, kelancaran bisnis di masa depan, atau historikal pengalaman, pandangan yang akan diberikan kepada pengambil keputusan akan menjadi bias. Jurnal ini berusaha menggambarkan dampak dan mencari hasil optimum yang terbaik dengan menggunakan pemodelan Markov Sequential Equilibrium,...

Recovery Journey and Commitment

Seorang rahib menghadap Buddha dan berkata :      "Apakah jiwa orang saleh luput dari maut?" Seperti biasanya Buddha tidak menjawab. Tetapi rahib itu mendesak. Setiap hari ia mengulangi pertanyaan yang sama. Setiap hari pula ia tidak dijawab. Akhirnya, ia tidak tahan lagi dan mengancam mau meninggalkan pertapaan, kalau pertanyaan mahapenting ini tidak dijawab. Sebab, untuk apa ia mengorbankan segala sesuatu untuk hidup membiara, kalau jiwa orang saleh tidak akan luput dari maut? Lalu Buddha dalam belaskasihannya berkata:     "Engkau bagaikan seorang yang kena anak panah beracun dan hampir mati. Sanak keluarganya mendatangkan seorang dokter. Tetapi orang sakit itu tidak mau anak panah dicabut atau menerima pengobatan apapun terhadap lukanya jika tiga pertanyaan pokok ini belum terjawab: Pertama, orang yang memanahnya kulitnya putih atau hitam? Kedua, ia berbadan tinggi atau pendek? Dan ketiga, ia seorang brahmana atau paria? Sebelum jawaban atas ketiganya diberik...

Belajar Kehidupan Einstein : Perkara Memaafkan

Seiring bertambah umur, perkara memaafkan bukan perkara yang gampang ternyata. Waktu berjalan, begitu juga dengan pengalaman. Memang ada konsep relativitas dalam memahaminya, dimana ada perbedaan makna dari setiap objek yang mengalami pengalaman tersebut. Tetapi, sepertinya jumlah pengalaman pada suatu objek, berbanding lurus dengan kecepatan dan posisi objek itu bergerak dalam hidupnya. Dan dalam pengalaman tersebut, tentu bisa saja berkaitan dengan pengalaman sebelumnya, sedikit banyaknya, walau belum tentu berkaitan. Mungkin itu yang dirasakan oleh Mileva Maric, Hans Albert Einstein, dan Eduard Einstein. Di saat dunia menyoroti dunia Einstein, yang memberikan perubahan dengan teori relativitas umum dan persamaan ekuivalensi massa-energi, serta menantang kekuasaan Hitler, terlepas dari baik dan buruknya sorotan tersebut, keluarga pertama Einstein terlihat hidup dalam kegelapan. Demi memuaskan hasrat Einstein untuk menemukan cara alam bekerja, Maric harus merelakan keinginan masa keci...

Tangan Tetap Turun Memohon Maaf, Karena Perjalanan Kehidupan Tetap Berjalan

Gambar
Sebenarnya ketika saat menulis blogpost ini sebelumnya, saya sudah merasa suasana lebaran tahun ini benar-benar seperti terasa menumpang lewat begitu saja. Meskipun jika suasana tersebut dibanding ketika saya berada di masa sangat mengabaikan sisi spiritual, atas dasar jiwa eksplorasi yang sedang menguat dan ketidakberterimaan diri untuk serta merta mengikuti status quo tanpa alasan yang saya terima, suasana sekitar akan hari lebaran yang tetap terasa oleh saya. Setidaknya, akan ada tamu yang datang ke rumah. Dan sebagai tuan rumah, sudah sepantasnya untuk melayani tamu semampu yang ia bisa, meskipun adanya perselisihan atau ketidaksamaan pandangan hidup. Ataupun juga jika dibandingkan dengan pengalaman saya yang sedang berlama-lama di Wae Rebo karena urusan proyek community development . Karena statusnya sebagai dewasa wisata yang sedang sangat melonjak jauh karena penghargaan UNESCO kepada rumah adat Niang, produk warisan budaya Manggarai, ada banyak turis yang datang berkunjung. Di...

Flashback Puasa Dahulu dan Sekarang

Hari ini adalah hari terakhir di bulan Ramadhan di tahun 2020, atau di tahun 1441 di kalender Hijriyah. Takbir sudah berkumandang sejak menjelang azan magrib. Sambil mendengarkan lagu Superman Is Dead (saya sedang sangat impulsif ingin mendengarkan nada yang cukup keras), saya ingin sedikit  flashback  awal-awal saya berpuasa dahulu dan puasa tahun ini. --- Setelah pindah ke Padang dari sebelumnya bertempat tinggal di depok, saya pun dibiasakan dengan kebiasaan atau budaya baru. Sebagai contoh, tidak akan ada lagi berburu mainan terbaru dari McDonald atau bermain di imitasi pesawat terbang atau holikopter di wahana permainan di dalam pusat perbelanjaan seperti mall. Kebiasaan lainnya adalah diperkenalkan dengan ibadah berpuasa. Selain diminta oleh keluarga, ibadah puasa juga diminta oleh sekolah. Tidak seperti waktu sekarang, ketika itu proses pembelajaran di sekolah diliburkan selama bulan Ramadhan. Sebagai gantinya, murid akan diminta melakukan aktivitas di rumah dengan penc...