Flashback Puasa Dahulu dan Sekarang

Hari ini adalah hari terakhir di bulan Ramadhan di tahun 2020, atau di tahun 1441 di kalender Hijriyah. Takbir sudah berkumandang sejak menjelang azan magrib. Sambil mendengarkan lagu Superman Is Dead (saya sedang sangat impulsif ingin mendengarkan nada yang cukup keras), saya ingin sedikit flashback awal-awal saya berpuasa dahulu dan puasa tahun ini.

---

Setelah pindah ke Padang dari sebelumnya bertempat tinggal di depok, saya pun dibiasakan dengan kebiasaan atau budaya baru. Sebagai contoh, tidak akan ada lagi berburu mainan terbaru dari McDonald atau bermain di imitasi pesawat terbang atau holikopter di wahana permainan di dalam pusat perbelanjaan seperti mall. Kebiasaan lainnya adalah diperkenalkan dengan ibadah berpuasa.

Selain diminta oleh keluarga, ibadah puasa juga diminta oleh sekolah. Tidak seperti waktu sekarang, ketika itu proses pembelajaran di sekolah diliburkan selama bulan Ramadhan. Sebagai gantinya, murid akan diminta melakukan aktivitas di rumah dengan pencatatan di dokumen, yang nantinya akan digunakan sebagai bukti kepada wali kelas. Kepada murid antara kelas 1 hingga 3 SD, mereka akan diminta mengisi buku harian puasa. Jika mereka berpuasa pada hari itu, catatan itu diberi ceklist oleh murid. Sekolah sepertinya percaya saja murid mengisi sendiri, tanpa harus minta tanda tangan orang tua atau wali. Mungkin tujuannya agar jadi pembiasaan bagi murid di tahap masih muda, bukan sebagai pemaksaan. Maybe.

Jika tidak salah, saya sedikit ragu untuk menjalankannya, mengingat saya bergitu gampang kehausank selama di Padang, sebuah kota di pinggir garis pantai pulau Sumatera. Tetapi saya juga mendapatkan dorongan mengingat sekitar yang juga berpuasa, dan mama saya yang agak keras dalam mendidik.

Karena belum terbiasa dengan kebiasaan baru, saya biasanya dibangunkan ketika sahur. Kepala puyeng yang disambut dengan aroma lauk adalah rutinitas sehari-hari. Siangnya saya akan lebih sering tidur, untuk menghilangkan pikiran akan lapar yang menghinggap. Ketika sore hari, jika senja sudah semakin gelap, saya akan duduk di depan TV menonton pemberitahuan buka puasa dari TVRI Sumatera Barat. Atau, sebelum sirine dari mesjid berbunyi, mendengarkan lagu-lagu qasidah dari radio, yang sepertinya selama di umur 20an, nostalgia akan lagu tersebut hanya dirasakan 3 kali; ketika berada di keramaian dagangan takjil depan Mesjid Pusdai, berbuka bersama warga lokal di pulau Molas yang masih terjaga dari perkembangan peradaban revolusi Industri ke 2, dan bahan candaan Surya Imsonia di acara Malam-Malam Net TV.

Karena itu pula, di penghujung Ramadhan tiba, ada perasaan excited yang cukup kuat, bahkan sejak setelah adzan Ashar berkumandang. Sayup-sayup takbir berkumandang dari mesjid, walau jarak mesjid ke rumah cukup jauh.

---

Tidak hanya pandemi Covid-19, bulan puasa tahun ini juga menjadi momen spiritual bagi saya. Pertengahan 2019 hingga awal 2020, ada banyak turbulance yang cukup menyita fokus pikiran, mentalitas, dan tenaga, sehingga mendorong saya untuk melihat lagi sisi spiritual. Sisi spiritual yang agak mencoba saya abaikan sejak pertengahan kuliah, dan ketika berkenalan dengan hal-hal di luar membentuk tumbuh kembang dan kepribadian. Pada bulan Ramadhan ini, saya memutuskan untuk berniat berpuasa penuh satu bulan.

Awal yang cukup berat di awal puasa. Temperamen saya yang masih cukup pendek, sering tersinggung oleh perkembangan pandemi ini, dan respon pemerintah dalam menghadapi mitigasi bencana. Ketidaktahuan atau abainya beberapa bagian masyarakat dengan keadaan yang ada, semakin sering mengerutkan dahi. Sains yang diabaikan atau bahkan cenderung disepelekan dalam ranah kebijakan publik, yang sialnya ditambah gagak fokusnya pemerintah dalam menetapkan prioritas dalam menyusun regulasi di masa pandemik, menambah kekusutan kepala. Mengurai kerumitan atau membayangkan beberapa kemungkinan yang sedang atau akan terjadi, menyita fokus dan waktu. Tidak perlu saya uraikan lebih detail, karena hal-hal tersebut sudah sering saya sentuh juga dalam blog atau mungkin nanti di postingan berbeda.

Yang menjadi tantangan adalah, ketika menghadapi pandemi ini, jam tidur saya perlahan-lahan sedang membaik. Jumlah asupan informasi masuk pun perlahan-lahan mulai bisa menyeimbangkan dengan kapabilitas pikiran, fisik, mental, dan spiritual, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Tetapi pentingnya menjaga nutrisi di dini hari secara rutin, mulai mengganggu jam tidur saya yang belum sepenuhnya stabil.

Mungkin puncaknya adalah sakit kepala sempat menghinggap selama beberapa hari. Cedera bahu saya yang sering kambuh kembali bermasalah, entah disebabkan oleh beban pikiran atau posisi duduk yang tidak banyak berubah di waktu yang lama. Kondisi menjadi sedikit sulit akibat pandemik ini,, karena tidak bisa memanggil tukang pijat ke rumah, menimbang hal buruk yang mungkin terjadi. Sehingga secara dipaksa saya harus mengurangi intensitas yang tidak sehat dan riset latihan fisik yang berguna untuk bahu. Termasuk mengurangi push-up untuk sementara waktu.

Gambaran tersebut adalah bagian kecil dari beberapa usaha untuk menjaga ritme equilibrium yang menurut saya sehat, tetapi tidak abai dengan kondisi sekitar. Mengudpate informasi terbaru hanya sekali dalam dua hari. Sering memperhatikan dan mengubah momen spiritual. Mengubah kebiasaan di pagi hari, seperti memasak, mencuci piring, atau berolahraga. Sering-sering menyeimbangkan asupan informasi dengan acara atau video komedi. Dan lain-lainnya.

Tetapi, saya tidak tahu apakah esok hari akan dihinggapi dengan perasaan excitement seperti dahulu pertama kali berpuasa. Pagi hari tadi, atas dasar kebutuhan darurat untuk lebaran, saya menemani mama saya ke pasar, untuk mencari kebutuhan yang dicari untuk lebaran besok hari. Biasanya, mama saya akan order secara digital atau menitip ke tetangga, agar tidak terlampau ramai di pasar. Saya sudah berekspektasi bakal akan ramai, tetapi kenyataan yang ditemukan lebih dari itu. Mengingat ramainya orang di suatu tempat bukan hal yang mengejutkan, seperti keramaian di McDonald Sarinah atau bandara Soekarno Hatta, yang diperparah tidak ada ketegasan yang jelas dan konsisten dari pemerintah, mendorong saya untuk bertanya kepada pertanyaan mendasar, sebenarnya, apa yang orang-orang pikirkan?

Saya pikir, pelajaran seperti ini akan memberikan pelajaran bagi manusia untuk melihat lagi, memisahkan hal yang diinginkan dan hal yang dibutuhkan. Tetapi mungkin ada penjelasan lain secara gambaran lebih besar. Penjelasannya adalah mungkin batasan tersebut semakin kabur di peradaban yang sudah terlalu terhubung oleh globalisasi budaya dan ekonomi seperti saat ini. Sehingga tidak semua orang mampu untuk melihat dirinya sendiri atau kolektif, untuk mengubah kebiasaan atau budaya yang sudah terbentuk. Well, itu pandangan ala antropolog abal-abal menurut saya.

Tetapi menjadi jelas bagi saya, bahwa sambil memantau perkembangan riset vaksin, yang siapa tau cocok dengan sequence mutais virus yang berkembang di Indonesia, kecil kemungkinan bagi saya untuk kembali berolahraga tim seperti basket, futsal, dan sepakbola. Saya akan mencoba tetap mencari pekerjaan atau bisnis yang bisa lebih sering dilakukan secara remote. Mungkin observasi dan ekspektasi saya ke eksternal ada yang salah, jadi lebih baik untuk fokus lebih kepada manajemen dan ekspektasi ke diri sendiri. 

---

Dengan demikian, perjuangan masih jauh dari selesai ataupun membaik. Biarlah tak ada rasa excitement yang ada saat ini. Setiap hal ada masanya. Karma is real, whether it's good or bad.

Komentar