Nasibmu, Liverpool ...

Memasuki musim 2019/20 sebagai juara UEFA Champions League (UCL) pada musim sebelumnya, Liverpool masih terlihat sangat perkasa. Dengan trio serang yang begitu jagoan, Salah-Firmino-Mane, mereka begitu mudah mengobrak abrik pertahanan lawan. Ditopang oleh lini tengah yang sangat disiplin, Henderson-Fabinho-Wijnaldum, mereka siap merebut bola yang datang ke sistem. Sepasang bek sayap yang sangat eksplosif, Robertson-TAA, pun siap menyuplai bola ke trio mereka yang sudah siap di dalam kotak penalti lawan. Itu semua dilindungi oleh sepasang bek kuat dan berkepemimpinan tinggi, Van Dijk, dan bek muda didikan akademi Liverpool yang sedang berkembang pesat, Joe Gomez. Dan terakhir, kiper terbaik dunia saat ini, Allison Becker, berdiri tegak di depan tiang gawang.

Semua dijalankan dengan idealisme Jurgen Klopp, yang hadir dengan gegen-pressing. Ia datang dengan menawarkan hal yang hampir serupa dengan yang sudah dikembangkan selama 7 tahun di Borussia Dortmund. Bedanya, dengan kualitas pemain yang tepat dan lebih baik, tentunya ia berharap sistem yang dijalankannya bisa didukung lebih maksimal. Dengan finansial yang lebih stabil dan manajemen yang lebih rapi, yang mengontrak Klopp pun jelas setuju untuk menyanggupi permintaan Klopp. Semuanya demi tujuan bersama, mengembalikan kejayaan Liverpool yang sempat terpendam.

Tujuan bersama tersebut menjadi penting, ketika melihat kembali perjalanan Liverpool dalam kurang lebih 1.5 dekade terakhir. "Miracle of Istanbul", kemenangan bersejarah Liverpool di final UCL 2004/05 setelah tertinggal 3 gol dari AC Milan, seperti menyerap banyak kedigdayaan dan keberuntungan ke depannya. Mereka bisa masih meraih piala seperti FA Cup, Community Shield, dan UEFA Super Cup, tetapi tidak dengan gelar yang lebih bergengsi seperti English Premier League (EPL) dan UCL. Gelar yang diraihpun sebenarnya tidak terlalu banyak jumlahnya.

Pencapaian terbesar Liverpool di UCL selama rentang waktu tersebut adalah dua kali menjadi runner up, ketika AC Milan membalaskan sakit hatinya di musim 2006/07 dengan Kaka sebagai motor serangan dan kekalahan memalukan dari Real Madrid di musim 2008/09. Bahkan kekalahan memalukan tersebut sepertinya masih berdampak bagi kiper mereka waktu itu, Loris Kairus, yang harus digantikan posisinya pada musim selanjutnya dengan Allison dan harus mengembalikan kepercayaan dirinya yang terjatuh, akibat dua blunder yang berujung kepada gol Karim Benzema dan Gareth Bale. Saat ini, ia terlihat sedang menjauhkan diri sejenak dari berisiknya pemberitaan media dan penggemar sepak bola dunia di Besiktas.

Perjalanan di Premier League mungkin bisa dibilang lebih tragis. Ketika Alex Ferguson menempati posisi sebagai pelatih Manchester United untuk pertama kalinya, ia berjanji untuk menghentikan kedigdayaan Liverpool. Tiga tahun setelah menjadi pelatih, janji tersebut sepertinya mulai menjadi kenyataan. Setelah menjuarai Premier League di tahun 1989/90, keberadaan Liverpool di EPL mulai perlahan-lahan terseok-seok. Dan dimulai tahun 1992/93, sepertinya Ferguson sudah sangat siap untuk tidak memberikan tempat sedikitpun kepada Liverpool. Trofi EPL sebanyak 13 buah menjadi bukti nyata dari janji Ferguson, hingga ia pensiun di MU.

Setelah Ferguson pensiun, Liverpool mencoba memanfaatkan angin segar dari ruang yang terlihat lebih longgar. Pada tahun 2013/14, dengan dibantu Luis Suarez yang begitu klinikal dalam mencetak gol dari berbagai variasi sudut dan teknik, Liverpool terlihat tak terbendung. Bahkan Suarez menjadi top skor EPL di akhir musim. Sayangnya, ruang segar tersebut hanyalah fartamogana. Ketika didekati bukan genangan air pelepas dahaga trofi EPL yang terlihat. Itulah yang terjadi di pertemuan Liverpool vs Chelsea, di gameweek 36, 3 pertandingan sebelum musim berakhir.

Steven Gerrard sedang berada di posisi yang sangat dalam, dan dua centre back mereka sedang melebar untuk membuka ruang gerak dari tekanan pemain Chelsea. Mamadou Sakho yang melihat posisi Gerrard sedang bagus untuk mengatur serangan, pun mengoper bola dari kakinya. Disinilah fatamorgana ini berada, posisi bagus tersebut ternyata adalah "kulit pisang". Gerrard yang sedang fokus dalam melihat posisi rekannya, sedikit tidak sadar dengan arah dan kecepatan bola datang. Setelah bola sedikit terlepas dari kakinya, ia sadar akan hal itu dan berusaha mengejarnya. Sayangnya ketika mengejar itulah, kakinya memijak "kulit pisang". Ia terjatuh, dan bola dikejar oleh Demba Ba. Gol untuk Chelsea, Manchester City juara EPL, dan Liverpool dan kembali menelan pil pahit. Pil pahit yang bisa saja berarti realisasi janji Ferguson yang masih nyata, meskipun ia sudah pensiun dan MU sedang terseok-seok. Dan mungkin saja, di alam semesta paralel, Ferguson lah yang meletakkan "kulit pisang" di dekat kaki Gerrard.

Tentu saja, semua pendukung, manajemen, tim pelatih, dan pemain ingin sekali menghentikan kutukan janji Ferguson. Mereka bisa saja menerima kenyataan, tidak mudah bisa menang atas MU selama Ferguson masih di kursi pelatih. Tetapi tidak dengan kedigdayaan mereka. Kedigdayaan tersebut harus dikembalikan. Dan senyum lebar kembali muncul, karena mereka mampu bangkit setahun setelah kekalahan memalukan atas Real Madrid, dengan meraih trofi UCL, setelah menang atas Tottneham Hotsput di final.

Rasa percaya diri tersebut diiukut sertakan di musim selanjutknya. Tidak tanggung-tanggung, Liverpool begitu tangguh di puncak klasemen. Pada posisi terakhir hingga gameweek 29, mereka jauh unggul 25 poin dari peringkat kedua, Manchester City. Liverpool pun baru sekali mengalami kekalahan. Meskipun trio serang mereka sedikit mengalami penurunan, tapi peran mereka sedikit tergantikan oleh lini tengah mereka yang mulai aktif mencetak gol juga. Duet bek sayap Robertson-TAA pun juga semakin tak terbendung. Allison juga semakin kokoh di depan mistar gawang, dengan clean sheet terbanyak hingga update terakhir.

Sayangnya, Covid-19 datang. Demi memutus rantai penyebaran virus corona yang sangat menular, seluruh pertandingan terpaksa dihentikan. Awalnya diharapkan hanya sementara waktu, sehingga asa Liverpool untuk meraih trofi masih terjaga. Tetapi Eropa yang mengalami hantaman ganas oleh virus mulai mempertimbangkan semua kemungkinan terburuk. Dan itu semua berujung penghentian beberapa liga Eropa secara permanen di musim ini, dan diputuskan tidak ada juara liga.

EPL belum mengambil sikap, apakah akan dihentikan tanpa juara, dilanjutkan setelah kondisi kondusif, atau dihentikan dengan juara. Tetapi rasa was-was sudah menghinggapi mereka. Layaknya musim 2013/14, di saat mereka sedang terlihat sangat berjaya, ternyata penglihatan itu hanya lah fatamorgana. Sebuah fatamorgana yang juga sudah dikonfirmasi oleh Brendan Rodgers, pelatih Liverpool di tahun 2013/14. Mungkin saja, pandemik Covid-19 ini hanya lah konspirasi Ferguson sebagai realisasi janjinya di alam semesta paralel.

Jika Liverpool mau menerima kenyataan ini dengan berat hati, sesungguhnya mereka masih bisa berharap juara tetap diberikan kepada mereka, kalaupun akhirnya kompetisi dihentikan demi kelangsungan hidup semua pihak, seperti keputusan Ligue 1 yang memberikan trofi juara ke Paris Saint-Germain (PSG). Dengan klaim yang rasanya sangat bisa diterima orang banyak, Liverpool memang tidak mempunyai lawan selama musim 2019/20 di EPL. 

Tetapi, apakah solusi yang terbaik dari yang terburuk itu bisa ditelan oleh harga diri Liverpool? Bisakah mereka menerima kenyataan bahwa mereka jadi bahan lelucon oleh pendukung MU? Atau juga, bisakah mereka mengabaikan kemungkinan fakta bahwa sebenarnya kutukan janji Ferguson ke MU masih berlanjut hingga sekarang?

Komentar