Rehat Sejenak Menulis, Sebelum Terjadi Eksploitasi Menulis
Dan akhirnya sudah 2 bulan secara rutin saya menulis blog. Sudah menjadi kebiasaan yang lumayan kuat, meskipun harus berhadapan dengan problem konstan, hal yang saya sudah tuliskan juga setelah kontemplasi menulis blog selama satu bulan rutin. Dalam menghadapi problem konstan itu, saya menikmati momen-momen tersebut. Terutama ketika memilih menggiring bola basket ke lantai, mendengarkan lagu atau podcast, atau juga sekedar melamun, untuk mencari inspirasi kalimat, kata, ataupun yang ingin dituliskan.
Tetapi dalam pertengahan waktu itu, perlu diakui, saya beberapa kali tidak menikmati proses tersebut. Badan saya bergerak, tentu saja, tetapi terkadang hal yang berada di kepala berasa sangat berkurang. Terutama ketika ada perasaan mentok dalam mencari kalimat, kata, atau isi yang ingin dicari. Saya tetap menikmati, tetapi tidak dengan beberapa hal yang sepertinya terabaikan.
Mungkin itulah sebabnya beberapa memberikan pernyataan bahwa berpikir pun mempunyai tingkat kesulitan tersendiri. Tanpa bermaksud mengabaikan atau merendahkan bentuk dan proses kerja manusia lainnya, berpikir membutuhkan energi dan supplai untuk terus bergerak dengan stabil. Dalam proses yang stabil ini membutuhkan frekuensi yang terjaga. Dan proses kerja yang stabil ini, tidak hanya tentang menjaga proses harian dan output yang diharapkan (walau sebenarnya saya tidak terlalu memikirkan soal output ini), tetapi juga menjaga supplai di awal. Kesinkronan frekuensi antara tiga tahap ini adalah kunci.
Dan disinilah letak bahayanya ketika sepertinya saya mulai cenderung mengabaikan langkah awal di bagian supplai. Saya akan melakukan eksploitasi. Waktu adalah hal pertama yang sudah pasti akan dieksploitasi. Ketika kenikmatan mencari kalimat, kata, ataupun isi yang tepat semakin menguasai saya, waktu akan menjadi korban disini. Sudah beberapa kali saya perhatikan diri saya akan lama melantunkan bola basket ke lantai, bahkan juga berbagai gaya atau variasi, untuk mencari inspirasi tersebut. Ada bagusnya juga, mungkin setelah ini dribble bola saya akan semakin bagus ketika olahraga yang bersifat fisikal dan tim sudah bisa dilakukan lagi setelah situasi sudah lebih kondusif dan semua orang lebih terbiasa dalam bentuk normal baru.
Hal lain yang akan tereksploitasi oleh saya dan bagi saya lebih berbahaya adalah ketika saya mengcopy-paste pemikiran orang lain, tanpa ada filterisasi oleh pikiran saya pribadi. Momen ini pasti akan muncul ketika adanya tekanan karena hari sudah hampir terlewati, atau tanggung jawab lain yang harus dikerjakan. Beberapa tulisan orang lain memang sangat bagus, dan saya sudah memberikan klaim dalam bentuk "[Copas Tulisan]" dan memberikan sumber tulisan dan penulisnya dibagian akhir blogpost. Sehingga boundary tetap terjaga.
Tetapi boundary yang paling sulit dijaga adalah ketika saya mencopy-paste pemikiran orang lain dengan bungkus kata-kata saya pribadi. Tidak salah, jika saya memberikan bungkus yang baik, sehingg saya bisa menjaga autentikasi pikiran pribadi dan menghargai pemikiran orang lain secara bersamaan. Tapi menjadi masalah ketika tanpa disadari oleh alam bawah sadar, saya memberikan bungkusnya secara asal-asalan. Bukankah itu tidak menghargai diri saya dan orang lain secara bersamaan juga?
Sehingga, setelah dua bulan menulis secara rutin, dan ketika saya sudah melihat ada perkembangan dalam diri saya dalam mendorong rutinitas dan menjaga fokus, sudah saatnya memperhatikan bagian supplai lebih baik. Memberikan dan mengatur supplai informasi yang masuk ke kepala adalah bagian penting. Lagipula, IELTS dan energi sedang meminta dibagi porsi fokus dan rutinitas juga.
Akhir kata, Namaste
Tetapi dalam pertengahan waktu itu, perlu diakui, saya beberapa kali tidak menikmati proses tersebut. Badan saya bergerak, tentu saja, tetapi terkadang hal yang berada di kepala berasa sangat berkurang. Terutama ketika ada perasaan mentok dalam mencari kalimat, kata, atau isi yang ingin dicari. Saya tetap menikmati, tetapi tidak dengan beberapa hal yang sepertinya terabaikan.
Mungkin itulah sebabnya beberapa memberikan pernyataan bahwa berpikir pun mempunyai tingkat kesulitan tersendiri. Tanpa bermaksud mengabaikan atau merendahkan bentuk dan proses kerja manusia lainnya, berpikir membutuhkan energi dan supplai untuk terus bergerak dengan stabil. Dalam proses yang stabil ini membutuhkan frekuensi yang terjaga. Dan proses kerja yang stabil ini, tidak hanya tentang menjaga proses harian dan output yang diharapkan (walau sebenarnya saya tidak terlalu memikirkan soal output ini), tetapi juga menjaga supplai di awal. Kesinkronan frekuensi antara tiga tahap ini adalah kunci.
Dan disinilah letak bahayanya ketika sepertinya saya mulai cenderung mengabaikan langkah awal di bagian supplai. Saya akan melakukan eksploitasi. Waktu adalah hal pertama yang sudah pasti akan dieksploitasi. Ketika kenikmatan mencari kalimat, kata, ataupun isi yang tepat semakin menguasai saya, waktu akan menjadi korban disini. Sudah beberapa kali saya perhatikan diri saya akan lama melantunkan bola basket ke lantai, bahkan juga berbagai gaya atau variasi, untuk mencari inspirasi tersebut. Ada bagusnya juga, mungkin setelah ini dribble bola saya akan semakin bagus ketika olahraga yang bersifat fisikal dan tim sudah bisa dilakukan lagi setelah situasi sudah lebih kondusif dan semua orang lebih terbiasa dalam bentuk normal baru.
Hal lain yang akan tereksploitasi oleh saya dan bagi saya lebih berbahaya adalah ketika saya mengcopy-paste pemikiran orang lain, tanpa ada filterisasi oleh pikiran saya pribadi. Momen ini pasti akan muncul ketika adanya tekanan karena hari sudah hampir terlewati, atau tanggung jawab lain yang harus dikerjakan. Beberapa tulisan orang lain memang sangat bagus, dan saya sudah memberikan klaim dalam bentuk "[Copas Tulisan]" dan memberikan sumber tulisan dan penulisnya dibagian akhir blogpost. Sehingga boundary tetap terjaga.
Tetapi boundary yang paling sulit dijaga adalah ketika saya mencopy-paste pemikiran orang lain dengan bungkus kata-kata saya pribadi. Tidak salah, jika saya memberikan bungkus yang baik, sehingg saya bisa menjaga autentikasi pikiran pribadi dan menghargai pemikiran orang lain secara bersamaan. Tapi menjadi masalah ketika tanpa disadari oleh alam bawah sadar, saya memberikan bungkusnya secara asal-asalan. Bukankah itu tidak menghargai diri saya dan orang lain secara bersamaan juga?
Sehingga, setelah dua bulan menulis secara rutin, dan ketika saya sudah melihat ada perkembangan dalam diri saya dalam mendorong rutinitas dan menjaga fokus, sudah saatnya memperhatikan bagian supplai lebih baik. Memberikan dan mengatur supplai informasi yang masuk ke kepala adalah bagian penting. Lagipula, IELTS dan energi sedang meminta dibagi porsi fokus dan rutinitas juga.
Akhir kata, Namaste
Komentar
Posting Komentar