Tangan Tetap Turun Memohon Maaf, Karena Perjalanan Kehidupan Tetap Berjalan
Sebenarnya ketika saat menulis blogpost ini sebelumnya, saya sudah merasa suasana lebaran tahun ini benar-benar seperti terasa menumpang lewat begitu saja. Meskipun jika suasana tersebut dibanding ketika saya berada di masa sangat mengabaikan sisi spiritual, atas dasar jiwa eksplorasi yang sedang menguat dan ketidakberterimaan diri untuk serta merta mengikuti status quo tanpa alasan yang saya terima, suasana sekitar akan hari lebaran yang tetap terasa oleh saya. Setidaknya, akan ada tamu yang datang ke rumah. Dan sebagai tuan rumah, sudah sepantasnya untuk melayani tamu semampu yang ia bisa, meskipun adanya perselisihan atau ketidaksamaan pandangan hidup.
Ataupun juga jika dibandingkan dengan pengalaman saya yang sedang berlama-lama di Wae Rebo karena urusan proyek community development. Karena statusnya sebagai dewasa wisata yang sedang sangat melonjak jauh karena penghargaan UNESCO kepada rumah adat Niang, produk warisan budaya Manggarai, ada banyak turis yang datang berkunjung. Di antara turis yang datang tersebut, ada banyak turis muslim yang tetap berusaha berpuasa, meskipun perjalanan kaki menuju Wae Rebo cukup berat, dan tidak ada satupun warga disana yang beragama Islam. Bahkan, meskipun di KTP warga tertulis Wae Rebo, secara budaya, mereka lebih cenderung kepada kepercayaan lokal, yang juga dimanifestasikan dalam struktur fungsional dari rumah adat Niang.
Ketika bercengkarama dengan turis-turis ini, sering kali mereka bertanya-tanya saran melaksanakan ibadah atau sekedar menggodai saya. Suasana di kampung Wae Rebo memang sangat mendukung untuk mengobrol di antara penghuninya atau sekedar berbasa basi, memaksa sekat-sekat sosial dibuka untuk sementara waktu. Secara tidak langsung, keberadaan mereka mengingatkan suasana ramadhan dan mendorong suasana lebaran yang sebentar lagi singgah. Jadi tidak salah, meskipun saya mengniatkan diri untuk tidak ingin berlebaran di awal kedatangan di kampung Wae Rebo, tetapi karena segitu kepikiran, saya memutuskan kembali ke Bandung pada waktu itu.
Tetapi tahun ini memang begitu beda. Keberadaan virus Corona yang begitu mudah menular dan bermutasi untuk parasit kepada host-nya, bisa mengubah budaya manusia segitu jauhnya. Jarak antar manusia yang harus diatur, kebersihan yang harus senantiasa dijaga, menghindari pertemuan yang tidak perlu, dan lain-lainnya, adalah indikator yang mendorong dari berbedanya rasa lebaran tahun ini. Simpelnya, tanpa harus bersikap tidak peduli dengan hari besar umat Islam, kali ini keadaan yang memaksa. Memaksa umat manusia untuk mundur, untuk lebih baik melewatkan kebiasaan yang dilakukan selama berpuluh tahun, daripada keadaan memburuk. Walau tentu saja, mengubah kebiasaan bukanlah hal mudah. Dan tentu tidak perlulah saya bagikan banyak buktinya di blog ini.
Itulah yang saya rasakan secara pribadi. Meskipun saya dan ibu sudah mengambil sikap untuk tidak menerima tamu masuk ke dalam rumah, atau juga berkunjung ke rumah sanak saudara, kebiasaan untuk merapikan atau membersihkan rumah tidak serta merta terlupakan. Tetapi pada akhirnya, perasaan akan lebaran yang benar-benar hanya numpang lewat begitu terasa. Perasaan tersebut tidak bisa terhindarkan. Mungkin saja disebabkan pikiran begitu fokus dan berputar mengenai eskalasi perubahan yang terjadi begitu kencang di hampir banyak sektor kehidupan, yang biasanya digunakan untuk berbicara dengan sanak saudara atau teman-teman.
Keadaan memang begitu jauhnya sedang berubah.
---
Walaupun begitu, sebagai insan manusia, perjalanan kehidupan tetaplah berjalan. Begitu juga bagi interaksi dan hubungan antar umat manusia. Dan dalam perjalanan itu, tentu banyak persinggungan yang terjadi.
Yang kebetulan membaca blog ini pun tentu saja memilih untuk menyinggungkan dirinya dengan kehidupan saya. Oleh karena itu, atas dasar kehidupan saya yang harus sering kali lupa dalam bersyukur, terlena oleh karunia hidup dari alam semesta, ataupun mengabaikan hal baik yang berusaha mampir dalam hidup, saya berdoa semoga ada hal baik yang bisa bermakna bagi kalian yang membaca postingan blog ini pada saat ini dan seterusnya. Dan juga, atas nama kesalahan yang saya berikan, baik sengaja maupun tidak sengaja, saya memohon maaf.
![]() |
Komentar
Posting Komentar