Postingan

Review Hikayat Tirai Besi : The Bolshevik Myth

Merupakan buku catatan harian klasik, dari seorang anarkis Rusia bernama Alexander Berkman. Dimulai dari perjalanan penulis ketika diasingkan di penjara Amerika, yang disebabkan ketakutan pemerintah pada saat itu pengaruh revolusi Bolshevik di negeri Paman Sam. Kemudian secara berkelompok dengan bekas kapal perang Amerika, orang-orang yang telah diasingkan dikirim ke Uni Sovyet. Berkman sendiri sudah menanti sejak lama untuk segera kembali, terutama mengenai posisi para buruh yang sering ditindas oleh para pemegang kapital. Sayangnya ketika Berkman telah sampai di Uni Sovyet sekitar penghujung tahun 1919, kekuasaan Bolshevik tidak bekerja dengan cara yang diharapkan oleh orang banyak. Dibantu oleh militer Tcheka, Kaum Bolshevik yang berkuasa di Rusia dibawah pemerintahan Lenin dan Trotsky banyak melakukan penindakan yang sewenang-wenang terhadap warga. Dengan alasan pengaturan yang lebih adil terhadap para buruh, tetapi bentuk birokrasi dan serta jumlah pembagian kebutuhan sehari-...

Ikutan Ribut tentang Vonis Ahok

Kemarin hari begitu heboh. Terlalu heboh. Basuki Tjahja Purnama, atau yang biasa disebut Ahok, dimana saat tulisan ini ditulis terhitung masih Gubernur DKI Jakarta, dijatuhi hukuman 2 tahun penjara. Hal ini terkait ucapan beliau mengenai surat Al-Maidah ayat 51 di kepulauan seribu beberapa bulan sebelumnya, dan bagi mayoritas umat muslim beliau harus dikenakan pasal pengnistaan agama. Dan setelah berlarut-larut berkepanjangan, putusan akhirnya dijatuhkan kemarin. ---------------------------------------- Dari mana enaknya memulai? Saya tak tahu kenapa begitu ingin menulis tentang hal ini. Padahal sudah ada banyak draft blog lain yang belum dilanjutkan. Kemudian lagi berusaha tidak banyak mengoceh tentang hasil putusan kemarin di media sosial. Bahkan saya agak mencibir orang-orang yang terlalu impulsif baik dari pihak yang pro maupun kontra. Orang-orangnya yang dicibirkan berada di sekitar saya lagi, dan semuanya dari kedua sisi. Arah tulisan ini saja tidak begitu saya pikirkan. ...

Kemajuan?

Dikutip dari buku Ring of Fire karangan Lawrence Blair, “Suku Bugis, yang dahulu navigator lautan paling akbar, dipandu oleh pola ombak dan petunjuk berupa rumput laut dan kotoran burung, kini telah kehilangan sedemikian banyak kepercayaan terhadap pengetahuan lama mereka sehingga mereka kini hanya berani berlayar dekat-dekat pesisir, dengan pemikiran bahwa seandainya kapal mereka tenggelam, setidaknya mereka bisa sampai ke pantai hidup-hidup. Saya jadi teringat kisah tentang para pelaut Eropa zaman dahulu, ketika kapten mereka melarang awak kapalnya belajar berenang, sehingga mereka lebih mungkin tenggelam bersama kapal daripada meninggalkan pos mereka dan berjuang mencapai pantai. (Kapal)  Sinar Surya  hanya membawa sebuah kompas kuno yang minyaknya sedemikian keruh saking tuanya sehingga kami nyaris tak bisa membaca penunjuk arah angin. Saya ragu kompas itu pernah menunjukkan arah dengan benar, dan bahkan kompas tangan kecil kami masih lebih akurat. Satu-satunya p...

Positive Thinking, Is It a Must?

Gambar
Akhir-akhir ini saya sering mencoba berpikir kritis tentang anggapan bahwa pemikiran harus selalu positif, jangan mengeluh.  Pada satu kondisi saya mungkin saya sepakat. Karena pemikiran positif menjaga seseorang untuk tetap bergerak. Walau ada hambatan, pemikiran ini bisa sangat membantu. Tetapi sayangnya pada situasi kondisi lainnya, disini kita harus bertanya, pemikiran positif yang seperti apa? Kalau hanya berpikiran positif menurut pemahaman kaum orang banyak, apakah kalau berbeda pola pikir serta merta-merta akan disebut berpikir negatif? Mari beranalogi tentang orang gila, atau mungkin disebut kelainan mental. Karena mempunyai pola pikir yang berbeda, orang gila sering terlihat terpinggirkan dalam hirarki sosial masyarakat. Karena mempunyai mentalitas yang berbeda, mereka menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda pula. Contoh, cari makan. Karena terpinggirkan dan sulit produktif menurut cara masyarakat umum, sudah biasa kita lihat mereka mencari makan di tempat ...

Mempelajari Ilmu Mencuri

Sadar bahwa ayahnya semakin tua, anak seorang pencuri  berkata, "Ayah, ajarkanlah kepadaku kepandaianmu, sehingga kalau ayah berhenti bekerja saya dapat meneruskan tradisi keluarga." Ayah itu tidak menjadwa, tetapi malam itu ia membawa anaknya ikut membobol  rumah, Sesudah berada di dalam, ia membuka kamar mandi dan minta  kepada anaknya untuk melihat apa yang ada di didalamnya. Segera sesudah anak itu masuk, ayah itu membanting dan mengunci pintu kamar mandi itu dengan suara keras sehingga seluruh rumah dibangunkan. Lalu ia sendiri menyelinap pergi dengan tenang. Anak itu ketakutan di kamar mandi, marah dan bingung mencari cara untuk melarikan diri. Lalu ia mendapat akal. Ia memulai membuat suara seperti kucing. Karena itu seorang pelayan menyalakan lilin dan membuka pintu untuk mengeluarkan kucing itu. Segera sesudah pintu kamar mandi terbuka, anak itu meloncat keluar. Semua orang mengejarnya. Ketika ia melihat ada sumur di pinggir jalan, ia melemparkan batu be...

We're Waiting The Moment to Arise, Indonesia

Gambar
Hari ini ketika sore hari yang cukup cerah, entah kenapa saya sedang menikmati lagu The Beatles, judulnya Blackbird. Menurut cerita yang beredar, Paul McCartney, pencipta lagu, terinpirasi ketika bertemu dua perempuan kulit hitam yang mengalami diskriminasi di Arkansas pada sekitar akhir tahun 60an, atau dikenal sebagai "Little Rock Crisis". Pada zaman itu memang Amerika memang masih mengalami kasus rasisme kulit hitam yang cukup masif, meskipun Abraham Lincoln pada jauh tahun sebelumnya sudah berhasil membuat Amandemen 13. Kasus ini berhenti setelah ada intervensi dari Presiden Amerika pada saat itu, Dwight Eisenhower. Berdasarkan inpirasi tersebut, McCartney berusaha menuangkan maksud tersebut di lagunya, terutama bagian lirik. Makna kata "Blackbird" yang digambarkan pada lagu ini adalah tentu bisa disimbolkan kepada sekelompok warga yang mengalami diskriminasi di Arkansas, walau tentunya saya yakin McCartney ingin menggambarkan seluruh warga kulit g...

Mendidik ala Konfusius

Gambar
Sehari kemarin, tepatnya tanggal 2 Mei Indonesia merayakan hari pendidikan nasional, atau disingkat Hardiknas. Berhubung saya baru saja membaca buku "Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik: Kunci Sukses Para Manajer dan Pemimpin" karangan Michael C. Tang, saya melihat ada cerita menarik yang ingin dibagikan mengenai cara Konfusius mendidik muridnya. **** Seorang Guru Teladan Saat masih muda, Konfusius mendapatkan pekerjaannya yang pertama sebagai penjaga lumbung seorang bangsawan setempat. Setelah beberapa saat, ia ditunjuk sebagai pengawas di Departemen Pertanahan dan Panen, kemudian menjadi pengawas di berbagai kantor pemerintahan di Negara Lu. ia mulai mengajar ketika berusia hampir tiga puluh tahun di waktu senggangnya. Konfusius tidak hanya mengajar pengetahuan dan keahlian. Ia mengajar cara mengasah pikiran dan memperoleh integritas. Pada waktu itu, pendidikan hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan. tetapi, Konfusius tidak mengikuti monopoli pendidikan tersebut....