Postingan

[Copas Tulisan] Tentang Seni

Beberapa hari yang lalu, Arief Budiman telah meninggal. Sebagai seorang akademisi, penulis, mantan aktivis pergerakan demokrasi, dan juga kokoh dari Soe Hok Gie, beliau meninggalkan banyak hal yang bisa dipahami ulang pada zaman sekarang. Setidaknya, bagi saya yang dulu sering membaca buku Catatan Seorang Demonstran dari Gie, perlu juga memahami apa yang dipikirkan oleh kokohnya. --- Manusia Sebagai Makhluk Berkebebasan dan Berkemungkinan KREATIVITAS adalah kesanggupan untuk melihat kemungkinan yang lebih sempurna dan merealisasikannya. Dalam dun ia ini hanya manusia yang memiliki kemungkinan – karenanya hanya manusia yang mungkin kreatif. Untuk melihat hal ini, kita terpaksa terjun ke filsafat antropologi. Hakikat dari kemanusiaan primer adalah eksistensinya. Dia tidak primer memiliki esensinya yang sudah serba tertentu. Ketika seorang manusia dilahirkan – dia belum menjadi apa-apa. Kata kaum eksistensialis, “Ketika kau berhadpan dengan seorang bayi yang baru dilahirkan, ...

Filmnya Pendek, Tapi Kualitasnya Dilihat Dulu

Gambar
Sebagai bagian kesibukan di dalam rumah, berikut ini adalah film-film pendek yang saya tonton  (dan juga saya rekomendasikan) dalam beberapa hari terakhir. --- Judul : Anak Lanang Perjalanan setelah pulang sekolah dengan menggunakan becak ternyata berujung pertengkaran antara sesama anak. Tukang becak, dengan pendidikan yang tidak terlalu tinggi, mencoba mendamaikan dan memberikan apa yang ia bisa kepada mereka. Judul : Menanti Keajaiban Takdir kehidupan memang sudah ada yang menuliskan, dan menerima keadaan yang sudah ada, mungkin pilihan yang terbaik. Tetapi setelah menemui seorang pelanggan, seorang pedagang kacamata berusaha mengubahnya dan menemui penulisnya. Judul : Elegi Melodi Mengetahui penyakit semakin parah, seorang ibu berusaha mewujudkan mimpi masa kecilnya untuk mempunyai lagu dan meminta anaknya untuk merealisasikan pembuatan video clip , sebagai kenang-kenangan untuk kedua anaknya setelah ia meninggal. Judul : KTP Sebagai pegawai ke...

Mimpi Pagi Ini

Sambil mendengarkan lagu-lagunya Laze , sepertinya saya masih bisa sedikit membayangkan mimpi tadi pagi. Disebut tadi pagi, karena saya bermimpi ketika tidur setelah sahur, bukan sebelumnya. Ketika sedang bersantai belajar dan membuka laptop, adik saya membawa seekor kucing liar ke dalam rumah. Keadaan berlangsung seperti biasa ketika menerima kabar itu, seperti yang di rumah memberikannya makan, menyiapkan tempat istirahatnya di dalam rumah, atau mempersiapkan tempat ia buang air. Pada suatu hari, ketika saya sedang bercengkrama dengan kucing ini, ia ternyata bisa berbicara. Bahkan saya mengajarkan beberapa pelajaran bahasa ke ia. Dan pada suatu waktu, ia berubah menjadi manusia. Cerita yang aneh, tapi namanya juga mimpi. Kemudian pada suatu hari, keluarga akan mengikuti acara. Karena saya tidak bisa membawa mobil, kucing yang sedang menjelma menjadi manusia mengantarkan kami ke tempat tersebut. Awalnya hanya anggota keluarga yang lain turun. Saya dan si kucing ini pergi singgah...

Rasa Pahit untuk (Kemungkinan) Perubahan Bangsa

Rasanya cuaca Bandung yang sering mendung dan bahkan hujan berjam-jam dalam beberapa minggu terakhir, seperti menggambarkan pikiran saya tentang negara ini. Mitigasi bencana non-alam yang sangat bermasalah, hak berpendapat yang semakin ditekan secara terang-terangan, infrastruktur politik pendukung penguasa, kurangnya visi dan dukungan manajemen riset dan pengembangan teknologi, adalah beberapa hal yang cukup menyita pikiran. Tentu saya sering mencoba memindahkan pola pikir untuk sering melihat secara gambaran luas. Terutama bagi saya, momen seperti ini dan seterusnya hingga tahun depan seperti momen paling menyakitkan, demi yang terbaik. Sudah beberapa kali saya pun membayangkan dan menceritakannya dalam blog ini. Misalkan untuk sains saja mungkin butuh momen seperti ini menaikkan perhatian orang akan pentingnya sains dalam pengembangan kebudayaan bermasyarakat dan bernegara. Masalahnya, saya tidak bisa mengelak kekecewaan yang begitu mendalam, mengingat ketika SD saya segitu ...

Me vs Me, Selamat Berpuasa

Sebuah kebetulan yang pas atau mungkin ada faktor kesengajaan, ketika beberapa hari sebelum bulan Ramadhan tiba, National Geographic menayangkan ulang The Story of God with Morgan Freeman  menayangkan episode "Search for The Devil". Morgan Freeman mencari tahu seperti apa iblis menurut beberapa Kristiani, Budhisme, dan Hinduisme dan bagaimana mereka memahami dan meresponnya. Perjalanan Morgan Freeman dimulai dengan berkunjung ke gereja di tengah gurun. Bagi kristiani, setan adalah keberadaan yang akan selalu ada di sebelah umat manusia, dan berlangsung seumur hidup. Dalam suatu kisah, Jesus sedang melakukan perjalanan di tengah gurun. Dalam lapar dan haus yang tak terkira, iblis datang menghampiri dan memberikan saran kepada Jesus untuk mengubah batu menjadi makanan. Jesus menolak. Kebulatan tekad Jesus melawan godaan itu menjadi dasar bagi pengikutnya untuk melakukan puasa atau perjalanan. Menurut mereka, ujian sesungguhnya bagi manusia dalam menghadapi godaan setan keti...

Jam Tidur Berubah, Apa Selanjutnya?

Saya pernah bercerita bagaimana siklus jam tidur menjadi langkah awal untuk pengaruhi aktivitas secara kesuluruhan. Dan itu bener terasa saat ini. Dalam hampir dua minggu terakhir, jam bangun tidur berhasil diubah menjadi antara jam tiga hingga setengah lima. Separah-parahnya, jika adzan sudah berkumandang, saya pasti akan kebangun, meski baru tidur jam 3 dini hari karena menonton film atau perasaan "nanggung" ketika membaca buku. Untuk memaksa perubahan jam bangun tidak mudah. Bagi seseorang yang terbiasa tidur hingga larut sejak zaman kuliah, baik karena tugas, organisasi, aktivisme, bermain game , atau menonton film, yang ternyara berlanjut lebih jauh lagi setelah tingkat 4 dan memasuki masa profesional atau organisasi, hingga di awal pandemik ini, pola tersebut sudah menjadi kebiasaan. Pada prses awalnya, memaksa mata terpejam setelah jam 12 sangat tidak ampuh. Tidak hanya perlu berjam-jam untuk kepala agar istirahat, tetapi juga saya tidak merasa segar ketika ...

Kartini Itu untuk Orang Banyak, Bukan Satu atau Dua Pihak Saja

Bertepatan dengan tanggal 21 April, hari ini diperingati sebagai hari Kartini. Hari tersebut diperingati sebagai titik tolak bagi para perempuan untuk memperjuangkan hak-hak mereka, ketika budaya semacam tidak berpihak kepada mereka. Hal yang paling penting untuk diapresiasi dari semangat ini adalah, jika ada kasus kekerasan perempuan (dan juga anak), kaum yang mempunyai pemahaman feminis begitu gencar dan pantang mundur untuk memberikan bantuan advokasi dan moril. Dalam budaya yang lebih cenderung patriarki, dan dalam beberapa konteks memang tidak adil dalam penerapannya, sangat perlu untuk mengapresiasi hal tersebut. Tentu, semangat tersebut bisa saja dibarengi dengan persamaan pikiran dan perasaan dari kaum yang tertindas dari relasi kuasa yang tidak seimbang. Hal yang jamak, apapun bentuknya. Jika perempuan tidak dalam keadaan tertindas, banyak yang melihat dan mengansumsikan perpecahan antara mereka begitu terasa. Tentu tak salah juga observasi tersebut. Tetapi dengan ...