Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2020

Kesabaran di Dalam Air Berlumpur?

Hari ini, notifikasi aplikasi Daily Tao memberikan quote -nya, Trying to understand is like straining through muddy water. Have the patience to wait! Be still and allow the mud to settle.  Benarkah? --- Posisi saya di basket adalah playmaket atau shooting-guard . Jika sedang menjadi playmaket , sejujurnya, quote  di atas sering saya lewati dan harus pahami. Seringkali, karena prioritasnya adalah mengatur serangan, meskipun ada ruang kosong yang mungkin terbuka, saya harus mempertimbangkan kemungkinan lainnya terlebih dahulu. Apakah ruang kosong ini sesuatu yang lebih baik daripada peluang-peluang yang tidak saya lihat. Pemikiran sabar diperlukan. Itulah sebabnya seorang playmaket  tidak boleh sering-sering melihat ketika menggiring bola, karena mengurangi kemungkinan suatu peluang yang lebih baik untuk bisa terlihat oleh mata. Apalagi suatu tim yang diatur ini tidak sekedar bermain santai, tetapi ada skema atau pola yang disepakati bersama atau diminta pelatih. ...

Pandemik dan Bulan Puasa

Hari ini sudah memasuki hari ke enam bulan puasa. Jika mengingat selama beberapa tahun terakhir saya tidak berpuasa secara penuh, bahkan tidak berpuasa sama sekali, sepertinya perlu diapresiasi juga bahwa fisik, pikiran, dan mentalitas saya cukup stabil dalam melewatinya. Puasa memang masih ada tersisa 24 hari, tapi langkah awal yang baik juga bagian penting dalam perjalanan. Sebuah kebetulan yang pas, ketika memikirkan bulan puasa ini datang di saat pandemik Covid-19. Dengan menjaga jarak dan aktivitas yang harus dilakukan, pikiran yang sudah mulai dibiasakan dengan lebih banyak di rumah, menjadi terbiasa berlanjut. Tentu menilai keberjalanan puasa saya ini pun tidak bisa mengabaikan keberadaan internet, dimana kehadirannya memberikan ruangan yang lebih luas, dan sayangnya juga liar. Yang dimaksud liar disini tidak hanya tentang dark web atau sebagainya,   tetapi bagi yang tidak bijak berada di dalamnya, mereka akan tersesat di dalamnya. Contoh simpelnya, berapa orang yang ...

Anak-anak, Ruang Bermain, Struktur Kota, Sekolah, dan Internet

Saat ini saya tinggal di Surapati, di sekitar jalan Gagak. Ketika berada sangat sering di rumah demi memutus rantai pandemik seperti ini, ada salah satu realita yang terlihat. Realita yang sepertinya sudah tidak terperhatikan, tapi semakin tidak diperhatikan karena fokus yang harus dihadapi oleh masyarakat dan pemerintah. Yaitu lahan bermain anak-anak. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun mengalami kebingungan ketika biasanya mereka sudah berada di sekolah di pagi buta, sekarang proses pembelajaran lebih sering di rumah. Keadaan yang sebenarnya sudah seharusnya dilakukan sejak dahulu bersamaan dengan kemajuan teknologi, tetapi mendapatkan momennya di masa pandemik. Di awal-awal diumumkannya kasus pertama di Indonesia, anak-anak yang sudah dirumahkan mencari teman-teman tetangganya yang juga di rumah. Pengamatan pribadi di sekitar kawasan Gagak, mereka bertemu dan bermain bola. Karena tiadanya ruang luas yang tersedia, ataupun kalau ada, posisinya agak jauh dari rumah, mereka ber...

[Copas Tulisan] Tentang Seni

Beberapa hari yang lalu, Arief Budiman telah meninggal. Sebagai seorang akademisi, penulis, mantan aktivis pergerakan demokrasi, dan juga kokoh dari Soe Hok Gie, beliau meninggalkan banyak hal yang bisa dipahami ulang pada zaman sekarang. Setidaknya, bagi saya yang dulu sering membaca buku Catatan Seorang Demonstran dari Gie, perlu juga memahami apa yang dipikirkan oleh kokohnya. --- Manusia Sebagai Makhluk Berkebebasan dan Berkemungkinan KREATIVITAS adalah kesanggupan untuk melihat kemungkinan yang lebih sempurna dan merealisasikannya. Dalam dun ia ini hanya manusia yang memiliki kemungkinan – karenanya hanya manusia yang mungkin kreatif. Untuk melihat hal ini, kita terpaksa terjun ke filsafat antropologi. Hakikat dari kemanusiaan primer adalah eksistensinya. Dia tidak primer memiliki esensinya yang sudah serba tertentu. Ketika seorang manusia dilahirkan – dia belum menjadi apa-apa. Kata kaum eksistensialis, “Ketika kau berhadpan dengan seorang bayi yang baru dilahirkan, ...

Filmnya Pendek, Tapi Kualitasnya Dilihat Dulu

Gambar
Sebagai bagian kesibukan di dalam rumah, berikut ini adalah film-film pendek yang saya tonton  (dan juga saya rekomendasikan) dalam beberapa hari terakhir. --- Judul : Anak Lanang Perjalanan setelah pulang sekolah dengan menggunakan becak ternyata berujung pertengkaran antara sesama anak. Tukang becak, dengan pendidikan yang tidak terlalu tinggi, mencoba mendamaikan dan memberikan apa yang ia bisa kepada mereka. Judul : Menanti Keajaiban Takdir kehidupan memang sudah ada yang menuliskan, dan menerima keadaan yang sudah ada, mungkin pilihan yang terbaik. Tetapi setelah menemui seorang pelanggan, seorang pedagang kacamata berusaha mengubahnya dan menemui penulisnya. Judul : Elegi Melodi Mengetahui penyakit semakin parah, seorang ibu berusaha mewujudkan mimpi masa kecilnya untuk mempunyai lagu dan meminta anaknya untuk merealisasikan pembuatan video clip , sebagai kenang-kenangan untuk kedua anaknya setelah ia meninggal. Judul : KTP Sebagai pegawai ke...

Mimpi Pagi Ini

Sambil mendengarkan lagu-lagunya Laze , sepertinya saya masih bisa sedikit membayangkan mimpi tadi pagi. Disebut tadi pagi, karena saya bermimpi ketika tidur setelah sahur, bukan sebelumnya. Ketika sedang bersantai belajar dan membuka laptop, adik saya membawa seekor kucing liar ke dalam rumah. Keadaan berlangsung seperti biasa ketika menerima kabar itu, seperti yang di rumah memberikannya makan, menyiapkan tempat istirahatnya di dalam rumah, atau mempersiapkan tempat ia buang air. Pada suatu hari, ketika saya sedang bercengkrama dengan kucing ini, ia ternyata bisa berbicara. Bahkan saya mengajarkan beberapa pelajaran bahasa ke ia. Dan pada suatu waktu, ia berubah menjadi manusia. Cerita yang aneh, tapi namanya juga mimpi. Kemudian pada suatu hari, keluarga akan mengikuti acara. Karena saya tidak bisa membawa mobil, kucing yang sedang menjelma menjadi manusia mengantarkan kami ke tempat tersebut. Awalnya hanya anggota keluarga yang lain turun. Saya dan si kucing ini pergi singgah...

Rasa Pahit untuk (Kemungkinan) Perubahan Bangsa

Rasanya cuaca Bandung yang sering mendung dan bahkan hujan berjam-jam dalam beberapa minggu terakhir, seperti menggambarkan pikiran saya tentang negara ini. Mitigasi bencana non-alam yang sangat bermasalah, hak berpendapat yang semakin ditekan secara terang-terangan, infrastruktur politik pendukung penguasa, kurangnya visi dan dukungan manajemen riset dan pengembangan teknologi, adalah beberapa hal yang cukup menyita pikiran. Tentu saya sering mencoba memindahkan pola pikir untuk sering melihat secara gambaran luas. Terutama bagi saya, momen seperti ini dan seterusnya hingga tahun depan seperti momen paling menyakitkan, demi yang terbaik. Sudah beberapa kali saya pun membayangkan dan menceritakannya dalam blog ini. Misalkan untuk sains saja mungkin butuh momen seperti ini menaikkan perhatian orang akan pentingnya sains dalam pengembangan kebudayaan bermasyarakat dan bernegara. Masalahnya, saya tidak bisa mengelak kekecewaan yang begitu mendalam, mengingat ketika SD saya segitu ...

Me vs Me, Selamat Berpuasa

Sebuah kebetulan yang pas atau mungkin ada faktor kesengajaan, ketika beberapa hari sebelum bulan Ramadhan tiba, National Geographic menayangkan ulang The Story of God with Morgan Freeman  menayangkan episode "Search for The Devil". Morgan Freeman mencari tahu seperti apa iblis menurut beberapa Kristiani, Budhisme, dan Hinduisme dan bagaimana mereka memahami dan meresponnya. Perjalanan Morgan Freeman dimulai dengan berkunjung ke gereja di tengah gurun. Bagi kristiani, setan adalah keberadaan yang akan selalu ada di sebelah umat manusia, dan berlangsung seumur hidup. Dalam suatu kisah, Jesus sedang melakukan perjalanan di tengah gurun. Dalam lapar dan haus yang tak terkira, iblis datang menghampiri dan memberikan saran kepada Jesus untuk mengubah batu menjadi makanan. Jesus menolak. Kebulatan tekad Jesus melawan godaan itu menjadi dasar bagi pengikutnya untuk melakukan puasa atau perjalanan. Menurut mereka, ujian sesungguhnya bagi manusia dalam menghadapi godaan setan keti...

Jam Tidur Berubah, Apa Selanjutnya?

Saya pernah bercerita bagaimana siklus jam tidur menjadi langkah awal untuk pengaruhi aktivitas secara kesuluruhan. Dan itu bener terasa saat ini. Dalam hampir dua minggu terakhir, jam bangun tidur berhasil diubah menjadi antara jam tiga hingga setengah lima. Separah-parahnya, jika adzan sudah berkumandang, saya pasti akan kebangun, meski baru tidur jam 3 dini hari karena menonton film atau perasaan "nanggung" ketika membaca buku. Untuk memaksa perubahan jam bangun tidak mudah. Bagi seseorang yang terbiasa tidur hingga larut sejak zaman kuliah, baik karena tugas, organisasi, aktivisme, bermain game , atau menonton film, yang ternyara berlanjut lebih jauh lagi setelah tingkat 4 dan memasuki masa profesional atau organisasi, hingga di awal pandemik ini, pola tersebut sudah menjadi kebiasaan. Pada prses awalnya, memaksa mata terpejam setelah jam 12 sangat tidak ampuh. Tidak hanya perlu berjam-jam untuk kepala agar istirahat, tetapi juga saya tidak merasa segar ketika ...

Kartini Itu untuk Orang Banyak, Bukan Satu atau Dua Pihak Saja

Bertepatan dengan tanggal 21 April, hari ini diperingati sebagai hari Kartini. Hari tersebut diperingati sebagai titik tolak bagi para perempuan untuk memperjuangkan hak-hak mereka, ketika budaya semacam tidak berpihak kepada mereka. Hal yang paling penting untuk diapresiasi dari semangat ini adalah, jika ada kasus kekerasan perempuan (dan juga anak), kaum yang mempunyai pemahaman feminis begitu gencar dan pantang mundur untuk memberikan bantuan advokasi dan moril. Dalam budaya yang lebih cenderung patriarki, dan dalam beberapa konteks memang tidak adil dalam penerapannya, sangat perlu untuk mengapresiasi hal tersebut. Tentu, semangat tersebut bisa saja dibarengi dengan persamaan pikiran dan perasaan dari kaum yang tertindas dari relasi kuasa yang tidak seimbang. Hal yang jamak, apapun bentuknya. Jika perempuan tidak dalam keadaan tertindas, banyak yang melihat dan mengansumsikan perpecahan antara mereka begitu terasa. Tentu tak salah juga observasi tersebut. Tetapi dengan ...

Bapak Tua

*I wrote this poetry during my activity within the literature's community, Jazz Poet Society . They asked me to write related to a certain issue that had happened at that time. --- Hai bapak tua Mau kemana lagi kaki melangkah? Ketika dunia sudah berubah Ketika dunia teknologi bergerak kencang layaknya kecepatan cahaya Suara berbising dimana-mana Tetapi kau ikut-ikutan berada disana Apa yang kau pikirkan?  Hai bapak tua Ketika penguasa dan teman-temannya sudah berubah Ketika pemilik senjata laras panjang mulai semakin seperti orang linglung Tetapi kau merasa ikut-ikutan harus mengatur kemana mereka melangkah Apa yang kau pikirkan?  Hai bapak tua Ketika rambut semakin memutih Ketika suara semakin serak Nafas semakin memburu dengan mudahnya Tetapi kau masih memaksakan semuanya Apa yang kau pikirkan?  Peradaban sedang berubah kencang bapak tua Apa lagi yang kau pikirkan?

Jarak ke Sumber Pangan Menentukan Jarak Kepada Sesama

Gambar
Salah satu kenyamanan yang jamak ditemukan ketika bermain ke desa atau kampung adalah keramah tamahan warganya kepada pendatang. Para pendatang ini akan dianggap sebagai tamu, kemudian diundang ke rumahnya, diajak mengopi dan sedikit cengkrama, atau bahkan makanan pun tersedia untuk tamu. Mereka seperti tak segan berbagi pengalaman hidup ke tamu yang baru dikenalnya di hari itu. Cerita ini pun sering saya lihat di novel, film, atau tayangan dokumenter televisi. Well , ada kemungkinan itu hanya pengalaman saya dan beberapa orang petualang atau traveller  yang mungkin bisa dengan mudah akrab dengan mereka. Mungkin saja tidak terjadi pada turis-turis yang tujuannya hanya mencari pelarian dari kepenatan kota, jadi kurang mempunyai kadar toleransi yang baik dalam menghadapi perbedaan budaya, pikiran, atau juga rasa. Apalagi jika mengingat jarak perbedaan antara kota dan desa itu semakin jauh di zaman sekarang. Kadar toleransi yang rendah ini juga yang membuat kehadiran guide segitu pe...

Tidak Terlalu Peduli Dengan Staf Khusus Milenial

Ada sedikit sebuah rasa syukur ketika saya mampu menahan diri tidak terlalu memberi banyak komentar mengenai problem yang dihadapi oleh staf khusus milenial Presiden, baik di sosial media, di blog ini, atau juga dalam interaksi dengan teman. Saya juga tidak terlalu mendorong rasa eksplorasi dan  judgement pribadi dengan banyak membaca kabar berita atau mencari tahu info mendalam dari kenalan. Kalau boleh dihitung, dalam beberapa bulan terakhir saya hanya sekali berinteraksi dan memberikan kritik langsung kepada salah satu staf di twitter,   retweet video sindiran para lulusan luar negeri yang kembali pulang ke dalam negeri, dan juga membaca artikel kritik yang cukup keras dari Raka Ibrahim di media Asumsi . Ada beberapa hal yang sepertinya bisa menjalankan hal ini. Yang pertama dan paling jelas, dan juga yang pernah saya ceritakan juga di blog ini , langkah awal saya untuk bisa melanjutkan program master adalah dengan lebih tajam terhadap apa yang ingin saya pelajari, ...

Lazzaro, Dalam Keluguan Hadirlah Kritik Keras dan Gelap

Gambar
Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak pernah mengeluh, selalu berpikir positif dan optimis? Lazzaro, seorang pekerja buruh tani di desa Inviolata, hidup dengan cara tersebut. Tumbuh kembang dengan tidak mengetahui identitas dan keberadaan orang tuanya, ia selalu berusaha melakukan apapun yang diminta oleh orang sekitarnya, demi kebahagiaan sekitarnya. Lazzaro selalu dibully dan diminta melalukan apapun yang diminta, tetapi senyumnya yang natural juga selalu hadir. Termasuk ketika ia diminta menggendong neneknya ke meja, atau lebih tepatnya seperti demikianlah dianggap olehnya dan 50 pekerja buruh tani lainnya, demi bisa mengikuti perjamuan pesta lamaran kecil-kecilan di suatu malam. Tetapi ia sendiri tidak menikmati minuman yang sudah habis. Film " Lazzaro Felice ", atau dikenal sebagai "Happy as Lazzaro" dalam bahasa Inggris, meletakkan penggambaran karakter Lazzaro untuk hadir di relasi sosial yang tidak seimbang dari sistem feudal hingga kapitalisme ...

Reboisasi Rambut

Sudah hampir dua bulan pandemik ini terjadi di Indonesia, begitu juga nasib rambut yang sudah kembali seperti euforia anak baru masuk kuliah. Saya belum mempunyai keyakinan kuat menuju tukang rambung, mengingat ada berapa banyak kepala yang harus dia pegang dalam sehari. Apalagi jika mengetahui progres infeksi yang masih belum bisa dikendalikan.  Beberapa teman menyarankan saya untuk mencoba memotong rambut sendiri. Ah sayang sekali, saya mempunyai pengalaman kurang enak tentang hal ini. --- Ketika masih SMP, suatu hari rambut sudah dalam keadaan sangat panjang. Hari sudah malam, mungkin sudah lewat dari jam 8, dan kota Padang bukanlah seperti Jakarta, dimana kehidupan masih berjalan hingga lewat dini hari. Dan juga kota Padang bukanlah seperti Bandung, dimana tidak ada hawa dingin untuk membuat kepala lebih sejuk, tidak perlu merasa gerah. Saya pun bergerak ke cermin di depan meja belajar. Melihat-lihat bagian ikal rambut yang memanjang, dan memikirkan apa yang bisa...

Yang Di Dalam, Yang Terlupakan

Ada tiga buah cerita. (Diambil dari buku Burung Berkicau , karangan Pater Anthony de Mello yang diterjemahkan oleh Romo A. Soenarja.) --- Seseorang tetangga melihat Nasruddin berjongkok sambil mencari sesuatu. "Apa yang sedang Anda cari, Mullah?" "Kunciku yang hilang." Dua-duanya terus berjongkok mencari kunci yang hilang itu. Sebentar kemudian tetangga itu bertanya, "Di mana kuncimu yang hilang?" "Di rumah" "Astaga! Lantas mengapa Anda mencarinya di sini?" "Karena di sini lebih terang." --- Tanya rahib : "Semua gunung dan sungai ini, bumi dan bintang-bintang - dari manakah asalnya?" Kata Guru : "Pertanyaanmu dari manakah asalnya?" --- Khotbah sang Guru pada hari itu hanya terdiri dari kalimat penuh teka-teki. Ia tersenyum lemah dan mulai berkata, "Satu-satunya yang aku kerjakan disini hanyalah duduk di pnggir sungai dan menjual air sungai." Dan khotbahnya sudah se...

Bertanggung Jawab dengan Teknologi Pengawasan yang Sedang Naik Daun

Gambar
Covid-19 memang tidak semematikan dibanding pendahulunya SARS dan MERS. Tetapi dengan tingkat penularannya yang lebih tinggi, mendorong meningkatnya perhatian dan penggunaan teknologi pengawasan. Dibalik kelebihannya untuk menelusuri dan menganalisa infeksi virus dengan berbagai variasi data dan teknologi yang digunakan oleh negara dan perusahaan, tidak bisa diabaikan juga kemanan siber dan privasi setiap individu dan organisasi yang menjadi bagian di dalamnya. Yang secara tidak langsung, bersamaan dengan masih meningkatnya krisis pandemik, keberlangsungan demokrasi pun memasuki situasi darurat. Edward Snowden, masih dengan semangat dan tujuan yang sama ketika membocorkan dokumen NSA pada tahun 2013, cukup vokal menyuarakan resiko tentang hal ini. Beberapa negara sudah dan sedang menyusun ulang perundang-undangan demi memaksimalkan kebijakan tersebut. Terhitung tulisan ini ditulis, Hungaria baru saja meloloskan RUU yang mendorong Viktor Orban, Perdana Menteri Hungaria, untuk memili...

[Copas Tulisan] Boredom is but a window to a sunny day beyond the gloom

What, exactly, is boredom? It is a deeply unpleasant state of unmet arousal: we are aroused rather than despondent, but, for one or more reasons, our arousal cannot be met or directed. These reasons can be internal – often a lack of imagination, motivation or concentration – or external, such as an absence of environmental stimuli or opportunities. We want to do something engaging, but find ourselves unable to do so and, more than that, are frustrated by the rising awareness of this inability. Awareness, or consciousness, is key, and might explain why animals, if they do get bored, generally have higher thresholds for boredom. In the words of the British writer  Colin Wilson : ‘most animals dislike boredom, but man is tormented by it’. In both man and animal, boredom is induced or exacerbated by a lack of control or freedom, which is why it is so common in children and adolescents, who, in addition to being chaperoned, lack the mind furnishings – the resources, experience and dis...