Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

(Terpaksa) Melihat Lagi Desentralisasi Sistem

Sudah banyak tulisan di internet yang menggambarkan apa yang kemungkinan besar bakal terjadi setelah momen pandemik ini lewat. Tulisan yang paling viral sepertinya adalah tulisan dari Yuval Noah Harari, yang lebih dikenal karena bukunya yang berjudul " Sapiens " dan " Homo Deus ". Ada satu hal yang pasti akan mengalami perubahan dari Indonesia setelah melewati pandemik ini. Para kepala daerah, atau minimal masyarakat di daerah, akan memperhatikan kembali relasi antara mereka dengan pemerintah. Sentralisasi sistem yang selama ini kerap diputuskan di Jakarta, meski sempat mengalami perubahan di setelah krisis 1998 dan turunnya Soeharto, akan kembali menemui dimana posisi yang seharusnyanya dalam menggerakan negara dan masyarakat. Pertanyaan ini sering kali menguak hanya di lingkaran orang-orang yang berada atau peduli dengan isu Papua Barat, Aceh, atau sengketa agraria. Tetapi, lewat pandemik Covid-19 ini, konflik antara daerah dengan pusat, justru dimulai dari d...

Kepemimpinan di Masa Sulit

Berdasarkan tulisan Warren Benis dan Robert J. Thomas di Harvard Business Review, ada 4 kemampuan penting yang akan membentuk karakter kepemimpinan seseorang, untuk mampu menghadapi momen berat. Pertama , kemampuan untuk bisa engage  dengan banyak orang dalam makna yang bisa dipahami secara bersama. Ketika krisis terjadi, ada banyak pandangan yang muncul, dan di antara mereka akan saling bertabrakan. Kempuan mencari dan menemukan titik bersama ini akan penting di awal dan ke depannya. Kedua , suara yang kuat dan menarik banyak orang untuk mendengar. Situasi choas , banyak suara yang menguak dalam suatu ruang publik (atau juga personal). Di dalam situasi dan kondisi tersebut, dibutuhkan kemampuan memaksakan diri untuk mengambil posisi titik tengah akan menjadi krusial. Ketiga , rasa integritas (termasuk sekelompok nilai yang kuat). Meskipun mempunyai suara yang kuat dan mampu mengambil titik tengah, tetapi jika tidak dijaga konsistensi yang kuat, langkah awal akan menjadi sia...

Self Quarantine dan Amarah

Sudah hampir sebulan kondisi krisis pandemik ini dinyatakan oleh pemerintah. Dan lebih dari sebulan juga saya mencoba bertenang dan melakukan hal-hal yang sudah seharusnya saya lakukan dan nikmati. Beberapa hal sudah saya coba uraikan dalam beberapa postingan. Tetapi ada suatu hal yang saya tak menyangka akan sering muncul akhir-akhir ini, yaitu amarah. Apakah pemicu awalnya dari kelambanan pemerintah negara ini? Mungkin iya, mungkin tidak. Mungkin iya karena kasus kekacauan disiinformasi dan koordinasi mengenai status pasien di Cianjur sangat memicu amarah saya. Tapi sepertinya saya udah mengatur ekspektasi saya dengan cukup baik mengenai pemerintah, membaca kondisi pandemik secara global secara tidak berlebihan, mencoba melihat, menganalisa, dan memaknakannya secara luas, mengatur jarak dan frekuensi bermain sosial media, dan mengatur frekuensi sikap kritis atas semua isu publik. Sejauh ini, proses disiplin diri cukup berjalan baik, walau kurang lancar, tetapi rasanya tidak masal...

Dunia yang Tak Mengenal Sepak Bola dan Beckham

Gambar
Ketika kontemplasi dan menuliskan bagian ke dua dari  "Bapak Tua Idealis dan Penjelajah" . Rasanya, ini salah satu film dokumenter terbaik yang pernah ditonton, saya menjadi teringat film dokumenter dengan David Beckham sebagai tokoh utama. Film yang berjudul David Beckham : Into The Unknown , ditayangkan pertama kali di tahun 2014 dan oleh BBC. Kompas TV mengambil hak siarnya, yang kemudian ditayangkan kepada para penonton yang masih belum tidur di kala tengah malam akhir minggu tiba. Dan saya lah salah satu penontonnya. Sewaktu film ini akan diproduksi, meskipun sudah pensiun, Becks berpikir tentang personalitas dan pengalamannya yang sangat mengakar kuat di sepak dunia bola. Tentu dunia tersebut yang mengembangkannya selama berpuluh tahun. Tetapi faktor ini juga yang membuat ia merasa tak memahami banyak hal di luar dunianya. Kehadiran orang-orang yang hanya dekat dengan Becks karena sesuatu hal yang ingin mereka dapatkan dari dirinya, mempersulit memahaminya. Dengan dor...

Bapak Tua Idealis dan Penjelajah (2)

Hari sudah melewati senja, tetapi gelombang laut semakin tak beraturan. Mungkin perubahan temperatur eksternal dari senja menuju malam mengubahnya menjadi lebih ganas. Tidak ada lagi tawa riang gembira dan pandangan kagum dari turis karena melihat keindahan alam kepulauan Sunda Kecil. Beberapa penumpang kapal sudah tidak tahan lagi untuk menahan muntah. Terlihat di beberapa antara mereka yang sudah bolak-balik menuju kamar mandi. Kalaupun yang bisa bertahan menahan gejolak perut, lebih baik tidur seperti teman saya yang sudah terlelap sejak awal perjalanan. Alam menunjukkan kelasnya untuk yang bersikap sombong. Karena sedang menghadapi dua gejolak alam secara sekaligus, gunung di Banyuwangi yang meletus dan gelombang laut yang sedang ganas, sepertinya para turis tersebut akhirnya suatu hal, bahwa terkadang keindahan itu mematikan. Terutama mungkin untuk segerombolan bule yang terpaksa ikut mengisi kapal ini hingga hampir sesak. Saya rasa ekspektasi mayoritas dari mereka ketika ma...

Respon Cina dan Hong Kong terhadap Virus Corona oleh Gary Liu

Jika yang membaca blog ini belum tahu, dalam seminggu terhitung dimulai dari tanggal 23 Maret, TED , platform untuk orang-orang saling berbagi dan mendengarkan ide atau pandangan, membuat program diskusi harian yang bisa diakses secara live streaming . Program ini tentu saja berkaitan dengan pandemik Corona, sehingga diberi judul TED Connects : Community and Hope . Untuk waktu Indonesia bagian barat, live streaming dimulai sekitar jam 11 malam. Jika sekiranya butuh pengingat melalui  email , silahkan diklik tombol "Get TED Connects Reminder" pada hyperlink di atas. Kemarin malam, Gary Liu , CEO dari South China Morning Post , mempunyai kesempatan untuk bercerita mengenai perkembangan pandemik Corona sejak pertama kali merebak di Cina, terutama Wuhan, dan dampak kepada sektor publik lainnya. Ada beberapa poin yang menjadi catatan dari paparan Gary. 1 . Pemerintah Cina sempat menghambat arus informasi mengenai penyebaran virus. Ketika pertama kali peringatan diberitah...

Mr. Blue Sky

Sepertinya sesekali memposting lirik lagu terlihat boleh juga. Asal liriknya tidak copy-paste,  tapi ditulis ulang, tidak apa lah ya. --- [Verse 1] The sun is shining in the sky There ain't a cloud in sight It's stopped raining, everybody's in the play  And don't you know, it's a beautiful new day,  hey Running down the Avenue See how the sun shines brightly In the city, on the streets where once was pity  Mr. Blue Sky is living here today, hey [Chorus] Mr. Blue Sky, please tell us why  You had to hide away for so long (so long) Where did we go wrong?  Mr. Blue Sky, please tell us why  You had to hide away for so long (so long)  Where did we go wrong? [Verse 2] Hey, you with the pretty face Welcome to the human race A celebration, Mr. Blue Sky's up there waiting And today is the day we've waited for [Chorus] Mr. Blue Sky, please tell us why  You had to hide away for so long (so long) Where did we go wrong?  ...

Air Mengalir

Sudah hampir 2 minggu saya lebih sering di rumah, atau bahkan di kamar. Tidak hanya disebabkan karena tidak ada tuntutan mendesak harus keluar rumah -- akan official resign dari perkejaan sebelumnya di tanggal 1 April dan kegiatan komunitas dihentikan --, tetapi juga saat ini saya sedang mengambil langkah mundur untuk meresapi semua hal. Momen yang sangat pas dengan merebaknya pandemik Corona. Rutininitas harian saya saat ini yang syukurnya sudah bisa dilakukan adalah belajar bahasa Esperanto, menulis blog, dan  workout  setiap hari. Kegiatan yang masih sering bolong yang tidak sesuai harapan frekuensinya adalah bangun tidur dini hari, menonton film, online course , kembali belajar bahasa Inggris untuk persiapan program master, membaca buku, serta memberi fokus lebih untuk menata ulang spiritual. Meski begitu, saya berusaha tidak terlalu keras ke diri sendiri, sehingga dengan lebih mudah meresapi semua yang sedang atau akan dilakukan. Mencoba bergerak seperti air yang ...

Realitas yang Terlewatkan

Giorgio Chiellini, kapten tim sepak bola Juventus dan berkewarganegaraan Italia, beberapa hari lalu berbicara tentang Covid-19 kepada Webathon.it , yang diterjemahkan oleh media online Football Italia . Dalam dunia sepakbola yang semakin cepat, Chiellini berpikir terkadang sedang kehilangan realitas, di dalam dunianya yang berharga. Dan Covid-19 mengubah waktu yang sedang kosong untuk dihabiskan lebih banyak dengan putrinya. " Our world is golden and sometimes you lose touch with reality. Now I'm in isolation on my own and can't wait to pass time with my daughters. " Chiello, panggilan populernya oleh fans Juventus, pun menambahkan, " We are active, compliments of initiative. We are all locked in the house and we try to ease the time for many people without forgetting to help the health system that is experiencing a difficult moment and needs us. This is a challenge that we must overcome together, there is no loyalty to one team or another. I'm a person w...

Filipina vs Argentina, FIBA WC 2014 : Was He Jimmy Alapag?

Gambar
Siaran olahraga memang untuk sementara waktu ditiadakan, tetapi sepertinya ada tontonan yang tidak kalah seru. Yaitu, menonton pertandingan yang sudah ditandingkan. Hari ini, beranda youtube saya merekomendasikan pertandingan FIBA World Cup 2014, antara Filipina vs Argentina, di pertandingan fase grup B. Kebetulan, tidak seperti sepak bola dan bulutangkis, dahulu saya tidak mengikuti setiap saat perkembangan tentang basket. Sekarangpun juga begitu sebenarnya, masih cenderung lebih memahami perkembangan sepak bola dan bulutangkis beserta analisa dan cerita di belakangnya. Tetapi sejak perkembangan IBL mulai menarik perhatian dan transformasi basket yang banyak berubah karena keahlian tembakan 3 poin   Stephen Curry menginspirasi banyak pemain dan pola offense , ada dorongan untuk memahami dunia basket sedikit lebih dalam. Kuarter pertama dimulai dengan dominasi Filipina. Andrey Blatche, pemain Filipina berketurunan Amerika Serikat, membuka skor dengan bank shoot-...

Musim Pandemik = Musim Mengubah Kebiasaan

Hari Sabtu, jam 9.39, tanggal 21 Maret 2020, sambil mendengarkan  Spotify sedang memutar playlist Chilled Jazz  dan segelas teh jahe di sebelah laptop, saya memulai lagi menulis postingan blog di hari ini. Biasanya di pagi ini, saya sedang sedikit bersantai, entah melanjutan membaca buku, menonton film atau NBA, atau juga sedikit stretching . Lewat jam 12 siang, kalau misalnya jalanan lagi tidak begitu terganggu karena proyek jalan layang pemerintah, saya sudah akan bersiap-siap main futsal dengan JCI Chapter Bandung  di kawasan Antapani dan bermain hingga sekitar jam 4. Itu sudah termasuk pendinginan dan ngobrol santai sambil ketawa-tawa. Lewat lagi dari magrib, posisi badan akan berada di Cimbeluit, karena keringatnya butuh dikeluarkan lagi untuk main basket dengan Kaskus Basketball Bandung . Di antara kegiatan bersebut atau setelah pulang ke rumah, menonton bola atau basket akan jadi bagian rutinitas akhir minggu. Tapi semua berubah sejak negara api menyerang. Eh b...

Budaya Inovasi Beserta Tetek Bengeknya

Salah satu artikel dari Harvard Business Review  yang berjudul "Stop Calling It Innovation" cukup membuat saya berpikir sedikit dalam. Secara personal, saya pribadi adalah seseorang yang senang mengeksplorasi hal-hal baru (hal yang mendorong saya menulis di blog tiap hari juga), sehingga acara, artikel, youtube's chanel , atau dokumenter yang berhubungan dengan inovasi biasanya akan menarik perhatian saya dengan mudah. Tayangan yang biasanya saya tonton adalah DW Inovator dan Big Circle  di Metro TV, serta tak terhitung jumlahnya dokumenter dari NatGeo. Bahkan, dulu sekitar tahun 2015-16, saya sering terpikirkan ide baru dan menuliskannya dalam dokumen excel . Tetapi artikel tersebut, yang ditulis oleh Nadya Zhexembayeva , yang sebenarnya mempunyai latar belakang sebagai pendiri konsultan untuk membantu perusahaan berinovasi, sebuah kata "inovasi" saja akan menimbulkan masalah. Respon yang akan sering muncul adalah keluhan akan bertambahnya tanggung jawab yang...

[Copas Tulisan] Kahlil Gibran on Silence, Solitude, and the Courage to Know Yourself

"In much of your talking, thinking is half murdered. For thought is a bird of space, that in a cage of words may indeed unfold its wings but cannot fly." Something strange and wondrous begins to happen when one spends stretches of time in solitude, in the company of trees, far from the bustle of the human world with its echo chamber of judgments and opinions --- a kind of rerooting in one's deepest self-knowledge, a relearning of how to simply be oneself, one's most authentic self. Wendell Berry knew this when he observed that "true solitude is found in the wild place, where one is without human obligation" --- the places where "one's inner voices become audible." But that inner, I have found, exists in counterpoise to the outer voice --- the more we are tasked with speaking, with orienting lip and ear to the world without, the more difficult it becomes to hear the hum of the world within and feel its magmatic churns of self-knowledge, ...

Sopir Angkot, Anjing Mati, dan Anak Kecil Ketabrak

Kemarin hari saya mempunyai obrolan yang cukup nyambung dengan supir angkot Caheum-Ledeng. Saya sedang dalam perjalanan dari Setiabudi menuju daerah Pelisiran, setelah malam sebelumnya menginap di rumah kenalan selama berorganisasi dulu yang cukup dekat, untuk bertemu teman kuliah selama seharian penuh. Ketika naik, saya adalah satu-satunya penumpang dalam angkot tersebut dan duduk di kursi depan. Sedang bersantai mendengarkan lagu di Spotify , sopir angkot ini tiba-tiba menyeletuk, "Ada orang minta tolong dibawain anjing mati ke rumah sakit." "Oh ya kang?" Saya sepertinya lagi sedang ingin bebas ngobrol dengan siapapun dan tentang apapun. "Iya. Saya langsung ragu, soalnya takut bau nanti angkotnya. Ini baru pagi, enggak sempat buat bersih-bersih." "Tapi orangnya mau bayar lebih kang? Atau ongkosnya segitu-gitu aja?" Lagu sudah dimatikan dan headset pun dilepas. "Enggak tau juga, orangnya enggak ngomong mau bayar berapa. Cuma saya udah...

Don't Quit

by Edgar A. Guest When things go wrong as they sometimes will, When the road you're trudging seems all up hill, When the funds are low and the debts are high And you want to smile, but you have to sigh, When care is pressing you down a bit, Rest if you must, but don't you quit.  Life is queer with its twists and turns, As every one of us sometimes learns, And many a failure turns about When he might have won had he stuck it out; Don't give up though the pace seems slow-- You may succeed with another blow. Often the goal is nearer than, It seems to a faint and faltering man, Often the struggler has given up, When he might have captured the victor's cup, And he learned too late when the night slipped down, How close he was to the golden crown. Success is failure turned inside out-- The silver tint of the clouds of doubt, And you never can tell how close you are, It may be near when it seems so far; So stick to the fight when you're hardest ...

Aing Mau Ngomel Corona Deui

Gambar
Mendorong kebiasaan menulis satu blog per hari ini sepertinya agak sedikit menjadi bumerang. Bukan disebabkan bingung mau menuliskan apa, karena itu adalah hal biasa yang akan terjadi. Tetapi keadaan krisis virus Corona akhir-akhir ini dan respon pemerintah Indonesia cukup menyita perhatian. Tempo hari adalah hari dimana saya tiap sebentar membuka twitter , berita online, atau juga tulisan terkait atau yang penting dibaca. Saking seringnya, ketika mengecek aplikasi screen time pada sekitar jam 4 sore, saya sudah membuka twitter  hampir 4 jam kemarin. Belum terhitung dari jam lainnya untuk membaca artikel atau menonton video. Kekacauan akibat penanganan Corona di Indonesia cukup membuat saya muak. Beruntung, final All England berhasil menarik perhatian saya, seenggaknya sejam setengah jam sebelum dimulai. Hal pertama yang mengganggu adalah tiada langkah kongkrit yang benar dari pemerintah pusat hingga saat ini. Meskipun memaksa alur informasi dan kebijakan harus dari p...

Bapak Tua Idealis dan Penjelajah (1)

Di dalam postingan beberapa hari lalu saya menyebutkan tentang pengalaman saya ngobrol panjang lebar dengan seorang bapak yang baru saja dikenal di atas kapal, dalam perjalanan dari Labuan Bajo ke pelabuhan Sape. Posisi saya sedang duduk di atas kursi yang mengitari meja lingkaran, memikirkan banyak hal sambil menahan rasa sakit di kepala akibat tidak bisa tertidur, tidak seperti teman saya yang gampang langsung tertidur di sebelah saya di atas lantai. Ketika sedang melamun, seorang bapak bersama temannya muncul, (*kurang lebih percakapannya seperti ini, jika tidak salah ingat.) "Mas, boleh duduk di kursi ini?" Situasi dan kondisi memang lagi sedikit sulit akibat meletusnya gunung berapi di Banyuwangi, sehingga  space  kosong saja menjadi rebutan di antara penumpang yang lumayan banyak. "Ohya, silahkan pak, memang kursi itu kosong." "Terimakasih. Itu temannya kenapa?" "Sedang istirahat saja pak. Kebetulan memang badannya agak sedikit kurang bai...

Persiapan Master Degree : Berpikir Fokus

Melihat yang sedang dialami sedikit pelik akhir-akhir ini, sepertinya langkah realistis ke depannya adalah serius untuk mengambil program master. Ada banyak alasan tentang hal ini, yaitu dimulai dengan sepertinya badan ini sudah terlampau lama di bandung, tetapi pikiran bergerak ke daerah-daerah lain atau belajar di luar negeri. Kemudian lagi pemikiran bahwa sudah cukup dengan semua yang sudah dilakukan untuk pekerjaan, berkomunitas, dan relationship  selama ini, dan juga perasaan untuk melangkah lebih jauh lagi. Sial beribu sial, kesalahan saya selama ini yang tidak dengan serius mengurus IELTS atau TOEFL membuat keadaan repot. Sehingga ketika berdiskusi dengan konsultan pendidikan dari lembaga yang sepertinya sudah lumayan dikenal di Indonesia, ditambah GPA yang tidak terlalu bagus selama berkuliah dan periodisasi pendaftaran kuliah dan beasiswa yang semakin sempit, beliau menyarankan untuk sedikit realistis bahwa kemungkinan besar tidak akan berkuliah di tahun ini. Well, defin...

Babak Baru Covid-19 di Indonesia

Perkembangan virus Corona sudah memasuki pertengahan bulan Maret. Event sudah banyak yang dibatalkan, baik itu konser musik, turnamen olahraga, dan lain-lainnya. Komite Olimpiade semakin mempertimbangkan untuk membatalkan event yang akan diadakan di tengah tahun ini. Dari 118 negara di dunia, 114 sudah diidentifikasi mempunyai kasus Covid-19. Atas kondisi demikian, WHO sudah memberikan statement ke publik dunia, bahwa penyebaran Covid-19 sudah tergolong sebagai pademik. Pertanyaan selanjutnya, what next? Di beberapa data yang sudah diupdate dari berbagai sumber, terlihat China sudah mengalami perlambatan, dan bahkan penurunan, dengan beberapa orang dinyatakan telah sembuh dari virus Corona. Yang menjadi persoalan adalah penanganan di luar China, ledakan lanjutan sepertinya sudah terjadi. Di Eropa, Italia dan Prancis sudah mengalami angka ribuan kasus. Di Italia dan Iran, beberapa tenaga kesehatan sudah bercerita sangat kelelahan dengan penanganan ledakan pademik ini lewat kolom s...

Penyesalan di Atas Laut

Gambar
Dua hari lalu saya menonton video lanjutan Watchdoc Documentary dalam perjalanan mereka mengelilingi Indonesia, yang dinamai Ekspedisi Indonesia Biru. Video yang saya tonton kali itu adalah tentang pengalaman mereka merayakan Idul Fitri di tengah perjalanan kapal dari Merauke Kepulauan Morotai, jauh dari keluarga dan kampung halaman. Watchdoc, yang dipimpin Dandhy Laksono, dikenal sebagai produsen film dokumenter perjuangan kaum tertindas dari ketimpangan kuasa, tetapi bagi saya, video berdurasi pendek seperti ini sama pentingnya. Selama menonton video ini saya jadi teringat momen perjalanan pribadi, pada sekitar tahun 2015. Ada sedikit kesamaan situasi dengan perjalanan Dandhy Laksono, dimana saat itu berdekatan hari lebaran. Setelah berada di pedalaman flores hampir sebulan, tanggal di kalender mendekati hari lebaran. Di awal ketika datang ke pedalaman saya , saya beberapa kali mengutarakan ke teman yang juga satu tim proyek bahwa besar kemungkinan untuk merayakan lebaran d...

Harga untuk Mitigasi

Gambar
Hari ini saya bakal mendatangi diskusi santai yang dengan pihak terkait mengenai mitigasi bencana. Andaikan masih ada yang belum familiar dengan isitilah ini, mitigasi bencana adalah bentuk manajemen kesiapsiagaan dari semua pihak dalam menghadapi kebencanaan di area terkait, baik sebelum bencana maupun sesudahnya. Well , itu pemaknaan dari saya pribadi sih, sebagai orang yang pernah beberapa kali mengalami bencana alam. Sepertinya arti mitigasi bencana KBBI, para peneliti, atau juga bahkan stakeholder  akan beda lagi. Tapi saya rasa tidak akan jauh-jauh dari "kesiapsiagaan". https://www.instagram.com/p/B9gIjTYFo1z/ Saya diajak ke mengunjungi diskusi ini oleh pihak yang mengadakan acara ini, yaitu Bandung Mitigasi Hub (BMH). Selain diajak untuk memahami lebih jauh seperti apa perkembangan dari mitigasi bencana, minimal dari sudut pandang peneliti dan pengambill kebiajakan, kehadiran saya diekspektasikan untuk akan memberikan perspektif teknologi IT dan ketenagalistrika...

[Resensi Buku] Teh dan Pengkhianat : Area Abu-Abu dalam Penjajahan

Buku Teh dan Pengkhianat adalah kumpulan cerpen tentang sudut pandang orang Belanda mengenai penjajahan mereka di Hindia Belanda, yang dikarang oleh Iksaka Banu. Dengan menggunakan sudut pandang tersebut, ada Banu berusaha bercerita bahwa meskipun penjajahan Belanda adalah sesuatu yang salah, tetapi ada banyak hal yang harus juga harus diperhatikan, sehingga penjajahan tidak bisa dinilai sebagai hitam dan putih. Dalam buku ini, ada beberapa cerpen yang cukup menarik untuk dibahas lebih jauh. Cerpen pertama bercerita mengenai sudut pandang salah satu relawan dari VOC yang menyaksikan langsung proses genosida yang dialami warga pulau Banda pada tahun 1621. Dalam sejarah dunia nyata, pembataian penghuni warga pulau Banda didorong oleh Gubernur Jenderal JP Coen. Dorongan tersebut datang dari dua hal yaitu balas dendam dari masa lalu dan hasrat VOC untuk menguasai rempah-rempah yang nilai jualnya sangat tinggi pada masa itu. Dalam cerpen fiksi ini, seorang mantan juru tulis mempunyai mis...